Pemerintah Gagal Menahan Laju Pandemi Akibat Salah Strategi
Kamis, 10 September 2020 - 09:35 WIB
loading...
Anggota Komisi IX DPR, Netty Prasetiyani Aher prihatin dengan kondisi pandemi COVID-19 di Tanah Air yang memburuk ini. Foto/dpr.go.id
A
A
A
JAKARTA - Anggota Komisi IX DPR , Netty Prasetiyani Aher prihatin dengan kondisi pandemi COVID-19 di Tanah Air yang memburuk ini. Betapa tidak, kasus positif COVID-19 di Indonesia kini telah menembus 200.000.
Data terakhir Rabu 9 September 2020, jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia sebanyak 203.342. "Pemerintah gagal menahan laju pandemi akibat salah strategi. Sejak awal pemerintah lebih memprioritaskan pemulihan ekonomi daripada menangani akar pandemi, yaitu sektor kesehatan. Akibat kegagalan tersebut, imbas pandemi sudah kemana-mana dan sulit terkendali," ujar Netty dalam keterangan tertulisnya kepada SINDOnews, Kamis (10/9/2020). (Baca juga: Jokowi Mestinya Batalkan Omnibus Law Kalau Konsisten Prioritaskan Covid-19)
Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mengatakan angka kasus makin tinggi, klaster penularan baru pun bermunculan, kemudian ekonomi makin terpuruk. "Rakyat bingung tidak tahu harus berbuat apa. Saat ini sudah 59 negara yang menutup akses bagi kedatangan WNI, Indonesia menjadi negara yang ditakuti," kata Netty.
Adapun 59 negara yang menutup pintu untuk WNI di antaranya Jerman, Swis, Singapura, Korea Selatan, Amerika Serikat, Turki karena khawatir menjadi transmiter COVID-19. Kata Netty, pemerintah harus segera mengambil sikap dan menata ulang format kebijakannya.
"Jangan menganakemaskan ekonomi tapi meninggalkan kesehatan. Jangan lagi ada pengabaian terhadap pendapat sains yang positif. Sebab pandemi COVID-19 adalah bencana kesehatan, sudah seharusnya kembali pada kebijakan yang berbasis kesehatan," tegasnya.
Data terakhir Rabu 9 September 2020, jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia sebanyak 203.342. "Pemerintah gagal menahan laju pandemi akibat salah strategi. Sejak awal pemerintah lebih memprioritaskan pemulihan ekonomi daripada menangani akar pandemi, yaitu sektor kesehatan. Akibat kegagalan tersebut, imbas pandemi sudah kemana-mana dan sulit terkendali," ujar Netty dalam keterangan tertulisnya kepada SINDOnews, Kamis (10/9/2020). (Baca juga: Jokowi Mestinya Batalkan Omnibus Law Kalau Konsisten Prioritaskan Covid-19)
Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mengatakan angka kasus makin tinggi, klaster penularan baru pun bermunculan, kemudian ekonomi makin terpuruk. "Rakyat bingung tidak tahu harus berbuat apa. Saat ini sudah 59 negara yang menutup akses bagi kedatangan WNI, Indonesia menjadi negara yang ditakuti," kata Netty.
Adapun 59 negara yang menutup pintu untuk WNI di antaranya Jerman, Swis, Singapura, Korea Selatan, Amerika Serikat, Turki karena khawatir menjadi transmiter COVID-19. Kata Netty, pemerintah harus segera mengambil sikap dan menata ulang format kebijakannya.
"Jangan menganakemaskan ekonomi tapi meninggalkan kesehatan. Jangan lagi ada pengabaian terhadap pendapat sains yang positif. Sebab pandemi COVID-19 adalah bencana kesehatan, sudah seharusnya kembali pada kebijakan yang berbasis kesehatan," tegasnya.
Lihat Juga :