Hari Perdamaian Internasional, OIC Youth Indonesia Dorong Solidaritas Lintas Bangsa
Senin, 22 September 2025 - 19:20 WIB
loading...
A
A
A
“Kita dapat belajar dari pascaperang di Karabakh, di mana Azerbaijan menunjukkan langkah-langkah rekonsiliasi dan pemulihan yang patut dijadikan contoh dalam resolusi konflik. Permasalahan ini bukan hanya berdampak pada negara atau wilayah tertentu, tetapi juga pada stabilitas global dan masa depan generasi muda. Karena itu, solidaritas lintas bangsa adalah kunci untuk memperjuangkan keadilan dan perdamaian yang sejati,” ujarnya.
Baca juga: Proposal Perundingan Prabowo Dinilai Langkah Maju Diplomasi RI Tengahi Konflik Ukraina-Rusia
Dalam memahami dan mencari solusi, penting bagi semua pihak untuk merujuk pada sejarah, budaya, serta kesepakatan dan perjanjian yang telah ada, baik melalui PBB, OKI, peran contact groups, maupun forum multilateral lain, sebagai acuan upaya penyelesaian. Namun sebagai nonstate actor, peran pemuda jauh lebih luas selama berada dalam koridor yang tepat.
“Kita memiliki amanat dari UUD 1945 serta Undang-Undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri untuk aktif berkontribusi. Artinya, diplomasi pemuda tidak hanya sah, tetapi juga strategis dalam memperkuat solidaritas lintas bangsa demi keadilan dan perdamaian sejati,” ucapnya.
Wakil Presiden OIC Youth Indonesia Yanju Sahara menekankan pentingnya peran pemuda. Perdamaian tidak cukup sekadar menghentikan perang, tetapi harus menciptakan keadilan sosial serta menghapus struktur dan budaya yang melanggengkan kekerasan
“Penting kiranya di era disrupsi ini, pemuda tetap mengedepankan critical thinking. Yaitu tetap mengasah kemampuan untuk menelaah narasi, kebijakan, dan teori internasional secara rasional, reflektif, dan terbuka terhadap perspektif berbeda,” jelasnya.
Baca juga: Proposal Perundingan Prabowo Dinilai Langkah Maju Diplomasi RI Tengahi Konflik Ukraina-Rusia
Dalam memahami dan mencari solusi, penting bagi semua pihak untuk merujuk pada sejarah, budaya, serta kesepakatan dan perjanjian yang telah ada, baik melalui PBB, OKI, peran contact groups, maupun forum multilateral lain, sebagai acuan upaya penyelesaian. Namun sebagai nonstate actor, peran pemuda jauh lebih luas selama berada dalam koridor yang tepat.
“Kita memiliki amanat dari UUD 1945 serta Undang-Undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri untuk aktif berkontribusi. Artinya, diplomasi pemuda tidak hanya sah, tetapi juga strategis dalam memperkuat solidaritas lintas bangsa demi keadilan dan perdamaian sejati,” ucapnya.
Wakil Presiden OIC Youth Indonesia Yanju Sahara menekankan pentingnya peran pemuda. Perdamaian tidak cukup sekadar menghentikan perang, tetapi harus menciptakan keadilan sosial serta menghapus struktur dan budaya yang melanggengkan kekerasan
“Penting kiranya di era disrupsi ini, pemuda tetap mengedepankan critical thinking. Yaitu tetap mengasah kemampuan untuk menelaah narasi, kebijakan, dan teori internasional secara rasional, reflektif, dan terbuka terhadap perspektif berbeda,” jelasnya.
Lihat Juga :