Pendekatan Damai Dinilai Efektif Hilangkan Nasionalisme Ganda Warga Papua
Kamis, 10 September 2020 - 20:20 WIB
loading...
A
A
A
”Menguatnya nasionalisme Papua juga dipengaruhi dinamika global, di mana isu Papua semakin dikenal publik bukan hanya di dalam negeri, namun juga di luar negeri. Hal ini menjadikan konflik Papua menjadi salah satu jenis intra-strate conflict yang ada di dunia,” katanya.
Untuk mengatasi persoalan Papua, baik secara khusus mengenai nasionalisme ataupun akar masalah yang telah ditulis di dalam buku Papua Road Map, 2009 (marjinalisasi dan diskriminasi, masalah pembangunan, kekerasan dan pelanggaran HAM, dan pro-kontra sejarah Papua), maka tidak ada cara yang instan yang dapat dilakukan, melainkan memerlukan proses perubahan sosial yang panjang.
”Oleh karena itu, salah satu pendekatan damai yang dapat dilakukan adalah membangun ‘negative peace’, di mana tidak ada lagi konflik kekerasan, bahkan perbaikan komunikasi harus dilakukan dengan cara menghilangkan stigma terhadap orang Papua maupun terhadap Pemerintah Indonesia,” ucapnya.
Selain itu, Papua memerlukan paradigma baru berbasis etnografi, di mana proses pembangunan perlu memberi ruang terjadinya pertukaran nilai secara baik, dan tidak memaksakan sebuah perubahan. ”Yang utama adalah membangun nasionalisme Papua berbasis kesadaran dan kecintaan Papua kepada Indonesia dengan memahami pergulatan hidup orang Papua. Dengan demikian, nasionalisme ganda Papua mungkin tidak akan menjadi isu lagi,” katanya.
Untuk mengatasi persoalan Papua, baik secara khusus mengenai nasionalisme ataupun akar masalah yang telah ditulis di dalam buku Papua Road Map, 2009 (marjinalisasi dan diskriminasi, masalah pembangunan, kekerasan dan pelanggaran HAM, dan pro-kontra sejarah Papua), maka tidak ada cara yang instan yang dapat dilakukan, melainkan memerlukan proses perubahan sosial yang panjang.
”Oleh karena itu, salah satu pendekatan damai yang dapat dilakukan adalah membangun ‘negative peace’, di mana tidak ada lagi konflik kekerasan, bahkan perbaikan komunikasi harus dilakukan dengan cara menghilangkan stigma terhadap orang Papua maupun terhadap Pemerintah Indonesia,” ucapnya.
Selain itu, Papua memerlukan paradigma baru berbasis etnografi, di mana proses pembangunan perlu memberi ruang terjadinya pertukaran nilai secara baik, dan tidak memaksakan sebuah perubahan. ”Yang utama adalah membangun nasionalisme Papua berbasis kesadaran dan kecintaan Papua kepada Indonesia dengan memahami pergulatan hidup orang Papua. Dengan demikian, nasionalisme ganda Papua mungkin tidak akan menjadi isu lagi,” katanya.
(cip)
Lihat Juga :