Warga Jaga Warga, Jangan Terjebak Divide et Impera
Minggu, 31 Agustus 2025 - 08:53 WIB
loading...
Alumni National University of Singapore (NUS) dan Nanyang Technological University (NTU) Raden Dymasius Yusuf Sitepu. Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Pemerhati Sosial sekaligus Alumni National University of Singapore (NUS) dan Nanyang Technological University (NTU) Raden Dymasius Yusuf Sitepu mengajak warga jaga warga agar tidak terseret perpecahan. Ia bangga melihat kepedulian rakyat, namun prihatin karena sebagian energi justru tersalurkan ke arah yang salah.
“Keluarga saya dari kalangan ekonomi ke bawah, sempat susah secara ekonomi. Berjuang dan tahu rasanya apa itu kelaparan. Saya besar di Pejompongan sekitar Bendungan Hilir. Saya mendukung aspirasi perubahan positif rakyat Indonesia,” ujar Dymasius, Minggu (31/8/2025).
“Tapi saya sedih ketika ada pembakaran mobil, penjarahan, hingga pengkambinghitaman etnis Tionghoa. Mereka juga saudara kita dalam perjuangan hidup sehari-hari,” sambungnya.
Baca juga: Kesaksian dan Kecemasan Tetangga Sri Mulyani: Takutnya Nyebar ke Rumah Lain
Menurutnya, bangsa Indonesia harus kembali mengingat semangat Bhinneka Tunggal Ika yang mempersatukan keberagaman. “Indonesia sudah jauh lebih pintar. Jangan biarkan tragedi 1998 terulang kembali. Merdeka!” tegasnya.
Dymasius mengatakan, semangat “warga jaga warga” adalah kunci. Energi besar rakyat harus diarahkan pada perubahan positif, bukan perpecahan. Ia juga menekankan bahwa tulisannya lahir dari inisiatif pribadi, tanpa titipan atau utusan siapa pun.
Sebagai bentuk keterbukaan, ia menambahkan pesan khusus. “Bila anda melihat ketidakadilan atau hal buruk terjadi secara tidak adil terhadap pihak mana pun, jangan sungkan beritahu saya lewat website pribadi saya ada kotak email di sana, atau melalui TikTok saya,” pungkasnya.
Diketahui, demonstrasi besar di depan Gedung DPR pada akhir Agustus 2025 menjadi perhatian nasional. Ribuan massa dari mahasiswa, pelajar, buruh, hingga pengemudi ojek online tumpah ruah menyuarakan tuntutan, mulai dari penolakan tunjangan DPR yang dinilai berlebihan hingga seruan pembubaran lembaga legislatif tersebut.
Namun, aksi yang awalnya damai berubah ricuh. Data resmi mencatat empat orang meninggal dunia, termasuk Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang tewas terlindas kendaraan taktis polisi. Sedikitnya 14 orang dirawat di RS Pelni, ratusan orang ditangkap, dan sejumlah fasilitas umum rusak akibat pembakaran maupun pelemparan.
Kesaksian dari lapangan juga menyebut adanya provokator yang sengaja menyalakan api kerusuhan. Mereka diduga menargetkan etnis minoritas, khususnya warga Tionghoa, serta mencoba memprovokasi baik demonstran maupun aparat agar bentrokan semakin panas. Aksi ini mengingatkan pada taktik lama dari zaman penjajahan: divide et impera atau pecah belah untuk menguasai.
“Keluarga saya dari kalangan ekonomi ke bawah, sempat susah secara ekonomi. Berjuang dan tahu rasanya apa itu kelaparan. Saya besar di Pejompongan sekitar Bendungan Hilir. Saya mendukung aspirasi perubahan positif rakyat Indonesia,” ujar Dymasius, Minggu (31/8/2025).
“Tapi saya sedih ketika ada pembakaran mobil, penjarahan, hingga pengkambinghitaman etnis Tionghoa. Mereka juga saudara kita dalam perjuangan hidup sehari-hari,” sambungnya.
Baca juga: Kesaksian dan Kecemasan Tetangga Sri Mulyani: Takutnya Nyebar ke Rumah Lain
Menurutnya, bangsa Indonesia harus kembali mengingat semangat Bhinneka Tunggal Ika yang mempersatukan keberagaman. “Indonesia sudah jauh lebih pintar. Jangan biarkan tragedi 1998 terulang kembali. Merdeka!” tegasnya.
Dymasius mengatakan, semangat “warga jaga warga” adalah kunci. Energi besar rakyat harus diarahkan pada perubahan positif, bukan perpecahan. Ia juga menekankan bahwa tulisannya lahir dari inisiatif pribadi, tanpa titipan atau utusan siapa pun.
Sebagai bentuk keterbukaan, ia menambahkan pesan khusus. “Bila anda melihat ketidakadilan atau hal buruk terjadi secara tidak adil terhadap pihak mana pun, jangan sungkan beritahu saya lewat website pribadi saya ada kotak email di sana, atau melalui TikTok saya,” pungkasnya.
Diketahui, demonstrasi besar di depan Gedung DPR pada akhir Agustus 2025 menjadi perhatian nasional. Ribuan massa dari mahasiswa, pelajar, buruh, hingga pengemudi ojek online tumpah ruah menyuarakan tuntutan, mulai dari penolakan tunjangan DPR yang dinilai berlebihan hingga seruan pembubaran lembaga legislatif tersebut.
Namun, aksi yang awalnya damai berubah ricuh. Data resmi mencatat empat orang meninggal dunia, termasuk Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang tewas terlindas kendaraan taktis polisi. Sedikitnya 14 orang dirawat di RS Pelni, ratusan orang ditangkap, dan sejumlah fasilitas umum rusak akibat pembakaran maupun pelemparan.
Kesaksian dari lapangan juga menyebut adanya provokator yang sengaja menyalakan api kerusuhan. Mereka diduga menargetkan etnis minoritas, khususnya warga Tionghoa, serta mencoba memprovokasi baik demonstran maupun aparat agar bentrokan semakin panas. Aksi ini mengingatkan pada taktik lama dari zaman penjajahan: divide et impera atau pecah belah untuk menguasai.
(rca)
Lihat Juga :