10 Hari Pertama Agustus Semua Provinsi Waspada Kebakaran Hutan
Senin, 28 Juli 2025 - 15:59 WIB
loading...
Menhut Raja Juli Antoni mengingatkan pada 10 hari pertama bulan Agustus 2025, seluruh provinsi dalam status waspada Karhutla karena terjadi cuaca ekstrem. Foto/Okezone
A
A
A
JAKARTA - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengungkap pada 10 hari pertama bulan Agustus 2025, seluruh provinsi berada dalam status peringatan waspada kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Sebab pada bulan tersebut cuaca ekstrem akan melanda Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Raja Juli usai menggelar rapat monitoring Karhutla bersama BNPB, BMKG dan delapan gubernur yang wilayah berpotensi kebakaran hutan.
Baca juga: Atasi Karhutla di Riau, Menko Polkam Keluarkan Instruksi Moratorium Izin hingga Sanksi Tegas
"10 hari pertama Agustus, hampir di semua provinsi adalah warning, peringatan, karena tadi kombinasinya curah hujan kecil, rendah, pembentukan awan rendah, sulit karena awannya tidak ada, dan tingkat kekeringan lahan, tingkat potensi kebakaran hutannya tinggi," ujar Raja kepada wartawan di kantor BNPB Jakarta, Senin (28/7/2025).
Dengan peringatan tersebut, dia meminta seluruh pihak untuk berkontribusi demi mencegah potensi Karhutla. Sebab musim hujan baru akan tiba pada bulan Oktober.
"Meskipun kalau kita tarik lagi Agustus masih berbahaya, tapi yang paling berbahaya 10 hari pertama, September masih berbahaya, tapi agak berkurang karena musim hujan akan datang baru pada bulan Oktober," katanya.
Dalam kesempatan itu, dia menyampaikan terjadinya penurunan signifikan luas hutan yang terbakar dalam siklus El Nino. Bedasarkan catatannya pada 2015 luas lahan yang terbakar sekitar 1,8 juta hektare.
Baca juga: Menko Polkam Budi Gunawan Dorong Percepatan Operasi Tanggap Darurat Karhutla di Riau
"Tapi kemudian 2019 karena kita terus belajar memodifikasi cuaca, mendeploy pasukan RMB baik, kebakaran hutannya hanya sekitar 1,1 juta. Dan pada 2023 siklus El Nino berikutnya hanya sekitar 600 ribu hektare saja," katanya.
Sementara pada tahun 2025 ini, tanpa El Nino dan cuaca ekstrem, maka seharusnya Indonesia mempunyai kemampuan untuk memodifikasi dan menurunkan angka kebakaran hutan dibandingkan tahun sebelumnya.
Hal tersebut disampaikan Raja Juli usai menggelar rapat monitoring Karhutla bersama BNPB, BMKG dan delapan gubernur yang wilayah berpotensi kebakaran hutan.
Baca juga: Atasi Karhutla di Riau, Menko Polkam Keluarkan Instruksi Moratorium Izin hingga Sanksi Tegas
"10 hari pertama Agustus, hampir di semua provinsi adalah warning, peringatan, karena tadi kombinasinya curah hujan kecil, rendah, pembentukan awan rendah, sulit karena awannya tidak ada, dan tingkat kekeringan lahan, tingkat potensi kebakaran hutannya tinggi," ujar Raja kepada wartawan di kantor BNPB Jakarta, Senin (28/7/2025).
Dengan peringatan tersebut, dia meminta seluruh pihak untuk berkontribusi demi mencegah potensi Karhutla. Sebab musim hujan baru akan tiba pada bulan Oktober.
"Meskipun kalau kita tarik lagi Agustus masih berbahaya, tapi yang paling berbahaya 10 hari pertama, September masih berbahaya, tapi agak berkurang karena musim hujan akan datang baru pada bulan Oktober," katanya.
Dalam kesempatan itu, dia menyampaikan terjadinya penurunan signifikan luas hutan yang terbakar dalam siklus El Nino. Bedasarkan catatannya pada 2015 luas lahan yang terbakar sekitar 1,8 juta hektare.
Baca juga: Menko Polkam Budi Gunawan Dorong Percepatan Operasi Tanggap Darurat Karhutla di Riau
"Tapi kemudian 2019 karena kita terus belajar memodifikasi cuaca, mendeploy pasukan RMB baik, kebakaran hutannya hanya sekitar 1,1 juta. Dan pada 2023 siklus El Nino berikutnya hanya sekitar 600 ribu hektare saja," katanya.
Sementara pada tahun 2025 ini, tanpa El Nino dan cuaca ekstrem, maka seharusnya Indonesia mempunyai kemampuan untuk memodifikasi dan menurunkan angka kebakaran hutan dibandingkan tahun sebelumnya.
(shf)
Lihat Juga :