Gulai Tunjang Menyambut Musim Gugur di Heidiland
Senin, 22 September 2025 - 11:52 WIB
loading...
Persekutuan Kristen Indonesia (PERKI) menggelar Colourful Indonesia yang berlangsung meriah di gedung serba guna Kota Wintertur, Swiss pada Sabtu (20/9/2025). Foto/Khrisna Dhianta
A
A
A
WINTERTUR - Musim gugur hampir tiba di Eropa. Tidak terkecuali di Swiss. Namun kehangatan musim panas masih tersisa di Wintertur, Swiss. Bahkan, makin terasa meriah, ketika Persekutuan Kristen Indonesia (PERKI) menggelar Colourful Indonesia di gedung serba guna kota itu, Sabtu (20/9/2025).
![Gulai Tunjang Menyambut Musim Gugur di Heidiland]()
Seperti ingin menutup musim panas dengan kehangatan Indonesia, sejak selepas siang, hingga senja mulai tiba, gedung serba guna itu menjelma menjadi little indonesia.
Baca juga: Cerpen Franz Kafka Diterjemahkan dalam 13 Bahasa Daerah di Indonesia
Dipanggung, ada tari Ratoh Jaroe dari Aceh. Dari Bumi Papua, menggema Yamko Rambe Yamko. Ujung utara Nusantara, memendar tarian Malluyah, dan Jawa tampil dengan wayang kulitnya.
Di beranda gedung itu, tersaji kuliner Indonesia. Dari cendol hingga bakso, dari nasi gudeg hingga rendang dan gulai tunjang. Kopi, baik tubruk maupun selera internasional, juga ada disana.
Menyajikan Little Indonesia di manca negara, bukan hal mudah. Namun, di tengah kesibukan khas heidiland, semua kendala itu bisa diatasi.
Baca juga: Ada Ayam Geprek dalam Kemeriahan Pesta 17 Agustus di Swiss
"Kami menyiapkannya sejak Januari silam,“ kata Joice Siahaan, ketua panitia. Tanpa persiapan yang seksama, imbuh Joice, pihaknya akan keteteran.
PERKI, lembaga tempat Joice bergabung, terkenal mumpuni menyelenggarakan kegiatan kolosal cukup sempurna. Kegiatan sejenis di tahun sebelumnya, juga berlangsung mulus.
"Yang cukup sulit mungkin mengatur latihan para penampil. Swiss yang super sibuk, harus pintar bagi waktu kapan latihannya,“ kata Joice.
Colourful Indonesia dikunjungi 300 orang. Jumlah ini, untuk ukuran Swiss, sebuah perhelatan yang besar. "Saya akui, mereka memang sudah pawai untuk kegiatan kolosal,“ ujar Linggawati Hakim, mantan Dubes RI untuk Swiss dan Liechtenstein.
Joice bersama timnya, tidak hanya menampilkan seniman Indonesia yang menetap di Swiss. Tapi juga ada yang diimpor dari Belanda dan Perancis. Trio Manik sebuah band bernuansa Batak, beberapa personilnya datang dari Amsterdam. Penjual kain batik, juga datang dari Paris. Penari Ratoh Jaroe didatangkan dari Alsace, Perancis.
Kebaya, yang kini sudah diakui Unesco sebagai warisan bukan benda, menggelar stand khusus. Kain indah warna warni dipajang disana. „Juga ada peragaan busana kebaya yang kami tampilkan,“ kata Christiana Streiff, Ketua Perempuan Berkebaya Eropa. Ulos batik dari tanah Batak, juga tersedia. Angklung, kali ini diwakili grup angklung dari Zurich, tak kalah mempesonanya. Bali mewakilkan tari Oleg Tambulilingan.
Jika tidak ada aral melintang, maka tahun depan digelar acara serupa kembali di Swiss.
%20menggelar%20Colourful%20Indonesia%20di%20Gedung%20Serba%20Guna%20Kota%20Wintertur%2C%20Swis%2C.jpg)
Seperti ingin menutup musim panas dengan kehangatan Indonesia, sejak selepas siang, hingga senja mulai tiba, gedung serba guna itu menjelma menjadi little indonesia.
Baca juga: Cerpen Franz Kafka Diterjemahkan dalam 13 Bahasa Daerah di Indonesia
Dipanggung, ada tari Ratoh Jaroe dari Aceh. Dari Bumi Papua, menggema Yamko Rambe Yamko. Ujung utara Nusantara, memendar tarian Malluyah, dan Jawa tampil dengan wayang kulitnya.
Di beranda gedung itu, tersaji kuliner Indonesia. Dari cendol hingga bakso, dari nasi gudeg hingga rendang dan gulai tunjang. Kopi, baik tubruk maupun selera internasional, juga ada disana.
Menyajikan Little Indonesia di manca negara, bukan hal mudah. Namun, di tengah kesibukan khas heidiland, semua kendala itu bisa diatasi.
Baca juga: Ada Ayam Geprek dalam Kemeriahan Pesta 17 Agustus di Swiss
"Kami menyiapkannya sejak Januari silam,“ kata Joice Siahaan, ketua panitia. Tanpa persiapan yang seksama, imbuh Joice, pihaknya akan keteteran.
PERKI, lembaga tempat Joice bergabung, terkenal mumpuni menyelenggarakan kegiatan kolosal cukup sempurna. Kegiatan sejenis di tahun sebelumnya, juga berlangsung mulus.
"Yang cukup sulit mungkin mengatur latihan para penampil. Swiss yang super sibuk, harus pintar bagi waktu kapan latihannya,“ kata Joice.
Colourful Indonesia dikunjungi 300 orang. Jumlah ini, untuk ukuran Swiss, sebuah perhelatan yang besar. "Saya akui, mereka memang sudah pawai untuk kegiatan kolosal,“ ujar Linggawati Hakim, mantan Dubes RI untuk Swiss dan Liechtenstein.
Joice bersama timnya, tidak hanya menampilkan seniman Indonesia yang menetap di Swiss. Tapi juga ada yang diimpor dari Belanda dan Perancis. Trio Manik sebuah band bernuansa Batak, beberapa personilnya datang dari Amsterdam. Penjual kain batik, juga datang dari Paris. Penari Ratoh Jaroe didatangkan dari Alsace, Perancis.
Kebaya, yang kini sudah diakui Unesco sebagai warisan bukan benda, menggelar stand khusus. Kain indah warna warni dipajang disana. „Juga ada peragaan busana kebaya yang kami tampilkan,“ kata Christiana Streiff, Ketua Perempuan Berkebaya Eropa. Ulos batik dari tanah Batak, juga tersedia. Angklung, kali ini diwakili grup angklung dari Zurich, tak kalah mempesonanya. Bali mewakilkan tari Oleg Tambulilingan.
Jika tidak ada aral melintang, maka tahun depan digelar acara serupa kembali di Swiss.
(shf)
Lihat Juga :