Mengungkap Motif di Balik Pengibaran Bendera One Piece
Selasa, 05 Agustus 2025 - 16:14 WIB
loading...
A
A
A
Ismail mengungkap warganet menyuarakan ini dengan sangat gamblang di TikTok dan X: “Jolly Roger bukan lambang pemberontakan. Tapi lambang orang kecil yang ingin mimpi mereka dihormati.”
“Dengan demikian, Jolly Roger di Indonesia bukan simbol bajak laut pemangsa. Ia menjadi ikon rakyat kecil yang berani bermimpi dan bersuara, bahkan ketika tidak ada ruang formal yang tersedia untuk mereka,” kata Ismail Fahmi.
Ismail Fahmi menjelaskan, fenomena pengibaran bendera One Piece di Indonesia tidak muncul tiba-tiba. Jejaknya dapat ditelusuri jauh sebelum viral di media sosial, dan awalnya tidak memiliki nuansa politis ataupun niat untuk memprovokasi.
“Ia tumbuh secara organik dari komunitas jalanan. Khususnya para sopir truk dan pegiat otomotif, yang menemukan identifikasi kuat dalam karakter dan nilai-nilai yang dibawa oleh kru Topi Jerami,” ungkapnya.
Ismail mengungkapkan bahwa bendera bajak laut Jolly Roger ini pertama kali banyak terlihat berkibar di bagian belakang truk, mobil travel, dan kendaraan niaga.
Komunitas penggemar anime dan manga, terutama dari kalangan pekerja lapangan, sopir truk, dan anak-anak muda penggemar budaya Jepang (wibu), mulai menggunakan simbol tersebut bukan karena ingin menandingi Merah Putih, tetapi sebagai bentuk ekspresi fandom: kebanggaan menjadi bagian dari "kru" simbolik yang dianggap tangguh, setia, dan bebas.
Ismail melanjutkan, bendera ini paling awal banyak terlihat di jalur-jalur lintas antarkota dan antarprovinsi, di jalan pantura, lintas Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, tempat para sopir menempuh ribuan kilometer. “Simbol ini dipasang di kabin, belakang truk, hingga gantungan dalam dashboard, dan seringkali berdampingan dengan bendera Merah Putih, tanpa niatan politis,” ujarnya.
Ismail menuturkan, dalam keseharian sopir dan komunitas jalanan, simbol One Piece memiliki makna yang relatable:
• Luffy, sang kapten bajak laut, adalah pemimpin yang tidak sempurna tapi berani menantang sistem yang tidak adil.
• Jolly Roger sendiri bukan simbol kekerasan, tetapi kebebasan, solidaritas, dan perlawanan terhadap ketertindasan. Mirip dengan aspirasi para pekerja jalanan yang merasa terpinggirkan.
“Penggunaan bendera ini awalnya bukan aksi perlawanan, tetapi justru bentuk pelarian dari kenyataan hidup yang berat, dan simbol semangat menghadapi tantangan,” imbuhnya.
Ismail membeberkan bahwa situasi mulai berubah ketika bendera ini mulai muncul dalam konteks perayaan 17 Agustus di berbagai daerah. Bahkan di tiang-tiang yang biasanya digunakan untuk Merah Putih.
“Di tengah rasa kecewa terhadap situasi ekonomi, ketimpangan sosial, dan ketidakpercayaan terhadap elite politik, bendera One Piece mendadak bermetamorfosis menjadi alat ekspresi protes yang unik dan simbolik,” kata dia.
Dia menambahkan, ketika simbol nasional terasa terlalu formal dan tak lagi mewakili suara akar rumput, rakyat mencari alternatif yang lebih personal dan emosional. Dia mengatakan, kejutan publik dan respons berlebihan dari sebagian pejabat justru membuatnya viral secara eksponensial di TikTok, X, dan media online.
“Dengan memahami akar sosiokultural dan konteks emosional awal kemunculannya, kita dapat melihat bahwa bendera One Piece bukan dirancang untuk melawan negara, tetapi tumbuh sebagai simbol harapan dalam kesunyian jalanan, yang kemudian berubah menjadi simbol nasional karena negara tidak cukup cepat mendengar bahasa rakyatnya,” ujarnya.
Ismail mengungkapkan fenomena bendera One Piece tidak hanya viral, tetapi juga masif dalam percakapan publik. Analisis Drone Emprit terhadap media dan percakapan digital sepanjang 26 Juli hingga 4 Agustus 2025 mencatat:
• 16.557 total mentions terkait isu ini di media sosial dan media online.
• 2,6 miliar total interaksi di berbagai platform digital—angka yang menunjukkan bahwa bendera bajak laut ini telah menjadi salah satu isu nasional paling hangat.
• Puncak percakapan di media sosial terjadi pada 2 Agustus, didorong oleh respons masyarakat dan konten viral di TikTok serta X. Media online mulai memblowup pernyataan pejabat kontroversial pada 3 Agustus, memperkuat polarisasi opini publik.
“Di media sosial, mayoritas warganet (81%) mendukung pengibaran bendera One Piece, melihatnya sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, bentuk kritik sosial kreatif, dan ekspresi damai tanpa kekerasan,” ujar Ismail.
“Dengan demikian, Jolly Roger di Indonesia bukan simbol bajak laut pemangsa. Ia menjadi ikon rakyat kecil yang berani bermimpi dan bersuara, bahkan ketika tidak ada ruang formal yang tersedia untuk mereka,” kata Ismail Fahmi.
Asal Usul
Ismail Fahmi menjelaskan, fenomena pengibaran bendera One Piece di Indonesia tidak muncul tiba-tiba. Jejaknya dapat ditelusuri jauh sebelum viral di media sosial, dan awalnya tidak memiliki nuansa politis ataupun niat untuk memprovokasi.
“Ia tumbuh secara organik dari komunitas jalanan. Khususnya para sopir truk dan pegiat otomotif, yang menemukan identifikasi kuat dalam karakter dan nilai-nilai yang dibawa oleh kru Topi Jerami,” ungkapnya.
Siapa yang Memulai?
Ismail mengungkapkan bahwa bendera bajak laut Jolly Roger ini pertama kali banyak terlihat berkibar di bagian belakang truk, mobil travel, dan kendaraan niaga.
Komunitas penggemar anime dan manga, terutama dari kalangan pekerja lapangan, sopir truk, dan anak-anak muda penggemar budaya Jepang (wibu), mulai menggunakan simbol tersebut bukan karena ingin menandingi Merah Putih, tetapi sebagai bentuk ekspresi fandom: kebanggaan menjadi bagian dari "kru" simbolik yang dianggap tangguh, setia, dan bebas.
Di Mana Mulai Berkibar?
Ismail melanjutkan, bendera ini paling awal banyak terlihat di jalur-jalur lintas antarkota dan antarprovinsi, di jalan pantura, lintas Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, tempat para sopir menempuh ribuan kilometer. “Simbol ini dipasang di kabin, belakang truk, hingga gantungan dalam dashboard, dan seringkali berdampingan dengan bendera Merah Putih, tanpa niatan politis,” ujarnya.
Apa Konteks dan Maknanya?
Ismail menuturkan, dalam keseharian sopir dan komunitas jalanan, simbol One Piece memiliki makna yang relatable:
• Luffy, sang kapten bajak laut, adalah pemimpin yang tidak sempurna tapi berani menantang sistem yang tidak adil.
• Jolly Roger sendiri bukan simbol kekerasan, tetapi kebebasan, solidaritas, dan perlawanan terhadap ketertindasan. Mirip dengan aspirasi para pekerja jalanan yang merasa terpinggirkan.
“Penggunaan bendera ini awalnya bukan aksi perlawanan, tetapi justru bentuk pelarian dari kenyataan hidup yang berat, dan simbol semangat menghadapi tantangan,” imbuhnya.
Mengapa Bisa Jadi Viral dan Dipolitisasi?
Ismail membeberkan bahwa situasi mulai berubah ketika bendera ini mulai muncul dalam konteks perayaan 17 Agustus di berbagai daerah. Bahkan di tiang-tiang yang biasanya digunakan untuk Merah Putih.
“Di tengah rasa kecewa terhadap situasi ekonomi, ketimpangan sosial, dan ketidakpercayaan terhadap elite politik, bendera One Piece mendadak bermetamorfosis menjadi alat ekspresi protes yang unik dan simbolik,” kata dia.
Dia menambahkan, ketika simbol nasional terasa terlalu formal dan tak lagi mewakili suara akar rumput, rakyat mencari alternatif yang lebih personal dan emosional. Dia mengatakan, kejutan publik dan respons berlebihan dari sebagian pejabat justru membuatnya viral secara eksponensial di TikTok, X, dan media online.
“Dengan memahami akar sosiokultural dan konteks emosional awal kemunculannya, kita dapat melihat bahwa bendera One Piece bukan dirancang untuk melawan negara, tetapi tumbuh sebagai simbol harapan dalam kesunyian jalanan, yang kemudian berubah menjadi simbol nasional karena negara tidak cukup cepat mendengar bahasa rakyatnya,” ujarnya.
Data Drone Emprit
Ismail mengungkapkan fenomena bendera One Piece tidak hanya viral, tetapi juga masif dalam percakapan publik. Analisis Drone Emprit terhadap media dan percakapan digital sepanjang 26 Juli hingga 4 Agustus 2025 mencatat:
• 16.557 total mentions terkait isu ini di media sosial dan media online.
• 2,6 miliar total interaksi di berbagai platform digital—angka yang menunjukkan bahwa bendera bajak laut ini telah menjadi salah satu isu nasional paling hangat.
• Puncak percakapan di media sosial terjadi pada 2 Agustus, didorong oleh respons masyarakat dan konten viral di TikTok serta X. Media online mulai memblowup pernyataan pejabat kontroversial pada 3 Agustus, memperkuat polarisasi opini publik.
Peta Sentimen Publik
“Di media sosial, mayoritas warganet (81%) mendukung pengibaran bendera One Piece, melihatnya sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, bentuk kritik sosial kreatif, dan ekspresi damai tanpa kekerasan,” ujar Ismail.
Lihat Juga :