Jalankan Mandat Prabowo Terkait Transisi Energi, Pertamina Wujudkan Transportasi Hijau
Sabtu, 13 September 2025 - 21:00 WIB
loading...
Direktur Proyek & Operasi Pertamina NRE Norman Ginting mengatakan, PT Pertamina mendukung penuh transportasi hijau. Foto/SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Jalani mandat Presiden Prabowo Subianto , PT Pertamina berkomitmen mendukung transisi energi nasional, khususnya di sektor transportasi. Sejumlah inisiatif mulai dari pengembangan biofuel, Sustainable Aviation Fuel (SAF) hingga hidrogen hijau diharapkan mampu mengurangi emisi karbon sekaligus menjaga ketahanan energi Indonesia.
“Transisi energi harus dijalankan secara serius agar Indonesia tetap tangguh menghadapi perubahan global. Pertamina fokus tidak hanya pada energi ramah lingkungan, tetapi juga andal dan terjangkau,” ungkap Pjs. SVP Sustainability Pertamina, Indira Pratyaksa, Sabtu (13/9/2025).
Salah satu bukti konkret adalah penerbangan uji coba SAF yang dilakukan Pelita Air Service pada 20 Agustus 2025. Pesawat berhasil terbang pulang-pergi Jakarta–Bali dengan bahan bakar ramah lingkungan produksi Pertamina.
Baca juga: Swasembada Energi, Prabowo Resmikan Proyek 55 Pembangkit Energi Baru Terbarukan
“Ini bukti nyata komitmen Pertamina mendukung transportasi hijau. SAF yang kami kembangkan sudah melalui uji coba bersama mitra internasional dan terbukti mampu menurunkan emisi hingga 85% dibandingkan bahan bakar konvensional,” jelas Indira.
Pertamina menegaskan peran strategisnya dalam mendorong transisi energi di sektor transportasi melalui pengembangan biofuel, bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF), hingga hidrogen.
Sementara itu, Direktur Proyek dan Operasi PT Pertamina New Renewable Energy (PNRE) Norman Ginting menambahkan bahwa sektor transportasi menjadi penyumbang 36% konsumsi energi dan sekitar 73% dari total konsumsi BBM nasional. Karena itu, transformasi energi bersih di sektor ini menjadi sangat penting.
Baca juga: Prabowo: Indonesia Berpeluang Jadi Negara Pertama Nol Emisi Karbon
“Indonesia masih bergantung pada impor minyak sejak 2003. Untuk mengurangi ketergantungan tersebut sekaligus menekan emisi karbon, Pertamina berkomitmen mempercepat diversifikasi energi di sektor transportasi,” ujar Norman.
Untuk Biodiesel, program B40 resmi berjalan pada 2025, dengan dukungan kilang hijau (green refinery) yang dapat memproduksi Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) untuk melampaui kebutuhan pencampuran biodiesel. Sementara Bioavtur (SAF), uji coba SAF berbasis minyak jelantah yang telah dilakukan Pelita Air menjadi wujud nyata transisi energi di sektor transportasi melalui pemanfaatan sumber daya lokal yang ramah lingkungan.
Terkait kendaraan listrik dan baterai, melalui Indonesia Battery Corporation (IBC), Pertamina membangun ekosistem EV dan Battery Energy Storage System (BESS) dengan ambisi menjadi produsen terbesar di ASEAN. Adapun untuk Hidrogen dan e-Fuel, Pertamina tengah menyiapkan dua Stasiun Pengisian Hidrogen (HRS) di Daan Mogot pada 2026 dan Jawa Barat pada 2028, dengan kapasitas awal 200–500 kg/har
“Indonesia dianugerahi potensi energi bersih dan terbarukan yang melimpah, namun tetap ada tantangan di depan. Karena itu kita perlu bekerja sama. Transisi energi membutuhkan aksi kolektif dengan kolaborasi erat dari semua pihak,” tandas Norman Ginting.
“Transisi energi harus dijalankan secara serius agar Indonesia tetap tangguh menghadapi perubahan global. Pertamina fokus tidak hanya pada energi ramah lingkungan, tetapi juga andal dan terjangkau,” ungkap Pjs. SVP Sustainability Pertamina, Indira Pratyaksa, Sabtu (13/9/2025).
Salah satu bukti konkret adalah penerbangan uji coba SAF yang dilakukan Pelita Air Service pada 20 Agustus 2025. Pesawat berhasil terbang pulang-pergi Jakarta–Bali dengan bahan bakar ramah lingkungan produksi Pertamina.
Baca juga: Swasembada Energi, Prabowo Resmikan Proyek 55 Pembangkit Energi Baru Terbarukan
“Ini bukti nyata komitmen Pertamina mendukung transportasi hijau. SAF yang kami kembangkan sudah melalui uji coba bersama mitra internasional dan terbukti mampu menurunkan emisi hingga 85% dibandingkan bahan bakar konvensional,” jelas Indira.
Pertamina menegaskan peran strategisnya dalam mendorong transisi energi di sektor transportasi melalui pengembangan biofuel, bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF), hingga hidrogen.
Sementara itu, Direktur Proyek dan Operasi PT Pertamina New Renewable Energy (PNRE) Norman Ginting menambahkan bahwa sektor transportasi menjadi penyumbang 36% konsumsi energi dan sekitar 73% dari total konsumsi BBM nasional. Karena itu, transformasi energi bersih di sektor ini menjadi sangat penting.
Baca juga: Prabowo: Indonesia Berpeluang Jadi Negara Pertama Nol Emisi Karbon
“Indonesia masih bergantung pada impor minyak sejak 2003. Untuk mengurangi ketergantungan tersebut sekaligus menekan emisi karbon, Pertamina berkomitmen mempercepat diversifikasi energi di sektor transportasi,” ujar Norman.
Untuk Biodiesel, program B40 resmi berjalan pada 2025, dengan dukungan kilang hijau (green refinery) yang dapat memproduksi Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) untuk melampaui kebutuhan pencampuran biodiesel. Sementara Bioavtur (SAF), uji coba SAF berbasis minyak jelantah yang telah dilakukan Pelita Air menjadi wujud nyata transisi energi di sektor transportasi melalui pemanfaatan sumber daya lokal yang ramah lingkungan.
Terkait kendaraan listrik dan baterai, melalui Indonesia Battery Corporation (IBC), Pertamina membangun ekosistem EV dan Battery Energy Storage System (BESS) dengan ambisi menjadi produsen terbesar di ASEAN. Adapun untuk Hidrogen dan e-Fuel, Pertamina tengah menyiapkan dua Stasiun Pengisian Hidrogen (HRS) di Daan Mogot pada 2026 dan Jawa Barat pada 2028, dengan kapasitas awal 200–500 kg/har
“Indonesia dianugerahi potensi energi bersih dan terbarukan yang melimpah, namun tetap ada tantangan di depan. Karena itu kita perlu bekerja sama. Transisi energi membutuhkan aksi kolektif dengan kolaborasi erat dari semua pihak,” tandas Norman Ginting.
(cip)
Lihat Juga :