Anak Buruh Tani Siswi Sekolah Rakyat Blora Juara Lomba Menulis Surat untuk Presiden
Senin, 28 Juli 2025 - 07:36 WIB
loading...
A
A
A
“Saya senang sekali ya, karena belum genap 10 hari kan kemarin itu, tapi anak saya ternyata sudah ada yang berprestasi. Dan anaknya juga support, maksudnya memang punya keinginan untuk berprestasi. Jadi saya senang sekali,” ungkapnya.
Yuli juga menyampaikan apresiasinya kepada Nuril atas pencapaiannya dan membawa nama baik SRMA 18. Tidak hanya menjadi pemenang dalam lomba menulis surat, Nuril juga mendapatkan tawaran dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Blora untuk menjadi MC dalam peringatan Hari Anak Nasional tingkat Kabupaten Blora pada Sabtu (26/7/2025).
Nuril adalah bungsu dari dua bersaudara. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya yang bekerja sebagai buruh tani, bukan di sawah milik sendiri melainkan milik orang lain.
Penghasilan yang tidak menentu menjadi hambatan dalam meraih pendidikannya. Kakaknya dulu hanya bisa menyelesaikan jenjang SMK karena dibiayai oleh saudara orangtuanya.
Kini, kesempatan meraih pendidikan di Sekolah Rakyat menjadi harapan baru bagi Nuril. Sekolah berasrama yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem untuk mendapatkan akses pendidikan berkualitas secara gratis.
Bagi Nuril, surat itu bukan hanya tentang lomba, tetapi cara untuk menyampaikan harapannya. Ia menulis dengan hati, berharap Sekolah Rakyat bisa terus ada dan membantu lebih banyak anak seperti dirinya. Nuril menunjukkan bahwa mimpi besar bisa dimulai dari hal sederhana, dari selembar surat dan keberanian untuk bersuara.
Yuli juga menyampaikan apresiasinya kepada Nuril atas pencapaiannya dan membawa nama baik SRMA 18. Tidak hanya menjadi pemenang dalam lomba menulis surat, Nuril juga mendapatkan tawaran dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Blora untuk menjadi MC dalam peringatan Hari Anak Nasional tingkat Kabupaten Blora pada Sabtu (26/7/2025).
Nuril adalah bungsu dari dua bersaudara. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya yang bekerja sebagai buruh tani, bukan di sawah milik sendiri melainkan milik orang lain.
Penghasilan yang tidak menentu menjadi hambatan dalam meraih pendidikannya. Kakaknya dulu hanya bisa menyelesaikan jenjang SMK karena dibiayai oleh saudara orangtuanya.
Kini, kesempatan meraih pendidikan di Sekolah Rakyat menjadi harapan baru bagi Nuril. Sekolah berasrama yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem untuk mendapatkan akses pendidikan berkualitas secara gratis.
Bagi Nuril, surat itu bukan hanya tentang lomba, tetapi cara untuk menyampaikan harapannya. Ia menulis dengan hati, berharap Sekolah Rakyat bisa terus ada dan membantu lebih banyak anak seperti dirinya. Nuril menunjukkan bahwa mimpi besar bisa dimulai dari hal sederhana, dari selembar surat dan keberanian untuk bersuara.
(shf)
Lihat Juga :