Zero Terrorist Attack Bukan Jaminan, Waspada Tetap Harus Ditingkatkan

Selasa, 10 Juni 2025 - 00:13 WIB
loading...
Zero Terrorist Attack...
Guru Besar Fakultas Psikologi UI, Prof Mirra Noor Milla menilai ancaman terorisme di masa depan akan semakin tersembunyi dan sulit dideteksi, sehingga kewaspadaan harus tetap ditingkatkan. FOTO/IST
A A A
JAKARTA - Indonesia mencatatkan zero terrorist atau nol serangan teroris dalam dua tahun terakhir. Meski begitu, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan untuk mengantisipasi ancaman terorisme.

Menurut laporan The European Union Terrorism Situation and Trend Report (EU TE-SAT) 2024, meskipun tidak terjadi serangan teroris, sejumlah insiden yang gagal atau digagalkan juga menjadi bagian dari indikator yang perlu diperhatikan. Setidaknya, pada 2024, Uni Eropa mencatatkan 120 serangan teroris, dengan serangan berbasis 'keagamaan' menjadi hal yang paling membahayakan.

Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof Mirra Noor Milla mengatakan, meskipun Indonesia telah berhasil meredam aksi terorisme, namun ancaman tersebut tidak hilang sepenuhnya. Menurutnya, ancaman terorisme di masa depan akan semakin tersembunyi dan sulit dideteksi, sehingga kewaspadaan harus tetap ditingkatkan.

"Ancaman terorisme masih ada, dan kita perlu memperkuat sistem deteksi dini untuk memitigasi potensi serangan sebelum terjadi," kata Prof Mirra di Jakarta, Senin (9/6/2025).

Salah satu bukti ancaman nyata adalah adanya penangkapan terduga anggota terorisme beriinisial MAS (18) yang ditangkap oleh Densus 88 Anti Teror pada 24 Mei 2025 di Gowa, Sulawesi Selatan. MAS diduga menjadi anggota kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang terafiliasi dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Juga penyebar propaganda ISIS di Purworejo beberapa waktu lalu.

Oleh karena itu, menurut Mirra, penting untuk menyeimbangkan antara optimisme akan pencapaian zero terrorist attack dengan kewaspadaan terhadap potensi ancaman yang lebih sulit terlihat. Mirra menekankan bahwa kelompok teroris dapat beradaptasi, bermetamorfosis baik dalam strategi maupun di dalam kelompoknya itu sendiri.

"Apa yang perlu kita lakukan adalah kita harus terus mengamati, terus mengobservasi, mengidentifikasi untuk mengenali potensi resiko itu, termasuk environment yang mendukung terjadinya serangan terorisme," kata Mirra.

Ia mengungkapkan, hasil survei nasional laboratorium psikologi politik tahun 2021 menunjukkan indeks potensi konflik tertinggi di Indonesia adalah di wilayah-wilayah yang pernah terjadi konflik sebelumnya. Ini merupakan peringatan bagi pemerintah untuk menyusun mitigasi terjadinya konflik di wilayah wilayah tersebut yang bisa memungkinkan resiko-resiko itu berkembang menjadi ke arah kekerasan ekstrem.

"Perlu mengobservasi dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mungkin terjadi di wilayah-wilayah bekas konflik itu," ujarnya.

Sebagai peneliti yang fokus riset terkait terorisme, ekstremisme, radikalisme dan ideologi politik ini mengungkapkan kelompok teroris yang tampaknya tenang dalam periode tertentu sebenarnya mungkin sedang menggunakan strategi wait and see. Menurut Mirra, strategi ini adalah langkah rasional untuk mempertahankan tujuan mereka.

Oleh karena itu, Doktor Psikologi lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menekankan pentingnya peran negara dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang inklusif, sehingga individu yang rentan terhadap radikalisasi tidak merasa terpinggirkan. Menurutnya, tantangan besar ke depan adalah bagaimana membangun ketahanan sosial dan melibatkan semua pihak, mulai dari keluarga, komunitas, lembaga pendidikan, hingga pemerintah.

"Sekarang adalah waktu yang tepat untuk fokus pada strategi pencegahan dan membangun daya tahan komunitas," kata Mirra.
(abd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Densus Ungkap 247 Anak...
Densus Ungkap 247 Anak Terpapar Radikalisme dan Kekerasan Sepanjang 2026
Prabowo Terbitkan Perpres...
Prabowo Terbitkan Perpres Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Mengarah Terorisme
Kasus Penyiraman Air...
Kasus Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS, Prabowo: Ini Terorisme, Tindakan Biadab Harus Diusut
Dampak Nyata Perang...
Dampak Nyata Perang Iran dan AS-Israel Terhadap Keamanan Indonesia
Zero Terrorist Attack...
Zero Terrorist Attack di Era Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Lemkapi: Pencapaian Besar Polri
Ekstremisme Kekerasan...
Ekstremisme Kekerasan di Asia Tenggara
Dosen UIN Sunan Ampel:...
Dosen UIN Sunan Ampel: Dana Asing Tak Dilarang tapi Negara Wajib Mengawasi
Polda Riau Perkuat Kolaborasi...
Polda Riau Perkuat Kolaborasi Strategis dengan Polis Malaysia Tangani Narkoba hingga Terorisme
Terhubung dengan Radikalisme,...
Terhubung dengan Radikalisme, Telegram Memblokir Hampir 190.000 Akun Berbahaya
Rekomendasi
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
Bongkar Gudang Penyimpanan...
Bongkar Gudang Penyimpanan Kosmetik Impor Ilegal di Tangerang, BPOM Ungkap Modus Operandi dan Peredaran
KKP Pertegas Komitmen...
KKP Pertegas Komitmen Perkuat Pengawasan pada Momentum Hari Internasional Anti IUU Fishing
Berita Terkini
KontraS Kritik Tuntutan...
KontraS Kritik Tuntutan 2,5 Tahun Penjara untuk Terdakwa Penyiraman Andrie Yunus
Revisi UU Polri, Menteri...
Revisi UU Polri, Menteri Pigai Usulkan Sejumlah Jabatan Utama Bisa Diisi Sipil
Film Pesta Babi Bergeser...
Film Pesta Babi Bergeser dari Kritik Sosial Jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua
KPK Angkut Moge, Mobil...
KPK Angkut Moge, Mobil Mewah, dan Sepeda usai Geledah Rumah Silmy Karim
Ancam 6 Juta Tenaga...
Ancam 6 Juta Tenaga Kerja, Wacana Kemasan Polos Harus Dibatalkan
DPR Minta KAI Bereskan...
DPR Minta KAI Bereskan Dulu Konektivitas Sebelum Bangun Jalur Kereta Aceh-Lampung
Infografis
Waspada 8 Gejala Awal...
Waspada 8 Gejala Awal Hipertensi, Jangan Dianggap Sepele
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved