Rakernas BWI Dukung Visi Indonesia Emas lewat Akselerasi Wakaf Tunai dan Produktif
Rabu, 06 Agustus 2025 - 08:03 WIB
loading...
Ketua BWI Prof Kamaruddin Amin saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) BWI di Hotel Pullman, Jakarta Pusat, Selasa (5/8/2025). FOTO/IST
A
A
A
JAKARTA - Badan Wakaf Indonesia (BWI) mendorong gerakan wakaf nasional secara lebih masif untuk mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045. BWI juga fokus pada upaya produktivisasi aset wakaf yang memiliki potensi ekonomi.
"Kami bersama seluruh BWI se-Indonesia berkumpul untuk membicarakan program-program strategis ke depan. Sekaligus memastikan strategi yang disusun BWI pusat bisa dieksekusi secara masif di seluruh Indonesia,” ujar Ketua BWI Prof Kamaruddin Amin seusai membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) BWI di Hotel Pullman, Jakarta Pusat, Selasa (5/8/2025).
Kamaruddin mengungkapkan bahwa potensi nilai aset wakaf di Indonesia diperkirakan mencapai Rp2.000 triliun dan tumbuh sekitar 5-6% setiap tahun. Ada sekitar 451.000 titik wakaf di Indonesia sehingga potensinya sangat besar.
“Dari jumlah tersebut sekitar 9% atau sebanyak 45.000 titik wakaf bernilai ekonomis dan berpotensi diproduktifkan. Saat ini sudah ada 2.000 titik yang diproduktifkan,” ujarnya.
Melihat potensi wakaf di Indonesia yang besar dan baru sedikit yang diproduktifkan, BWI secara terbuka mengundang investor untuk mengembangkan wakaf di Indonesia. Tujuannya untuk memproduktifkan aset wakaf yang bernilai ekonomis.
Selain itu, prioritas utama BWI saat ini adalah menggalakkan Gerakan Indonesia Berwakaf, khususnya dalam bentuk wakaf tunai atau wakaf uang. Kamaruddin menyebutkan, sesuai kajian BWI bersama beberapa lembaga otoritatif lain potensi wakaf tunai potensinya Rp181 triliun per tahun.
“Yang berhasil dikumpulkan baru Rp3,5 triliun. Tantangan kita sekaligus peluang untuk merealisasikan ini. Jadi pada Rakernas BWI ada dua hal penting yang dibahas, pertama menjaga aset wakaf dan kedua mengembangkan aset wakaf, khususnya yang produktif,” ujarnya.
Kamarudin menegaskan, pengelolaan wakaf yang baik dapat mendukung pencapaian visi besar Indonesia Emas, yaitu Indonesia yang maju, bebas dari kemiskinan, serta cerdas dan sehat. “Ultimate goal dari gerakan wakaf ini adalah mengentaskan kemiskinan dan mencerdaskan bangsa,” tegasnya.
Untuk itu, BWI berkomitmen memperluas edukasi publik untuk meningkatkan literasi wakaf di Masyarakat. BWI memiliki divisi khusus yang menangani literasi wakaf, yang akan mengoordinasikan gerakan ini secara nasional.
“Kami akan bekerja sama dengan Kementerian Agama yang punya struktur hingga tingkat kecamatan, juga dengan stakeholder lain seperti lembaga keuangan syariah dan ormas-ormas keagamaan,” ujar Kamaruddin.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Agama Prof Nasaruddin Umar menegaskan besarnya potensi wakaf uang di Indonesia, yang bila dikelola dengan baik dapat menjadi kekuatan ekonomi umat.
“Lembaga-lembaga keumatan harus diberdayakan untuk menutup celah yang selama ini ada, karena sebagian besar umat Islam kita berada dalam kondisi ekonomi lemah,” tuturnya.
Nasaruddin berharap BWI mampu menjadi motor penggerak kebangkitan ekonomi dan peradaban Islam modern melalui pengelolaan wakaf yang profesional dan visioner. Dia menekankan pentingnya keberanian berpikir berbeda untuk menciptakan perubahan.
"Kami bersama seluruh BWI se-Indonesia berkumpul untuk membicarakan program-program strategis ke depan. Sekaligus memastikan strategi yang disusun BWI pusat bisa dieksekusi secara masif di seluruh Indonesia,” ujar Ketua BWI Prof Kamaruddin Amin seusai membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) BWI di Hotel Pullman, Jakarta Pusat, Selasa (5/8/2025).
Kamaruddin mengungkapkan bahwa potensi nilai aset wakaf di Indonesia diperkirakan mencapai Rp2.000 triliun dan tumbuh sekitar 5-6% setiap tahun. Ada sekitar 451.000 titik wakaf di Indonesia sehingga potensinya sangat besar.
“Dari jumlah tersebut sekitar 9% atau sebanyak 45.000 titik wakaf bernilai ekonomis dan berpotensi diproduktifkan. Saat ini sudah ada 2.000 titik yang diproduktifkan,” ujarnya.
Melihat potensi wakaf di Indonesia yang besar dan baru sedikit yang diproduktifkan, BWI secara terbuka mengundang investor untuk mengembangkan wakaf di Indonesia. Tujuannya untuk memproduktifkan aset wakaf yang bernilai ekonomis.
Selain itu, prioritas utama BWI saat ini adalah menggalakkan Gerakan Indonesia Berwakaf, khususnya dalam bentuk wakaf tunai atau wakaf uang. Kamaruddin menyebutkan, sesuai kajian BWI bersama beberapa lembaga otoritatif lain potensi wakaf tunai potensinya Rp181 triliun per tahun.
“Yang berhasil dikumpulkan baru Rp3,5 triliun. Tantangan kita sekaligus peluang untuk merealisasikan ini. Jadi pada Rakernas BWI ada dua hal penting yang dibahas, pertama menjaga aset wakaf dan kedua mengembangkan aset wakaf, khususnya yang produktif,” ujarnya.
Kamarudin menegaskan, pengelolaan wakaf yang baik dapat mendukung pencapaian visi besar Indonesia Emas, yaitu Indonesia yang maju, bebas dari kemiskinan, serta cerdas dan sehat. “Ultimate goal dari gerakan wakaf ini adalah mengentaskan kemiskinan dan mencerdaskan bangsa,” tegasnya.
Untuk itu, BWI berkomitmen memperluas edukasi publik untuk meningkatkan literasi wakaf di Masyarakat. BWI memiliki divisi khusus yang menangani literasi wakaf, yang akan mengoordinasikan gerakan ini secara nasional.
“Kami akan bekerja sama dengan Kementerian Agama yang punya struktur hingga tingkat kecamatan, juga dengan stakeholder lain seperti lembaga keuangan syariah dan ormas-ormas keagamaan,” ujar Kamaruddin.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Agama Prof Nasaruddin Umar menegaskan besarnya potensi wakaf uang di Indonesia, yang bila dikelola dengan baik dapat menjadi kekuatan ekonomi umat.
“Lembaga-lembaga keumatan harus diberdayakan untuk menutup celah yang selama ini ada, karena sebagian besar umat Islam kita berada dalam kondisi ekonomi lemah,” tuturnya.
Nasaruddin berharap BWI mampu menjadi motor penggerak kebangkitan ekonomi dan peradaban Islam modern melalui pengelolaan wakaf yang profesional dan visioner. Dia menekankan pentingnya keberanian berpikir berbeda untuk menciptakan perubahan.
(abd)
Lihat Juga :