Teori Gramsci Buktikan: Google-Meta Ciptakan Hegemoni Digital

Kamis, 31 Juli 2025 - 13:59 WIB
loading...
Teori Gramsci Buktikan:...
Henry Sianipar, Mahasiswa Pascasarjana Usahid, dan Dosen UBSI Jakarta. Foto/Dok. Pribadi
A A A
Henry Sianipar
Mahasiswa Doktor Ilmu Komunikasi Sekolah Pascasarjana Usahid dan Dosen UBSI Jakarta

ANTONIO Gramsci, filsuf Marxis Italia yang menulis dari penjara fasis Mussolini tentang konsep hegemoni, pasti akan terkejut melihat bagaimana hegemoni digital beroperasi hari ini. Platform seperti Google, Meta, dan TikTok tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga mengontrol narasi publik melalui algoritma.

Platform digital telah menjadi gatekeeper informasi modern, menentukan konten mana yang viral, mana yang tenggelam, dan siapa yang mendapat cuan. Melalui algoritma, platform digital menciptakan "akal sehat" baru: informasi harus gratis, viral adalah ukuran kualitas, dan algoritma bersifat netral. Padahal, di baliknya tersembunyi eksploitasi ekonomi sistematis terhadap produsen konten.

Hegemoni Digital: Tiga Jurus Gramsci


Gramsci menjelaskan hegemoni sebagai dominasi melalui persetujuan (bukan paksaan). Di ruang digital, ini terwujud dalam tiga dimensi: (1) Kepemimpinan intelektual-moral. Raksasa digital menciptakan narasi bahwa "berbagi konten adalah kemajuan", padahal mereka mengeruk triliunan dari iklan yang melekat pada konten berita. (2) Transformisme dengan mengkooptasi media tradisional lewat program partnership yang tampak menguntungkan. YouTube misalnya, melakukan pembagian revenuenya dengan porsi 55:45. (3) Dimensi Blok Historis yang terbentuk aliansi antara platform, pengiklan global, dan konsumen yang menikmati konten "gratis".

Gramsci menggunakan istilah "krisis organik" untuk menggambarkan kondisi ketika hegemoni yang ada mulai runtuh karena kontradiksi internalnya. Data Nielsen menunjukkan iklan televisi turun dari Rp143 triliun (2019) menjadi Rp125 triliun (2024). Penurunan pendapatan media TV beralih ke raksasa digital. Nielsen menghitung kue iklan di platform digital melonjak dari Rp13 triliun (2019) menjadi Rp55 triliun (2024).

Publishing Rights: Senjata Counter-Hegemoni


Dewan Pers mengusulkan Publishing Rights sebagai sarana yang bisa memaksa platform rakasasa digital memberikan sejumlah uang pada media TV untuk memastikan konten berkualitas untuk masyarakat tetap terjaga. Usulan ini telah didukung pemerintah dengan menerbitkan Perpres No. 32/2024, yang mencerminkan tiga strategi Gramsci, yaitu: (1) Strategi Perang Posisi (War Position).

Bagi Gramsci Publishing Rights adalah bentuk perang posisi dengan merebut kembali kontrol ekonomi atas produksi dan distribusi informasi. Ketua Dewan Pers Azyumardi Azra menegaskan: "Mereka meraup triliunan dari konten berita kita. Sepantasnya berbagi!" (2) Strategi Intelektual Organik. Intelektual organik adalah pihak yang mampu mengartikulasikan kepentingan kelas subordinat dan membangun kesadaran alternatif seperti Dewan Pers dan Komite Publisher yang dibentuk melalui Perpres No. 32/2024 (3) Strategi Blok Historis Baru, yaitu aliansi berbagai kekuatan sosial yang berkepentingan mengubah status quo, seperti aliansi media (TV, cetak, digital lokal), dukungan negara, dan partisipasi publik.

Pembelajaran Global: Dialektika Resistensi dan Kooptasi


Pengalaman negara lain menunjukkan kompleksitas membangun counter-hegemony terhadap platform digital raksasa. Australia dengan News Media Bargaining Code berhasil memaksa Google membayar AU$150 juta dan Meta AU$70 juta per tahun. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa koordinasi antara negara dan industri media dapat mengimbangi kekuatan platform digital.

Namun, resistensi Meta yang sempat memblokir berita di Facebook Australia menunjukkan kapasitas retaliatif hegemon digital. Gramsci memperingatkan bahwa kelas hegemonik akan menggunakan berbagai strategi dari kooptasi hingga koersi untuk mempertahankan dominasinya.

Prancis dengan Neighbouring Rights dan Kanada dengan Bill C-18 menunjukkan bahwa setiap formasi sosial mengembangkan strategi counter-hegemonik yang disesuaikan dengan konteks nasionalnya. Google membayar €500 juta di Prancis dan CA$100 juta di Kanada, membuktikan bahwa perlawanan terorganisir dapat memaksa kompromi.

Sekjen ATVSI Gilang Iskandar menilai model Australia paling relevan karena mewajibkan platform melakukan negosiasi langsung dengan media. Jika negosiasi gagal, maka negara turun tangan sebagai wasit.

Praxis Counter-Hegemonisasi: Strategi Transformatif


Gramsci menekankan bahwa counter-hegemony memerlukan praxis yaitu integrasi teori dan praktik dalam aksi transformatif. Hal ini bisa terwujud dalam beberapa strategi. Dalam jangka pendek adalah negosiasi langsung, dengan mempertemukan semua stasiun TV dengan dengan Google, Meta, TikTok untuk menuntut kompensasi yang adil. Jika negosiasi gagal, maka Badan Otorita Ketahanan Media Digital (yang akan dibentuk kemudian) bisa memutuskan besaran kompensasi.

Strategi Jangka Menengah dengan redistribusi keadilan dengan rancangan pembagian dana: 60% berdasar konten dan jangkauan, 30% untuk TV daerah dan media independen, 10% untuk program investigasi dan pelatihan wartawan.

Strategi Jangka Panjang adalah transformasi kesadaran dengan melakukan edukasi publik, membangun kesadaran pentingnya jurnalisme berkualitas dan bahaya monopoli informasi. Mengajak masyarakat mengonsumsi konten langsung dari platform resmi media dan melaporkan pelanggaran dan menyuarakan dukungan melalui media sosial.

Menuju Hegemoni Alternatif dalam Ekosistem Media Digital


Publishing Rights bukan sekadar instrumen ekonomi, tetapi proyek hegemonisasi alternatif untuk menciptakan ekosistem media yang lebih demokratis dan berkeadilan. Dalam perspektif Gramsci, ini adalah upaya membangun "senso comune" baru yang mengakui nilai produksi jurnalistik dan menolak eksploitasi konten tanpa kompensasi.

Gramsci mengajarkan bahwa hegemoni alternatif berhasil ketika mampu menciptakan "common sense" baru yang diterima secara luas. Dalam konteks Publishing Rights, ini berarti membangun kesadaran kolektif bahwa produksi informasi berkualitas memiliki nilai ekonomi yang harus dihargai. Jurnalisme berkualitas adalah fondasi demokrasi yang tidak bisa dikorbankan untuk profit.

Publishing Rights adalah usulan terbaik untuk membalikkan relasi kekuasaan dalam industri komunikasi. Seperti pemikiran Gramsci, perubahan sejati memerlukan kombinasi kesadaran teoretis, organisasi praktis, dan kemauan politik untuk mentransformasi struktur yang menindas.

Pilihan ada di tangan kita: membiarkan hegemoni digital terus mengikis fondasi jurnalisme Indonesia? Atau bergabung dalam proyek counter-hegemonisasi untuk menciptakan ekosistem media yang memberikan informasi yang berkualitas, bukan semata viral, tanpa makna.
(shf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Hadapi Dominasi China...
Hadapi Dominasi China Dalam Ranah Digital, Indonesia Diimbau Waspadai Risiko Ketergantungan
Hasan Nasbi Dorong Mahasiswa...
Hasan Nasbi Dorong Mahasiswa Fisip Unpas Lebih Kritis Hadapi Disrupsi Digital
Wakapolri Ungkap Ancaman...
Wakapolri Ungkap Ancaman Kekerasan dan Teror Modern di Era Digital
Posisi Strategis Indonesia...
Posisi Strategis Indonesia Jadi Incaran Asing, Kesadaran Antispionase Perlu Diperkuat
MUI Minta Komdigi Blokir...
MUI Minta Komdigi Blokir dan Perketat Pengawasan Akses Platform Judi Online
Menkomdigi: Media Konvensional...
Menkomdigi: Media Konvensional Harus Tetap Eksis di Tengah New Media
Cover Musik Jadi Cara...
Cover Musik Jadi Cara Generasi Digital Menunjukkan Kreativitas
Respons Permintaan Tinggi,...
Respons Permintaan Tinggi, Telkom Akselerasi Ekspansi Kapasitas NeutraDC Batam
BTN Dukung Transaksi...
BTN Dukung Transaksi Digital Indonesia Coffee Expo 2026 lewat Aplikasi Bale
Rekomendasi
Kapan Tahun Baru Islam...
Kapan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriyah?
Selain Resmikan RSUD,...
Selain Resmikan RSUD, Prabowo Diagendakan Menghadiri Munas Hipmi di Lampung
Namanya Terseret Kasus...
Namanya Terseret Kasus Dugaan Suap Impor Bea Cukai, Raffi Ahmad Buka Suara
Berita Terkini
Masa Penahanan Gus Yaqut...
Masa Penahanan Gus Yaqut Diperpanjang selama 30 Hari
Prabowo Minta Menkes...
Prabowo Minta Menkes Perluas CKG-Perkuat Penanggulangan TBC
Konflik PPP Banten Dinilai...
Konflik PPP Banten Dinilai Lebih dari Sekadar Pergantian Ketua
4 Oknum Prajurit TNI...
4 Oknum Prajurit TNI Terdakwa Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus Hari Ini Divonis
3 Guru Besar Kedokteran...
3 Guru Besar Kedokteran Bakal Jadi Saksi Ahli Dokter Tifa
Kasus Mega Korupsi BGN...
Kasus Mega Korupsi BGN dan Kitas-Kitap
Infografis
5 Cara Cepat Menemukan...
5 Cara Cepat Menemukan Lokasi Terdekat dengan Google Maps
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved