7 Tuntutan Ratusan Profesor dan Doktor, Nomor 5 Tolak Darurat Militer

Kamis, 04 September 2025 - 13:38 WIB
loading...
7 Tuntutan Ratusan Profesor...
Ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Perempuan Indonesia menggelar aksi demo di depan Gedung DPR, Jakarta, Rabu (3/9/2025). Foto/Aldhi Chandra
A A A
JAKARTA - Ratusan ilmuwan yang terdiri dari profesor hingga doktor menyampaikan rasa khawatir dan peduli yang mendalam terhadap situasi krisis multidimensi di negeri ini, serta dampaknya yang luas terhadap rakyat dan masa depan Indonesia. Sebagai suatu gerakan moral penjaga pintu gerbang kebenaran dan budaya ilmiah melalui produksi ilmu pengetahuan, mereka menyampaikan tujuh tuntutan atau desakan.

Mereka yang mengatasnamakan Aliansi Akademisi Peduli Indonesia ini melihat jurang yang melebar antara para elite penyelenggara negara dan rakyat. Aliansi menyatakan bahwa dalam negara hukum, penyelenggara negara harus tunduk pada hukum.

“Namun yang terjadi adalah para elite justru semakin memperkuat kekuasaan dengan mengubah hukum, merumuskan berbagai kebijakan dan alokasi anggaran serta realokasi anggaran negara untuk kepentingan kekuasaan,” bunyi keterangan tertulis Aliansi Akademisi Peduli Indonesia, Kamis (4/9/2025).

Baca juga: Yusril Sebut Pemerintah Respons Positif 17+8 Tuntutan Rakyat



Mereka menganggap semuanya dibuat tanpa dasar ilmiah dan bukti; juga tidak mengakomodasi realitas, pengalaman dan kebutuhan rakyat. “Ini terbukti dari banyaknya program yang salah sasaran, rawan penyimpangan, dan sebagian cenderung bisa ditafsirkan sebagai ‘power build-up’, sehingga menghadapi penolakan rakyat terhadapnya,” katanya.

Akibatnya, pilar-pilar negara hukum melemah: (1) keruntuhan demokrasi, akibat partisipasi publik tidak terakomodasi; (2) melemahnya prinsip moral, keadilan dan hak asasi manusia serta keadilan ekologis dalam substansi berbagai instrumen hukum dan kebijakan; (3) melemahnya mekanisme kontrol ketika lembaga pengadilan gagal mempertahankan independensinya.

“Padahal ketiga pilar negara hukum itu dimaksudkan sebagai payung agar warganegara dapat dilindungi dari kesewenang-wenangan penyelenggara negara. Para elite melancarkan pidato populis dan palsu, yang berbeda dari kenyataan di lapangan,” ungkapnya.

Baca juga: Netizen: Kenapa 12 CCTV di Jakarta Pusat Offline saat Aksi Demo Ricuh?



Aliansi mengungkapkan data yang digunakan Biro Pusat Statisik sangat membingungkan karena berbeda dengan data dari lembaga survei badan dunia maupun survei independen, misalnya terkait tingkat kemiskinan, pengangguran, dan pertumbuhan ekonomi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Revisi UU Polri: Batas...
Revisi UU Polri: Batas Usia dan Syarat Anggota Kompolnas Diusulkan Lebih Fleksibel
Akademisi Dilaporkan...
Akademisi Dilaporkan ke Polisi, Pengacara Ubedilah Badrun: Kenapa Tidak Adu Data Saja?
TPF LN HAM Dalami Unsur...
TPF LN HAM Dalami Unsur Sistematis Kericuhan Unjuk Rasa Agustus 2025
Ketum Peradi Profesional:...
Ketum Peradi Profesional: Berhenti Jadikan Algoritma sebagai Entitas yang Kebal Hukum
Pengamat dan Akademisi...
Pengamat dan Akademisi Dilaporkan ke Polisi, Pigai Duga Ada Skenario Memojokkan Pemerintah
Admin Instagram Bekasi...
Admin Instagram Bekasi Menggugat Divonis 7 Bulan Penjara di Kasus Demo Agustus 2025
Ilmuwan Bikin Roti dengan...
Ilmuwan Bikin Roti dengan Ragi dari Kulit Mumi Berusia 5.300 Tahun
Presiden Ini Rela Potong...
Presiden Ini Rela Potong Gaji 50% usai Dituntut Lengser oleh Rakyat
NHM Dorong Pembelajaran...
NHM Dorong Pembelajaran Berbasis Lapangan dalam Study Club SEG UNPAD SC
Rekomendasi
Distributor di Kaltim...
Distributor di Kaltim Ikuti Factory Visit SIG untuk Perkuat Kemitraan
Pesona China yang Berbeda:...
Pesona China yang Berbeda: Eksplor Keunikan Infrastruktur Chongqing dan Alam Zhangjiajie
Mahasiswa UNJ Beraksi,...
Mahasiswa UNJ Beraksi, Pengendara Kompak Bunyikan Klakson sebagai Bentuk Dukungan
Berita Terkini
Stafsus Menag: Kunjungan...
Stafsus Menag: Kunjungan Presiden Jerman ke Istiqlal Perkuat Diplomasi Agama RI-Jerman
KPK Rincikan Penyitaan...
KPK Rincikan Penyitaan Uang dari Geledah Rumah Silmy Karim
GP Ansor Rombak Kepengurusan,...
GP Ansor Rombak Kepengurusan, Sejumlah Tokoh Muda NU Masuk Struktur
Menjaga Kampus Tetap...
Menjaga Kampus Tetap Relevan Tanpa Menjadi 'Pabrik'
Pemilik Blueray Cargo...
Pemilik Blueray Cargo Ngaku Setor Rp30 Miliar ke Dedi Congor
Akvindo: Tembakau Alternatif...
Akvindo: Tembakau Alternatif Kurangi Paparan Asap Rokok
Infografis
7 Wilayah AS yang Diperoleh...
7 Wilayah AS yang Diperoleh dengan Membeli dan Merebut dari Negara Lain
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved