Ibunda Delpedro Menangis di Pelukan Bivitri Susanti: Dia Bukan Koruptor
Rabu, 10 September 2025 - 14:31 WIB
loading...
Ibunda Direktur Lokataru Foundation Delpedro Marhaen, Magda Antista, yang hendak menjenguk anaknya menangis di pelukan pakar hukum tata negara Bivitri Susanti bertemu di depan ruang tahanan. Foto/Ari Sandita
A
A
A
JAKARTA - Direktur Lokataru Foundation Delpedro Marhaen ditahan polisi imbas aksi demo ricuh di Gedung DPR RI, Jakarta. Keluarga dan aktivis pun mendatangi Dit Tahti Polda Metro Jaya untuk menjenguknya.
Ibunda Delpedro, Magda Antista, yang hendak menjenguk anaknya menangis di pelukan pakar hukum tata negara Bivitri Susanti bertemu di depan ruang tahanan.
"Dia bukan koruptor, dia hanya belain rakyat, dia hanya ingin ada perbaikan," kata Magda sambil menangis di pelukan Bivitri, Rabu (10/9/2025).
Bivitri mendatangi Polda Metro Jaya bersama sejumlah aktivis lainnya untuk menjenguk Delpedro. Bivitri pun sempat menenangkan Magda yang menangis tanpa henti.
Baca Juga: Direktur Lokataru Delpedro Marhaen Ditahan Polda Metro Jaya
Adik Delpedro, Delpiero Hegelian menyebutkan, pihaknya membawa makanan dan buku untuk diberikan pada kakaknya itu. Barang-barang tersebut dibawanya sesuai permintaan Delpedro.
"Makanan, buku-buku. Kalau hari ini, kita bawa makanan dan buku. Kalau kemarin alat mandi dan makanan," katanya.
Bivitri Savitri menilai pemerintah dinilai tak mampu memberikan solusi konkret untuk kehidupan warganya menjadi lebih baik. Maka itu, pemerintah membungkam orang-orang yang melakukan kritik, sebagaimana dialami Delpedro Marhaen.
Menurutnya, pembungkaman terjadi di Amerika Serikat, Nepal, Bangladesh, hingga Indonesia. Maka itu, dia mengajak siapa pun yang masih memiliki moral untuk melawan narasi yang tengah ditunjukkan ke para aktivis.
"Itu Lokataru Foundation adalah sebuah lembaga riset. Jadi waktu ada kegiatan riset, itu biasanya kami pasti berinteraksi, karena saya juga peneliti, sebagai dosen kan harus peneliti juga tuh. Nah, jadi mereka sering minta masukan, nggak ada urusan dengan hal-hal yang sifatnya terorisme, makar, dan lain sebagainya yang dicoba di-frame, menghasut anak-anak," tuturnya.
Menurutnya, Lokataru merupakan lembaga riset, maka itu tak ada urusan bagi Direktur Lokataru untuk menghasut anak-anak sekolah dalam aksi demo 28-30 Agustus 2025. Terlebih, kata menghasut anak-anak itu seolah melecehkan otonomi anak-anak, yang berkesan tak punya pikiran sendiri seperti robot yang dikontrol pihak lain.
"Anak-anak muda, pasti tahu persis bahwa zaman sekarang semua punya pikiran yang merdeka. Justru ketika ada upaya-upaya yang dilakukan semua yang ada di sini, itu sebenarnya lebih untuk memberikan pendampingan hukum, hal-hal kayak gitu. Semuanya melakukan disini, kenapa? Karena hari-hari ini pola untuk membungkam pengkritik sedang dilakukan," paparnya.
Ibunda Delpedro, Magda Antista, yang hendak menjenguk anaknya menangis di pelukan pakar hukum tata negara Bivitri Susanti bertemu di depan ruang tahanan.
"Dia bukan koruptor, dia hanya belain rakyat, dia hanya ingin ada perbaikan," kata Magda sambil menangis di pelukan Bivitri, Rabu (10/9/2025).
Bivitri mendatangi Polda Metro Jaya bersama sejumlah aktivis lainnya untuk menjenguk Delpedro. Bivitri pun sempat menenangkan Magda yang menangis tanpa henti.
Baca Juga: Direktur Lokataru Delpedro Marhaen Ditahan Polda Metro Jaya
Adik Delpedro, Delpiero Hegelian menyebutkan, pihaknya membawa makanan dan buku untuk diberikan pada kakaknya itu. Barang-barang tersebut dibawanya sesuai permintaan Delpedro.
"Makanan, buku-buku. Kalau hari ini, kita bawa makanan dan buku. Kalau kemarin alat mandi dan makanan," katanya.
Bivitri Susanti Kritik Pembungkaman
Bivitri Savitri menilai pemerintah dinilai tak mampu memberikan solusi konkret untuk kehidupan warganya menjadi lebih baik. Maka itu, pemerintah membungkam orang-orang yang melakukan kritik, sebagaimana dialami Delpedro Marhaen.
Menurutnya, pembungkaman terjadi di Amerika Serikat, Nepal, Bangladesh, hingga Indonesia. Maka itu, dia mengajak siapa pun yang masih memiliki moral untuk melawan narasi yang tengah ditunjukkan ke para aktivis.
"Itu Lokataru Foundation adalah sebuah lembaga riset. Jadi waktu ada kegiatan riset, itu biasanya kami pasti berinteraksi, karena saya juga peneliti, sebagai dosen kan harus peneliti juga tuh. Nah, jadi mereka sering minta masukan, nggak ada urusan dengan hal-hal yang sifatnya terorisme, makar, dan lain sebagainya yang dicoba di-frame, menghasut anak-anak," tuturnya.
Menurutnya, Lokataru merupakan lembaga riset, maka itu tak ada urusan bagi Direktur Lokataru untuk menghasut anak-anak sekolah dalam aksi demo 28-30 Agustus 2025. Terlebih, kata menghasut anak-anak itu seolah melecehkan otonomi anak-anak, yang berkesan tak punya pikiran sendiri seperti robot yang dikontrol pihak lain.
"Anak-anak muda, pasti tahu persis bahwa zaman sekarang semua punya pikiran yang merdeka. Justru ketika ada upaya-upaya yang dilakukan semua yang ada di sini, itu sebenarnya lebih untuk memberikan pendampingan hukum, hal-hal kayak gitu. Semuanya melakukan disini, kenapa? Karena hari-hari ini pola untuk membungkam pengkritik sedang dilakukan," paparnya.
(zik)
Lihat Juga :