Zero Terrorist Attack Bukan Jaminan, Waspada Tetap Harus Ditingkatkan
Selasa, 10 Juni 2025 - 00:13 WIB
loading...
A
A
A
Ia mengungkapkan, hasil survei nasional laboratorium psikologi politik tahun 2021 menunjukkan indeks potensi konflik tertinggi di Indonesia adalah di wilayah-wilayah yang pernah terjadi konflik sebelumnya. Ini merupakan peringatan bagi pemerintah untuk menyusun mitigasi terjadinya konflik di wilayah wilayah tersebut yang bisa memungkinkan resiko-resiko itu berkembang menjadi ke arah kekerasan ekstrem.
"Perlu mengobservasi dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mungkin terjadi di wilayah-wilayah bekas konflik itu," ujarnya.
Sebagai peneliti yang fokus riset terkait terorisme, ekstremisme, radikalisme dan ideologi politik ini mengungkapkan kelompok teroris yang tampaknya tenang dalam periode tertentu sebenarnya mungkin sedang menggunakan strategi wait and see. Menurut Mirra, strategi ini adalah langkah rasional untuk mempertahankan tujuan mereka.
Oleh karena itu, Doktor Psikologi lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menekankan pentingnya peran negara dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang inklusif, sehingga individu yang rentan terhadap radikalisasi tidak merasa terpinggirkan. Menurutnya, tantangan besar ke depan adalah bagaimana membangun ketahanan sosial dan melibatkan semua pihak, mulai dari keluarga, komunitas, lembaga pendidikan, hingga pemerintah.
"Sekarang adalah waktu yang tepat untuk fokus pada strategi pencegahan dan membangun daya tahan komunitas," kata Mirra.
"Perlu mengobservasi dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mungkin terjadi di wilayah-wilayah bekas konflik itu," ujarnya.
Sebagai peneliti yang fokus riset terkait terorisme, ekstremisme, radikalisme dan ideologi politik ini mengungkapkan kelompok teroris yang tampaknya tenang dalam periode tertentu sebenarnya mungkin sedang menggunakan strategi wait and see. Menurut Mirra, strategi ini adalah langkah rasional untuk mempertahankan tujuan mereka.
Oleh karena itu, Doktor Psikologi lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menekankan pentingnya peran negara dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang inklusif, sehingga individu yang rentan terhadap radikalisasi tidak merasa terpinggirkan. Menurutnya, tantangan besar ke depan adalah bagaimana membangun ketahanan sosial dan melibatkan semua pihak, mulai dari keluarga, komunitas, lembaga pendidikan, hingga pemerintah.
"Sekarang adalah waktu yang tepat untuk fokus pada strategi pencegahan dan membangun daya tahan komunitas," kata Mirra.
(abd)
Lihat Juga :