Ancaman Disintegrasi di Era Digital: Lawan dengan Nalar Kolektif
Rabu, 27 Agustus 2025 - 21:27 WIB
loading...
A
A
A
Namun, Septiaji menegaskan bahwa teknologi saja tidak cukup. Ia mengajak masyarakat untuk kembali pada nilai-nilai lokal seperti sikap tabayyun (memverifikasi kebenaran) serta membangun nalar kolektif berbasis guyub dan kolaborasi antarpemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, tokoh agama, akademisi, hingga komunitas.
“Jangan sampai kita jadi korban adu domba pihak tak bertanggung jawab. Kita harus membentengi diri dengan nalar kritis dan literasi digital,” ujarnya.
Sebagai langkah jangka panjang, Septiaji mendorong pengajaran berpikir kritis sejak dini, karena persoalan hoaks bukan hanya soal teknologi, tetapi lemahnya kemampuan kognitif masyarakat. Strategi ini, menurutnya, menjadi kunci dalam mencegah radikalisasi dan menjaga keutuhan bangsa di era digital.
Dengan pendekatan komprehensif dan kolaboratif, MAFINDO berharap Indonesia mampu membangun ekosistem informasi yang sehat, serta menjadi bangsa yang tahan terhadap ideologi pemecah belah seperti intoleransi dan radikalisme.
“Jangan sampai kita jadi korban adu domba pihak tak bertanggung jawab. Kita harus membentengi diri dengan nalar kritis dan literasi digital,” ujarnya.
Sebagai langkah jangka panjang, Septiaji mendorong pengajaran berpikir kritis sejak dini, karena persoalan hoaks bukan hanya soal teknologi, tetapi lemahnya kemampuan kognitif masyarakat. Strategi ini, menurutnya, menjadi kunci dalam mencegah radikalisasi dan menjaga keutuhan bangsa di era digital.
Dengan pendekatan komprehensif dan kolaboratif, MAFINDO berharap Indonesia mampu membangun ekosistem informasi yang sehat, serta menjadi bangsa yang tahan terhadap ideologi pemecah belah seperti intoleransi dan radikalisme.
(abd)
Lihat Juga :