PPP Jakbar Minta Romahurmuziy Menahan Diri Bercawe-cawe Ria Jelang Muktamar
Sabtu, 31 Mei 2025 - 14:26 WIB
loading...
Manuver Ketua Majelis Pertimbangan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy alias Rommy menjelang Muktamar ke X PPP dikritik internal partai berlambang kabah tersebut. Foto/Dok SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Manuver Ketua Majelis Pertimbangan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy alias Rommy menjelang Muktamar ke X PPP dikritisi oleh Sekretaris DPC PPP Jakarta Barat (Jakbar) Sugeng Siswanto. Sugeng meminta Rommy bisa menahan diri bercawe-cawe ria.
Sugeng mengatakan, pemilihan pemimpin PPP adalah sebuah dinamika yang penting. Karena, lanjut dia, pemimpin akan menentukan arah kebijakan dan strategi partai.
Dia menuturkan, dinamika internal juga bisa mencakup konflik internal yang mungkin terjadi di dalam partai, seperti perselisihan kepentingan baik jangka panjang atau sesaat.
Baca juga: Rommy Tegaskan Posisi Ketum PPP Terbuka bagi Siapa Pun, Termasuk Anies Baswedan
“Sungguh aneh bin ajaib ada pimpinan PPP yang menaruh luka di dalam dan di luar partai, kini syairnya bagai yang paling berjasa untuk partai membuat statement seolah PPP masih ada Gue, masih perlu Gue,” kata Sugeng dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (31/5/2025).
“Bahkan, menjelang muktamar sudah menggalang dukungan untuk calon dari eksternal serta menjadi operator dari calon ketua umum tersebut yang belum mendeklarasikan dirinya untuk bersaing merebut kursi ketua umum di arena muktamar,” sambungnya.
Dia menjelaskan, muktamar adalah gerbang PPP untuk mencerahkan dan menjalankan programnya menghadapi Pemilu 2029 agar bisa merebut kursi-kursi yang hilang di 2024. “Pemilu 2024, yang dipimpin oleh Plt Ketua Umum Bapak Muhamad Mardiono, cukup menjanjikan dan banyak terobosan dalam melakukan konsolidasi,” ujar Sugeng.
Baca juga: Kader PPP Jakarta Ingatkan Rommy: Emang Nggak Ada Kerjaan Ya, Kasak Kusuk Terus
“Namun apa hendak dikata, PPP sedang diuji akibat rekam jejak 2019, partai yang dijauhi umat dengan ketua umum Romahurmuziy dengan kasusnya yang menggemparkan peta politik nasional,” tambahnya.
Dia mengingatkan bahwa masyarakat masih sangat malu pada PPP di 2019 hingga efeknya PPP tidak mampu mencapai ambang batas parlemen (parliamentary threshold) di Pemilu 2024. Menurut dia, sejarah kelam PPP di 2019 masih terasa di mental-mental kader militan partai.
“Sebagai kader dan fungsionaris partai, saya mengatakan agar mantan ketua umum PPP Mas Rommy, untuk bisa menahan diri bercawe-cawe ria dan memframing media,” kata dia.
Dia berpendapat, apa pun yang dinarasikan Rommy di media massa tentang dinamika dan perubahan untuk PPP ke depan tetap tidak didengar oleh sebagian besar warga PPP karena rekam jejak 2019 masih melekat dalam ingatan warga PPP.
“Biarkan semua jajaran PH DPP-DPW dan DPC menentukan pimpinan yang terbaik untuk pemantapan strategi 2029 di arena muktamar,” pungkasnya.
Sugeng mengatakan, pemilihan pemimpin PPP adalah sebuah dinamika yang penting. Karena, lanjut dia, pemimpin akan menentukan arah kebijakan dan strategi partai.
Dia menuturkan, dinamika internal juga bisa mencakup konflik internal yang mungkin terjadi di dalam partai, seperti perselisihan kepentingan baik jangka panjang atau sesaat.
Baca juga: Rommy Tegaskan Posisi Ketum PPP Terbuka bagi Siapa Pun, Termasuk Anies Baswedan
“Sungguh aneh bin ajaib ada pimpinan PPP yang menaruh luka di dalam dan di luar partai, kini syairnya bagai yang paling berjasa untuk partai membuat statement seolah PPP masih ada Gue, masih perlu Gue,” kata Sugeng dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (31/5/2025).
“Bahkan, menjelang muktamar sudah menggalang dukungan untuk calon dari eksternal serta menjadi operator dari calon ketua umum tersebut yang belum mendeklarasikan dirinya untuk bersaing merebut kursi ketua umum di arena muktamar,” sambungnya.
Dia menjelaskan, muktamar adalah gerbang PPP untuk mencerahkan dan menjalankan programnya menghadapi Pemilu 2029 agar bisa merebut kursi-kursi yang hilang di 2024. “Pemilu 2024, yang dipimpin oleh Plt Ketua Umum Bapak Muhamad Mardiono, cukup menjanjikan dan banyak terobosan dalam melakukan konsolidasi,” ujar Sugeng.
Baca juga: Kader PPP Jakarta Ingatkan Rommy: Emang Nggak Ada Kerjaan Ya, Kasak Kusuk Terus
“Namun apa hendak dikata, PPP sedang diuji akibat rekam jejak 2019, partai yang dijauhi umat dengan ketua umum Romahurmuziy dengan kasusnya yang menggemparkan peta politik nasional,” tambahnya.
Dia mengingatkan bahwa masyarakat masih sangat malu pada PPP di 2019 hingga efeknya PPP tidak mampu mencapai ambang batas parlemen (parliamentary threshold) di Pemilu 2024. Menurut dia, sejarah kelam PPP di 2019 masih terasa di mental-mental kader militan partai.
“Sebagai kader dan fungsionaris partai, saya mengatakan agar mantan ketua umum PPP Mas Rommy, untuk bisa menahan diri bercawe-cawe ria dan memframing media,” kata dia.
Dia berpendapat, apa pun yang dinarasikan Rommy di media massa tentang dinamika dan perubahan untuk PPP ke depan tetap tidak didengar oleh sebagian besar warga PPP karena rekam jejak 2019 masih melekat dalam ingatan warga PPP.
“Biarkan semua jajaran PH DPP-DPW dan DPC menentukan pimpinan yang terbaik untuk pemantapan strategi 2029 di arena muktamar,” pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :