Boeing Siap Mendukung Kemajuan Industri Pertahanan Indonesia
Kamis, 12 Juni 2025 - 22:20 WIB
loading...
A
A
A
"ToT sudah dicoba sekeras apapun tak pernah bisa," kata Sena.
Dia membagikan salah satu pengalaman ketika Kemenhan membeli kendaraan tempur (ranpur) 6x6 dari Korea Selatan. Padahal, menurut Sena, PT Pindad sebenarnya sudah buat membuat ranpur Anoa.
"Kenapa harus masih beli? Ini konon karena kita beli kendaraan bisa berenang, kita tak bisa buat kendaraan tempur seberat itu untuk bisa berenang. Akhirnya kita beli dari Korea," kata Sena.
Selama tinggal di Korsel untuk belajar memahami produksi ranpur 6x6, ia hanya belajar teori saja tentang ranpur amfibi. Ketika ingin membongkar ranpur maka ia dan tim kesulitan memasangnya lagi.
"Terbukti tiga bulan saya tinggal bulan di Korsel hampir tidak ada, almost nothing, Korea hanya memberi secara teori tentang amfibi, padahal merakit di Indonesia sudah bisa,” kata Sena.
Sena melanjutkan, karena tak ingin pulang dengan tangan kosong, ia dan delegasi PT Pindadakhirnya memilih belajar etos kerja dari warga Korsel. Dia mendapati, pekerja lokal Korsel sangat menghargai waktu dan ketika jam istirahat selesai, mereka langsung melanjutkan pekerjaannya.
"Mereka selesai makan, langsung berdiri. Betapa waktu sangat berharga, orang Korea sangat menghargai waktu," kata Sena.
Peneliti RSIS Singapura Adhi Priamarizki menyoroti tentang berbagai kerja sama triple helix yang dilakukan oleh Singapura. Ia menyoroti pentingnya embentukkan ekosistem kondusif untuk industri pertahanan yang tentunya membutuhkan tiga faktor yang saling menunjang yaitu regulasi, birokrasi, dan insentif.
Menurut Adhi, salah satu situasi yang pentingnya adalah sentralitas Kementerian Pertahanan khususnya KKIP yang diantaranya menjadi titik temu komunikasi antara pendana, pengguna, pembuat dan pengembang. Ia kembali menggarisbawahi pernyataan Dena bahwa dibutuhkan sebuah lembaga riset terpusat khusus untuk pertahanan.
Dia membagikan salah satu pengalaman ketika Kemenhan membeli kendaraan tempur (ranpur) 6x6 dari Korea Selatan. Padahal, menurut Sena, PT Pindad sebenarnya sudah buat membuat ranpur Anoa.
"Kenapa harus masih beli? Ini konon karena kita beli kendaraan bisa berenang, kita tak bisa buat kendaraan tempur seberat itu untuk bisa berenang. Akhirnya kita beli dari Korea," kata Sena.
Selama tinggal di Korsel untuk belajar memahami produksi ranpur 6x6, ia hanya belajar teori saja tentang ranpur amfibi. Ketika ingin membongkar ranpur maka ia dan tim kesulitan memasangnya lagi.
"Terbukti tiga bulan saya tinggal bulan di Korsel hampir tidak ada, almost nothing, Korea hanya memberi secara teori tentang amfibi, padahal merakit di Indonesia sudah bisa,” kata Sena.
Sena melanjutkan, karena tak ingin pulang dengan tangan kosong, ia dan delegasi PT Pindadakhirnya memilih belajar etos kerja dari warga Korsel. Dia mendapati, pekerja lokal Korsel sangat menghargai waktu dan ketika jam istirahat selesai, mereka langsung melanjutkan pekerjaannya.
"Mereka selesai makan, langsung berdiri. Betapa waktu sangat berharga, orang Korea sangat menghargai waktu," kata Sena.
Peneliti RSIS Singapura Adhi Priamarizki menyoroti tentang berbagai kerja sama triple helix yang dilakukan oleh Singapura. Ia menyoroti pentingnya embentukkan ekosistem kondusif untuk industri pertahanan yang tentunya membutuhkan tiga faktor yang saling menunjang yaitu regulasi, birokrasi, dan insentif.
Menurut Adhi, salah satu situasi yang pentingnya adalah sentralitas Kementerian Pertahanan khususnya KKIP yang diantaranya menjadi titik temu komunikasi antara pendana, pengguna, pembuat dan pengembang. Ia kembali menggarisbawahi pernyataan Dena bahwa dibutuhkan sebuah lembaga riset terpusat khusus untuk pertahanan.
(shf)
Lihat Juga :