Debat Panas Netizen Brasil dan Indonesia soal Juliana Marins Tewas di Rinjani
Kamis, 26 Juni 2025 - 09:58 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Deretan Irjen Pol yang Masuk Daftar Mutasi Polri Juni 2025
Di sisi lain, lanjut dia, tidak bisa menutup mata juga terhadap usaha para relawan, porter, dan tim SAR yang benar-benar naik ke medan berbahaya, membawa risiko nyawa mereka sendiri. “Mereka mungkin bekerja dalam keterbatasan alat, logistik, dan anggaran — tapi mereka tetap berjalan. Mereka bukan musuh, mereka bagian dari solusi yang belum didukung penuh,” ujarnya.
“Jadi, mari kita kritisi sistemnya, bukan menghakimi orang lapangan. Dan mari kita hargai para pejuang itu, bukan membela kegagalan struktural atas nama solidaritas palsu,” tambahnya.
Menurut dia, saat ini sudah saatnya meningkatkan SOP evakuasi ekstrem, memanfaatkan teknologi lebih cepat dan tepat, memberi dukungan anggaran dan pelatihan yang serius untuk tim penyelamat. “Nyawa Juliana tidak boleh berakhir tanpa makna. Jika ada pelajaran, maka jadikan ini momen perubahan,” pungkasnya.
Baca juga: Ini 5 Provinsi Baru jika Jawa Barat Dimekarkan, Daerahmu Masuk Mana?
Diberitakan sebelumnya, proses evakuasi WNA Brasil Juliana Marins (27) yang jatuh di jurang Gunung Rinjani menyisakan cerita tersendiri bagi relawan dari Unit SAR Lombok Timur, Syamsul Padli. Dia terlibat proses pencarian dan evakuasi sejak jatuhnya korban pada Hari Sabtu, 21 Juni 2025.
Padli menuturkan, proses evakuasi korban tak semudah yang dibayangkan orang. Apalagi, Gunung Rinjani punya kultur tanah dan bebatuan berbeda seperti di tempat lain. Karena banyak batuan lepas, pasir mudah longsor sehingga rentan dan bisa membahayakan.
Proses evakuasi berlangsung Rabu (25/6/2025) pukul 08.00 sampai 14.00 Wita. Ia bersama tiga rekannya dari Basarnas harus menginap bersama jasad korban di kedalaman 600 meter lebih. "Kita turunnya sampai sana malam, jadi harus tunggu. Paginya baru kita packing baru kita evakuasi", tuturnya.
Ia mengaku proses evakuasi tidak mudah karna medan ekstrem. Cuaca berkabut dan hujan, sehingga tim harus sangat hati-hati memilih pijakan aman saat turun menjangkau korban.
Padli mengaku terlibat melakukan proses pencarian dan penyelamatan sejak hari pertama. Bahkan, ia sempat turun di kedalaman 400 meter, lokasi pertama korban ditemukan, tapi hasilnya nihil. Korban sudah tidak berada di lokasi awal.
"Sabtu malam itu, saya pertama turun tapi ternyata korban tidak ditemukan sesuai lokasi yang dideteksi drone itu. Kita panggil nggak ada," ujar Padli seraya mengatakan akhirnya ia kembali naik hingga korban kembali ditemukan di lokasi berbeda, kedalaman 600 meter.
Lamanya proses evakuasi korban sempat menjadi sorotan dan viral di media sosial. Bahkan, akun Instagram Presiden Prabowo Subianto diserbu netizen Brasil meminta agar rekan mereka segera ditemukan dan dievakuasi.
Di sisi lain, lanjut dia, tidak bisa menutup mata juga terhadap usaha para relawan, porter, dan tim SAR yang benar-benar naik ke medan berbahaya, membawa risiko nyawa mereka sendiri. “Mereka mungkin bekerja dalam keterbatasan alat, logistik, dan anggaran — tapi mereka tetap berjalan. Mereka bukan musuh, mereka bagian dari solusi yang belum didukung penuh,” ujarnya.
“Jadi, mari kita kritisi sistemnya, bukan menghakimi orang lapangan. Dan mari kita hargai para pejuang itu, bukan membela kegagalan struktural atas nama solidaritas palsu,” tambahnya.
Menurut dia, saat ini sudah saatnya meningkatkan SOP evakuasi ekstrem, memanfaatkan teknologi lebih cepat dan tepat, memberi dukungan anggaran dan pelatihan yang serius untuk tim penyelamat. “Nyawa Juliana tidak boleh berakhir tanpa makna. Jika ada pelajaran, maka jadikan ini momen perubahan,” pungkasnya.
Baca juga: Ini 5 Provinsi Baru jika Jawa Barat Dimekarkan, Daerahmu Masuk Mana?
Diberitakan sebelumnya, proses evakuasi WNA Brasil Juliana Marins (27) yang jatuh di jurang Gunung Rinjani menyisakan cerita tersendiri bagi relawan dari Unit SAR Lombok Timur, Syamsul Padli. Dia terlibat proses pencarian dan evakuasi sejak jatuhnya korban pada Hari Sabtu, 21 Juni 2025.
Padli menuturkan, proses evakuasi korban tak semudah yang dibayangkan orang. Apalagi, Gunung Rinjani punya kultur tanah dan bebatuan berbeda seperti di tempat lain. Karena banyak batuan lepas, pasir mudah longsor sehingga rentan dan bisa membahayakan.
Proses evakuasi berlangsung Rabu (25/6/2025) pukul 08.00 sampai 14.00 Wita. Ia bersama tiga rekannya dari Basarnas harus menginap bersama jasad korban di kedalaman 600 meter lebih. "Kita turunnya sampai sana malam, jadi harus tunggu. Paginya baru kita packing baru kita evakuasi", tuturnya.
Ia mengaku proses evakuasi tidak mudah karna medan ekstrem. Cuaca berkabut dan hujan, sehingga tim harus sangat hati-hati memilih pijakan aman saat turun menjangkau korban.
Padli mengaku terlibat melakukan proses pencarian dan penyelamatan sejak hari pertama. Bahkan, ia sempat turun di kedalaman 400 meter, lokasi pertama korban ditemukan, tapi hasilnya nihil. Korban sudah tidak berada di lokasi awal.
"Sabtu malam itu, saya pertama turun tapi ternyata korban tidak ditemukan sesuai lokasi yang dideteksi drone itu. Kita panggil nggak ada," ujar Padli seraya mengatakan akhirnya ia kembali naik hingga korban kembali ditemukan di lokasi berbeda, kedalaman 600 meter.
Lamanya proses evakuasi korban sempat menjadi sorotan dan viral di media sosial. Bahkan, akun Instagram Presiden Prabowo Subianto diserbu netizen Brasil meminta agar rekan mereka segera ditemukan dan dievakuasi.
Lihat Juga :