Menyikapi Uang yang Tidak Pernah Cukup
Jum'at, 01 Agustus 2025 - 19:36 WIB
loading...
A
A
A
Kini, jenis uang telah bermetamorfosis hingga beragam jenis dari e-money hingga e-wallet. Juga uang kripto yang dilindungi kode komputer agar mempersulit tindak kriminal. Penggunaan proteksi ini juga menyembunyikan identitas pelaku ekonomi yang menggunakan. Tak jarang jenis uang ini digunakan untuk aktivitas ekonomi ilegal.
Pandangan “sikap” mengenai uang seperti siswa, orangtua dan pekerja bangunan hanyalah sebuah sketsa yang mungkin tidak representatif. Penelitian mengenai bagaimana menyikapi uang telah banyak dilakukan. Bandelj dan kawan-kawan (2021) menemukan bahwa perempuan cenderung lebih mengkhawatirkan uang dibandingkan laki-laki.
Oleson (2004) menemukan bahwa rata-rata, laki-laki secara statistik lebih besar kemungkinannya dibandingkan perempuan untuk mendapatkan skor lebih tinggi dalam hal sikap obsesi, kekuasaan, anggaran, dan prestasi terhadap uang. Ini terkait erat dengan ukuran prestasi, kesuksesan, kekuasaan dan status.
Pria ditemukan lebih berani mengambil risiko, mempunyai kecenderungan lebih besar untuk berjudi, menganggap diri mereka lebih teliti dan bangga dengan kemampuan mereka menangani masalah uang (Prince, 1993).
Sikap terhadap uang ini berdampak pada pilihan investasi keuangan yang dibuat, bagaimana seseorang berhubungan dengan uang, dan juga berdampak pada kepuasan hidup. Akhirnya bagaimana seseorang menyikapi uang, dengan berpegang pada nilai-nilai yang diyakini dan dipengaruhi oleh budaya setempat, memengaruhi perilaku individu. Kerap kali tanpa disadari, mengejar prestasi, kekuasaan, dan eksistensi, yang diidentikkan dengan uang, lalu lupa diri.
Walau terdengar klise, hidup tak melulu soal uang. Jika orientasi kehidupan seseorang ingin bahagia dan sejahtera, uang tidak bisa menjamin itu. Uang memang dibutuhkan untuk menjalankan hidup walau bukan segalanya. Tanpa uang yang memadai sulit untuk mengarungi hidup yang layak.
Namun mendewakan uang akan membutakan hati. Menjadi manusia serakah dan menjauh dari kemanusiaan. Diperlukan kebijaksanaan untuk menyikapi uang, yang sampai kapan pun, tidak akan dirasa cukup.
Sikap Terhadap Uang
Pandangan “sikap” mengenai uang seperti siswa, orangtua dan pekerja bangunan hanyalah sebuah sketsa yang mungkin tidak representatif. Penelitian mengenai bagaimana menyikapi uang telah banyak dilakukan. Bandelj dan kawan-kawan (2021) menemukan bahwa perempuan cenderung lebih mengkhawatirkan uang dibandingkan laki-laki.
Oleson (2004) menemukan bahwa rata-rata, laki-laki secara statistik lebih besar kemungkinannya dibandingkan perempuan untuk mendapatkan skor lebih tinggi dalam hal sikap obsesi, kekuasaan, anggaran, dan prestasi terhadap uang. Ini terkait erat dengan ukuran prestasi, kesuksesan, kekuasaan dan status.
Pria ditemukan lebih berani mengambil risiko, mempunyai kecenderungan lebih besar untuk berjudi, menganggap diri mereka lebih teliti dan bangga dengan kemampuan mereka menangani masalah uang (Prince, 1993).
Sikap terhadap uang ini berdampak pada pilihan investasi keuangan yang dibuat, bagaimana seseorang berhubungan dengan uang, dan juga berdampak pada kepuasan hidup. Akhirnya bagaimana seseorang menyikapi uang, dengan berpegang pada nilai-nilai yang diyakini dan dipengaruhi oleh budaya setempat, memengaruhi perilaku individu. Kerap kali tanpa disadari, mengejar prestasi, kekuasaan, dan eksistensi, yang diidentikkan dengan uang, lalu lupa diri.
Walau terdengar klise, hidup tak melulu soal uang. Jika orientasi kehidupan seseorang ingin bahagia dan sejahtera, uang tidak bisa menjamin itu. Uang memang dibutuhkan untuk menjalankan hidup walau bukan segalanya. Tanpa uang yang memadai sulit untuk mengarungi hidup yang layak.
Namun mendewakan uang akan membutakan hati. Menjadi manusia serakah dan menjauh dari kemanusiaan. Diperlukan kebijaksanaan untuk menyikapi uang, yang sampai kapan pun, tidak akan dirasa cukup.
(shf)
Lihat Juga :