Generasi Z Diingatkan Tak Sekadar Tren FOMO dan Perkuat Literasi
Kamis, 11 September 2025 - 21:39 WIB
loading...
A
A
A
Politisi PKS yang juga tercatat sebagai anggota Komisi IV DPR Ini memberi beberapa rekomendasi saat pesta demokrasi mendatang berlangsung. Rekomendasi pertama menyangkut kebijakan, di mana perlunya transparansi kepemilikan media, diversifikasi media, dan pelibatan generasi muda dalam forum legislasi oleh DPR dan pemerintah.
KPU serta Bawaslu juga diingatkannya perlu memastikan kampanye digital menyertakan substansi program, menyediakan kanal fact-checking, dan mengadakan debat publik digital yang ramah Gen Z. Sementara rekomendasi untuk komunitas pemuda dan civil society, Wasekjen PKS ini menilai perlunya penguayan literasi media, menciptakan ruang deliberasi digital, serta mendorong keterlibatan generasi muda menjadi produsen konten politik alternatif.
Rahmat Saleh menekankan bahwa generasi Y dan Z bukan sekadar target suara, melainkan aktor penting dalam demokrasi Indonesia. Dengan regulasi yang jelas, media yang beragam, serta literasi kritis yang kuat, Rahmat Saleh meyakini generasi muda dapat mengubah politik dari sekadar perebutan suara menjadi arena transformasi demokrasi yang lebih sehat, partisipatif, dan substansial.
Selain Rahmat Saleh, kegiatan ini juga dihadiri sejumlah narasumber yang mewakili penulis dari DIK 33 yaitu Andre Sainyakit, Mira Natalia Pelu, serta penelaah independen Prof Johanes Basuki (Guru Besar STIA-LAN). Peluncuran buku ini dihadiri Kaprodi Ilmu Komunikasi Pascasarja Usahid Prasetya Yoga Santoso, Mirza Ronda sebagai penggagas dan editor buku Prosumenesia, serta Wakil Ketua Komisi 1 DPR Sukamta.
Sukamta menuturkan, era digital ibarat pisau bermata dua. Era digital ungkapnya, membuka ruang partisipasi luas di mana masyarakat kini bukan hanya penonton, tetapi juga produsen wacana. Namun di sisi lain, menghadirkan berbagai tantangan. "Seperti misinformasi, disinformasi, filter bubble, echo chamber, hingga potensi polarisasi di tengah masyarakat," ujarnya
KPU serta Bawaslu juga diingatkannya perlu memastikan kampanye digital menyertakan substansi program, menyediakan kanal fact-checking, dan mengadakan debat publik digital yang ramah Gen Z. Sementara rekomendasi untuk komunitas pemuda dan civil society, Wasekjen PKS ini menilai perlunya penguayan literasi media, menciptakan ruang deliberasi digital, serta mendorong keterlibatan generasi muda menjadi produsen konten politik alternatif.
Rahmat Saleh menekankan bahwa generasi Y dan Z bukan sekadar target suara, melainkan aktor penting dalam demokrasi Indonesia. Dengan regulasi yang jelas, media yang beragam, serta literasi kritis yang kuat, Rahmat Saleh meyakini generasi muda dapat mengubah politik dari sekadar perebutan suara menjadi arena transformasi demokrasi yang lebih sehat, partisipatif, dan substansial.
Selain Rahmat Saleh, kegiatan ini juga dihadiri sejumlah narasumber yang mewakili penulis dari DIK 33 yaitu Andre Sainyakit, Mira Natalia Pelu, serta penelaah independen Prof Johanes Basuki (Guru Besar STIA-LAN). Peluncuran buku ini dihadiri Kaprodi Ilmu Komunikasi Pascasarja Usahid Prasetya Yoga Santoso, Mirza Ronda sebagai penggagas dan editor buku Prosumenesia, serta Wakil Ketua Komisi 1 DPR Sukamta.
Sukamta menuturkan, era digital ibarat pisau bermata dua. Era digital ungkapnya, membuka ruang partisipasi luas di mana masyarakat kini bukan hanya penonton, tetapi juga produsen wacana. Namun di sisi lain, menghadirkan berbagai tantangan. "Seperti misinformasi, disinformasi, filter bubble, echo chamber, hingga potensi polarisasi di tengah masyarakat," ujarnya
Lihat Juga :