Mengungkap Motif di Balik Pengibaran Bendera One Piece
Selasa, 05 Agustus 2025 - 16:14 WIB
loading...
A
A
A
Hanya 11% yang bersikap negatif, menganggap tindakan ini provokatif dan bahkan berpotensi makar.
Analisis emosi warganet menunjukkan spektrum perasaan yang berlapis:
• Marah, karena merasa kebebasan berekspresi dikekang negara.
• Senang dan bangga, karena budaya pop mampu menjadi simbol perjuangan damai.
• Terkejut, melihat simbol hiburan seperti One Piece dipandang negara dengan begitu serius.
Dengan data ini, kata Ismail Fahmi, fenomena bendera One Piece terlihat bukan sekadar aksi lucu-lucuan, tetapi titik temu antara aspirasi dan luka kolektif; antara kreativitas generasi digital dan konservatisme generasi lama; antara demokrasi digital dan nasionalisme historis.
“Ini bukan hanya tentang sehelai kain, melainkan tentang bagaimana masyarakat memaknai identitas dan bagaimana negara merespons bahasa simbolik rakyat di era yang telah berubah,” ungkapnya.
Data Drone Emprit menunjukkan bahwa isu ini tidak monolitik. Ia berkembang menjadi beragam topik yang mencerminkan keresahan, kritik, dan harapan publik terhadap kondisi sosialpolitik Indonesia saat ini.
Data Drone Emprit mengungkap bahwa mayoritas pengibar bendera One Piece tidak berniat menandingi Merah Putih. Sebaliknya, mereka justru sedang mencari cara alternatif untuk menyuarakan keresahan yang tak tertampung dalam kanal formal.
Data Drone Emprit menunjukkan 81% sentimen di media sosial bersifat positif, menganggap pengibaran bendera ini sebagai simbol perlawanan damai, ekspresi kreatif, dan kritik terhadap ketimpangan sosial.
“Mereka berasal dari generasi yang tumbuh bersama anime, meme, dan fandom. Simbol seperti Jolly Roger bukan sekadar hiburan, tapi personifikasi dari nilai-nilai persahabatan, keberanian, loyalitas, dan perlawanan terhadap sistem yang menindas,” ujar dia.
“Bagi mereka, Luffy lebih representatif dari semangat rakyat kecil ketimbang wajah-wajah politikus di televisi,” sambungnya.
“Dari kacamata hukum tata negara, jawabannya tegas: tidak. Pengibaran bendera fiksi seperti One Piece tidak melanggar hukum selama tidak lebih tinggi dari Merah Putih dan tidak dimaksudkan sebagai bendera tandingan,” jelasnya.
Dia mengutip pernyataan Pakar Hukum dari Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar yang menyebut bahwa tidak ada aturan perundang-undangan yang melarang bendera fiksi selama tidak menggantikan Merah Putih.
Namun, kata dia, di luar ranah legalitas, terdapat ranah sensitivitas sejarah dan etika nasionalisme. Dan di sinilah tantangannya: bagaimana negara dan masyarakat dapat membedakan pelanggaran hukum dari bentuk kritik simbolik, tanpa mencederai salah satu pihak?
“Kita perlu jujur bahwa tidak semua yang menyakiti perasaan kolektif adalah ilegal, dan tidak semua yang legal pasti pantas dalam konteks budaya,” kata dia.
Ismail menerangkan, dengan membongkar masalah ini ke prinsip-prinsip dasarnya, kita menemukan bahwa:
• Negara dan rakyat tidak sedang bertengkar tentang siapa paling cinta Indonesia.
• Yang terjadi adalah perbedaan cara mengekspresikan cinta itu. Yang satu melalui penghormatan historis, yang lain melalui simbolisme budaya pop.
“Bendera One Piece adalah ujian, bukan tentang kesetiaan, tetapi tentang ketahanan demokrasi kita dalam menghadapi ekspresi yang tidak biasa,” pungkasnya.
Emosi Publik
Analisis emosi warganet menunjukkan spektrum perasaan yang berlapis:
• Marah, karena merasa kebebasan berekspresi dikekang negara.
• Senang dan bangga, karena budaya pop mampu menjadi simbol perjuangan damai.
• Terkejut, melihat simbol hiburan seperti One Piece dipandang negara dengan begitu serius.
Dengan data ini, kata Ismail Fahmi, fenomena bendera One Piece terlihat bukan sekadar aksi lucu-lucuan, tetapi titik temu antara aspirasi dan luka kolektif; antara kreativitas generasi digital dan konservatisme generasi lama; antara demokrasi digital dan nasionalisme historis.
“Ini bukan hanya tentang sehelai kain, melainkan tentang bagaimana masyarakat memaknai identitas dan bagaimana negara merespons bahasa simbolik rakyat di era yang telah berubah,” ungkapnya.
Apa yang Dibicarakan Publik?
Data Drone Emprit menunjukkan bahwa isu ini tidak monolitik. Ia berkembang menjadi beragam topik yang mencerminkan keresahan, kritik, dan harapan publik terhadap kondisi sosialpolitik Indonesia saat ini.
Apa motif di balik pengibaran bendera One Piece?
Data Drone Emprit mengungkap bahwa mayoritas pengibar bendera One Piece tidak berniat menandingi Merah Putih. Sebaliknya, mereka justru sedang mencari cara alternatif untuk menyuarakan keresahan yang tak tertampung dalam kanal formal.
Data Drone Emprit menunjukkan 81% sentimen di media sosial bersifat positif, menganggap pengibaran bendera ini sebagai simbol perlawanan damai, ekspresi kreatif, dan kritik terhadap ketimpangan sosial.
“Mereka berasal dari generasi yang tumbuh bersama anime, meme, dan fandom. Simbol seperti Jolly Roger bukan sekadar hiburan, tapi personifikasi dari nilai-nilai persahabatan, keberanian, loyalitas, dan perlawanan terhadap sistem yang menindas,” ujar dia.
“Bagi mereka, Luffy lebih representatif dari semangat rakyat kecil ketimbang wajah-wajah politikus di televisi,” sambungnya.
Apakah ini bentuk makar atau pelecehan simbol negara?
“Dari kacamata hukum tata negara, jawabannya tegas: tidak. Pengibaran bendera fiksi seperti One Piece tidak melanggar hukum selama tidak lebih tinggi dari Merah Putih dan tidak dimaksudkan sebagai bendera tandingan,” jelasnya.
Dia mengutip pernyataan Pakar Hukum dari Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar yang menyebut bahwa tidak ada aturan perundang-undangan yang melarang bendera fiksi selama tidak menggantikan Merah Putih.
Namun, kata dia, di luar ranah legalitas, terdapat ranah sensitivitas sejarah dan etika nasionalisme. Dan di sinilah tantangannya: bagaimana negara dan masyarakat dapat membedakan pelanggaran hukum dari bentuk kritik simbolik, tanpa mencederai salah satu pihak?
“Kita perlu jujur bahwa tidak semua yang menyakiti perasaan kolektif adalah ilegal, dan tidak semua yang legal pasti pantas dalam konteks budaya,” kata dia.
Kesimpulan Sementara
Ismail menerangkan, dengan membongkar masalah ini ke prinsip-prinsip dasarnya, kita menemukan bahwa:
• Negara dan rakyat tidak sedang bertengkar tentang siapa paling cinta Indonesia.
• Yang terjadi adalah perbedaan cara mengekspresikan cinta itu. Yang satu melalui penghormatan historis, yang lain melalui simbolisme budaya pop.
“Bendera One Piece adalah ujian, bukan tentang kesetiaan, tetapi tentang ketahanan demokrasi kita dalam menghadapi ekspresi yang tidak biasa,” pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :