Jalankan Mandat Prabowo Terkait Transisi Energi, Pertamina Wujudkan Transportasi Hijau
Sabtu, 13 September 2025 - 21:00 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Prabowo: Indonesia Berpeluang Jadi Negara Pertama Nol Emisi Karbon
“Indonesia masih bergantung pada impor minyak sejak 2003. Untuk mengurangi ketergantungan tersebut sekaligus menekan emisi karbon, Pertamina berkomitmen mempercepat diversifikasi energi di sektor transportasi,” ujar Norman.
Untuk Biodiesel, program B40 resmi berjalan pada 2025, dengan dukungan kilang hijau (green refinery) yang dapat memproduksi Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) untuk melampaui kebutuhan pencampuran biodiesel. Sementara Bioavtur (SAF), uji coba SAF berbasis minyak jelantah yang telah dilakukan Pelita Air menjadi wujud nyata transisi energi di sektor transportasi melalui pemanfaatan sumber daya lokal yang ramah lingkungan.
Terkait kendaraan listrik dan baterai, melalui Indonesia Battery Corporation (IBC), Pertamina membangun ekosistem EV dan Battery Energy Storage System (BESS) dengan ambisi menjadi produsen terbesar di ASEAN. Adapun untuk Hidrogen dan e-Fuel, Pertamina tengah menyiapkan dua Stasiun Pengisian Hidrogen (HRS) di Daan Mogot pada 2026 dan Jawa Barat pada 2028, dengan kapasitas awal 200–500 kg/har
“Indonesia dianugerahi potensi energi bersih dan terbarukan yang melimpah, namun tetap ada tantangan di depan. Karena itu kita perlu bekerja sama. Transisi energi membutuhkan aksi kolektif dengan kolaborasi erat dari semua pihak,” tandas Norman Ginting.
“Indonesia masih bergantung pada impor minyak sejak 2003. Untuk mengurangi ketergantungan tersebut sekaligus menekan emisi karbon, Pertamina berkomitmen mempercepat diversifikasi energi di sektor transportasi,” ujar Norman.
Untuk Biodiesel, program B40 resmi berjalan pada 2025, dengan dukungan kilang hijau (green refinery) yang dapat memproduksi Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) untuk melampaui kebutuhan pencampuran biodiesel. Sementara Bioavtur (SAF), uji coba SAF berbasis minyak jelantah yang telah dilakukan Pelita Air menjadi wujud nyata transisi energi di sektor transportasi melalui pemanfaatan sumber daya lokal yang ramah lingkungan.
Terkait kendaraan listrik dan baterai, melalui Indonesia Battery Corporation (IBC), Pertamina membangun ekosistem EV dan Battery Energy Storage System (BESS) dengan ambisi menjadi produsen terbesar di ASEAN. Adapun untuk Hidrogen dan e-Fuel, Pertamina tengah menyiapkan dua Stasiun Pengisian Hidrogen (HRS) di Daan Mogot pada 2026 dan Jawa Barat pada 2028, dengan kapasitas awal 200–500 kg/har
“Indonesia dianugerahi potensi energi bersih dan terbarukan yang melimpah, namun tetap ada tantangan di depan. Karena itu kita perlu bekerja sama. Transisi energi membutuhkan aksi kolektif dengan kolaborasi erat dari semua pihak,” tandas Norman Ginting.
(cip)
Lihat Juga :