Aspertina: Solidaritas Antar Etnik Efektif Tangkal Upaya Pemecahbelahan Bangsa
Minggu, 14 September 2025 - 20:09 WIB
loading...
A
A
A
“Yap Thiam Hien adalah tokoh komunitas Tionghoa dan aktivis pembela Hak Asasi Manusia (HAM) yang mendirikan Lembaga Pembela Hak Asasi Manusia di Indonesia,” kata Didi. Namanya diabadikan sebagai nama dari penghargaan bagi pejuang HAM yaitu Yap Thiam Hien Award.
Peneliti Pascadoktor Monash University, Australia Ravando Lie membawa kembali ingatan publik pada kiprah Sinpo, media milik komunitas Tionghoa yang turut berkiprah menyampaikan pandangan-pandangan kritis terhadap pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1920-an hingga 1930-an.
Pada tahun itu, Dirk Fock yang menjabat Gubernur Jenderal Hindia Belanda antara 1921 dan 1926 memerintah dengan tangan besi dan mengeluarkan berbagai aturan yang mengekang kebebasan berekspresi serta dianggap berupaya menciptakan kesenjangan antara kaum Eropa dan non-Eropa.
Dalam konteks itulah, Sinpo mengkritik pemerintah kolonial antara lain mengkritisi sistem pengadilan mereka yang memberatkan bagi Tionghoa dan golongan Bumiputera. “Sinpo menerbitkan editorial tentang perjuangan tokoh-tokoh bangsa Indonesia antara lain Soekarno,” ujarnya.
Yang mengagumkan, menurut alumni jurusan sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM) itu, ketika banyak media menolak tawaran Wage Rudolf Supratman untuk menerbitkan lagu gubahannya, Indonesia Raya, yang menjadi Lagu Kebangsaan RI, Sinpo justru berani menerbitkannya meski risiko menerbitkan lagu tersebut saat itu sangat besar.
Sementara, Daniel Winarta, anak muda Tionghoa yang bergabung dalam Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta sebagai asisten pengacara publik berpandangan bahwa generasi muda menghadapi banyak tantangan dalam kiprah aktivisme mereka. “Pertama, kita menanggung beban sejarah yang telah ada sebelum kita lahir,” kata lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia itu. “Selama kebenaran belum terungkap, kita akan tetap mengalami diskriminasi,” ungkapnya.
Dia menuturkan terdapat juga tantangan internal dalam komunitas Tionghoa yaitu ketakutan dari kalangan generasi tua yang berujung pada larangan kepada anak-anak mereka untuk ikut serta dalam aktivisme.
Selain itu, risiko yang dihadapi pemuda dan pemudi Tionghoa ketika mengekspresikan pandangannya cenderung lebih tinggi dibandingkan risiko yang dihadapi oleh kelompok masyarakat yang lain. “Bahkan, untuk turut melakukan klik pun lebih berisiko,” kata Daniel.
Peneliti Pascadoktor Monash University, Australia Ravando Lie membawa kembali ingatan publik pada kiprah Sinpo, media milik komunitas Tionghoa yang turut berkiprah menyampaikan pandangan-pandangan kritis terhadap pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1920-an hingga 1930-an.
Pada tahun itu, Dirk Fock yang menjabat Gubernur Jenderal Hindia Belanda antara 1921 dan 1926 memerintah dengan tangan besi dan mengeluarkan berbagai aturan yang mengekang kebebasan berekspresi serta dianggap berupaya menciptakan kesenjangan antara kaum Eropa dan non-Eropa.
Dalam konteks itulah, Sinpo mengkritik pemerintah kolonial antara lain mengkritisi sistem pengadilan mereka yang memberatkan bagi Tionghoa dan golongan Bumiputera. “Sinpo menerbitkan editorial tentang perjuangan tokoh-tokoh bangsa Indonesia antara lain Soekarno,” ujarnya.
Yang mengagumkan, menurut alumni jurusan sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM) itu, ketika banyak media menolak tawaran Wage Rudolf Supratman untuk menerbitkan lagu gubahannya, Indonesia Raya, yang menjadi Lagu Kebangsaan RI, Sinpo justru berani menerbitkannya meski risiko menerbitkan lagu tersebut saat itu sangat besar.
Sementara, Daniel Winarta, anak muda Tionghoa yang bergabung dalam Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta sebagai asisten pengacara publik berpandangan bahwa generasi muda menghadapi banyak tantangan dalam kiprah aktivisme mereka. “Pertama, kita menanggung beban sejarah yang telah ada sebelum kita lahir,” kata lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia itu. “Selama kebenaran belum terungkap, kita akan tetap mengalami diskriminasi,” ungkapnya.
Dia menuturkan terdapat juga tantangan internal dalam komunitas Tionghoa yaitu ketakutan dari kalangan generasi tua yang berujung pada larangan kepada anak-anak mereka untuk ikut serta dalam aktivisme.
Selain itu, risiko yang dihadapi pemuda dan pemudi Tionghoa ketika mengekspresikan pandangannya cenderung lebih tinggi dibandingkan risiko yang dihadapi oleh kelompok masyarakat yang lain. “Bahkan, untuk turut melakukan klik pun lebih berisiko,” kata Daniel.
(jon)
Lihat Juga :