Suara Aktivis se-Asia Pasifik Tuntut Kemerdekaan Palestina Menggema dari Bandung
Minggu, 25 Mei 2025 - 21:20 WIB
loading...
Aktivis pro-Palestina dari berbagai negara napak tilas ke Gedung Merdeka tempat pelaksanaan KAA 1955. Foto/IST
A
A
A
BANDUNG - Ratusan aktivis se-Asia Pasifik menyerukan dan menuntut kemerdekaan Palestina . Suara lantang para aktivis itu menggema dalam Konferensi Internasional untuk Palestina di Hotel Savoy Homman, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu (25/5/2025).
Konferensi yang digelar Koalisi Perempuan Indonesia Peduli Al-Aqsha (KPIPA) itu, memfasilitasi insan media Indonesia bicara langsung dengan jurnalis Al-Jazeera yang selama ini meliput dari Gaza. Mereka bertemu lewat konferensi pers bertajuk “Beritakan Kami, Jangan Diam”.
Youmna Al-Sayed, jurnalis Al Jazeera yang dikenal lewat liputan-liputannya dari Gaza, berkisah tentang betapa sulitnya menjalankan tugas sebagai pewarta di tengah genosida, videonya melaporkan langusng saat Israel ledakkan bom di latar belakangnya masih bisa ditemukan dengan mudah di internet.
Baca juga: 4 Poin Sikap PKS terhadap Krisis Kemanusiaan di Gaza
“Kami bekerja dari mana pun kami bisa, dari rumah sakit, reruntuhan, tempat pengungsian. Kami kehilangan rekan, kehilangan kantor, kehilangan listrik, kehilangan makanan dan air, tapi kami tidak kehilangan komitmen untuk menyampaikan kebenaran,” kata Youmna.
Kisah Youmna diperkuat oleh Maher Atiya Abu Qouta, juru kamera yang bekerja bersama Youmna di Gaza. Maher menceritakan bagaimana mereka melihat tubuh-tubuh bergelimpangan, kondisi yang dia sebut sebagai worst inhumanity, tapi harus tetap bersikap profesional.
“Kami tahu nyawa kami terancam, tapi kami tetap bertahan karena kami punya tanggung jawab memperlihatkan kebrutalan ini pada dunia” kata Maher.
Baca juga: Bertemu Perdana Menteri China, Puan Minta Dukungan Akhiri Perang di Gaza
Menurut Youmna dan Maher, aksi boikot terhadap produk pendukung Israel sangat berdampak. “Boikot memukul ekonomi mereka. Protes memberi tekanan. Selama kita bersuara, kita menciptakan perubahan” ujar Youmna.
Dari sisi advokasi internasional, Dr Fauziah Hassan yang pernah ikut misi kemanusiaan Freedom Flotilla kemudian kapalnya ditembak Israel mengabarkan bahwa satu kapal akan kembali berlayar pertengahan Juni 2025, membawa aktivis dari lebih 30 negara untuk menembus pengepungan Israel.
“Kami tidak akan lagi bergerak diam-diam. Dunia harus tahu ada kapal yang sedang menuju Gaza, dan kami akan membawa suara kebebasan” kata Dr Fauziah.
Sementara itu, Dr Shazra perwakilan dari Maladewa menyatakan bahwa aktivis di negaranya terus melawan dan mengedukasi rakyat, meski menghadapi represi bahkan ia sendiri pernah dipenjara lantaran dinilai terlalu keras menggaungkan protes, ia rutin berdemo berdua temannya di depan Kedubes Saudi.
“Kami tidak mendukung solusi dua negara. Palestina harus bebas sepenuhnya, dari West Bank hingga Gaza,” kata Dr Shazra.
Ketua Panitia Konferensi Ir Maryam Rachmayani, STh MM mengatakan, suara perempuan Asia Pasifik semakin menggema kuat di negaranya masing-masing.
“Mereka bergerak dengan caranya, menggerakkan komunitas di tengah keterbatasan, dan hari ini kita satukan energi itu di Bandung, untuk Palestina,” kata Maryam.
Sejalan dengan pernyataan Maryam, Ketua KPIPA Nurjanah Hulwani SAg ME mengatakan, KPIPA ingin memastikan aksi nyata untuk perempuan dan anak Palestina dilakukan dengan cepat dan terukur. Apa yang sudah kita bangun di Asia Pasifik, harapannya bisa menggema ke seluruh dunia.
"Konferensi pers ini menjadi satu dari serangkaian kegiatan Konferensi Asia Pasifik untuk Al-Quds dan Palestina di Bandung. Agenda ini jadi bukti bahwa gerakan perempuan dan media tidak pernah diam, mereka akan terus berisik menuntut keadilan dan kemerdekaan Palestina," kata Nurjanah.
Konferensi yang digelar Koalisi Perempuan Indonesia Peduli Al-Aqsha (KPIPA) itu, memfasilitasi insan media Indonesia bicara langsung dengan jurnalis Al-Jazeera yang selama ini meliput dari Gaza. Mereka bertemu lewat konferensi pers bertajuk “Beritakan Kami, Jangan Diam”.
Youmna Al-Sayed, jurnalis Al Jazeera yang dikenal lewat liputan-liputannya dari Gaza, berkisah tentang betapa sulitnya menjalankan tugas sebagai pewarta di tengah genosida, videonya melaporkan langusng saat Israel ledakkan bom di latar belakangnya masih bisa ditemukan dengan mudah di internet.
Baca juga: 4 Poin Sikap PKS terhadap Krisis Kemanusiaan di Gaza
“Kami bekerja dari mana pun kami bisa, dari rumah sakit, reruntuhan, tempat pengungsian. Kami kehilangan rekan, kehilangan kantor, kehilangan listrik, kehilangan makanan dan air, tapi kami tidak kehilangan komitmen untuk menyampaikan kebenaran,” kata Youmna.
Kisah Youmna diperkuat oleh Maher Atiya Abu Qouta, juru kamera yang bekerja bersama Youmna di Gaza. Maher menceritakan bagaimana mereka melihat tubuh-tubuh bergelimpangan, kondisi yang dia sebut sebagai worst inhumanity, tapi harus tetap bersikap profesional.
“Kami tahu nyawa kami terancam, tapi kami tetap bertahan karena kami punya tanggung jawab memperlihatkan kebrutalan ini pada dunia” kata Maher.
Baca juga: Bertemu Perdana Menteri China, Puan Minta Dukungan Akhiri Perang di Gaza
Menurut Youmna dan Maher, aksi boikot terhadap produk pendukung Israel sangat berdampak. “Boikot memukul ekonomi mereka. Protes memberi tekanan. Selama kita bersuara, kita menciptakan perubahan” ujar Youmna.
Dari sisi advokasi internasional, Dr Fauziah Hassan yang pernah ikut misi kemanusiaan Freedom Flotilla kemudian kapalnya ditembak Israel mengabarkan bahwa satu kapal akan kembali berlayar pertengahan Juni 2025, membawa aktivis dari lebih 30 negara untuk menembus pengepungan Israel.
“Kami tidak akan lagi bergerak diam-diam. Dunia harus tahu ada kapal yang sedang menuju Gaza, dan kami akan membawa suara kebebasan” kata Dr Fauziah.
Sementara itu, Dr Shazra perwakilan dari Maladewa menyatakan bahwa aktivis di negaranya terus melawan dan mengedukasi rakyat, meski menghadapi represi bahkan ia sendiri pernah dipenjara lantaran dinilai terlalu keras menggaungkan protes, ia rutin berdemo berdua temannya di depan Kedubes Saudi.
“Kami tidak mendukung solusi dua negara. Palestina harus bebas sepenuhnya, dari West Bank hingga Gaza,” kata Dr Shazra.
Ketua Panitia Konferensi Ir Maryam Rachmayani, STh MM mengatakan, suara perempuan Asia Pasifik semakin menggema kuat di negaranya masing-masing.
“Mereka bergerak dengan caranya, menggerakkan komunitas di tengah keterbatasan, dan hari ini kita satukan energi itu di Bandung, untuk Palestina,” kata Maryam.
Sejalan dengan pernyataan Maryam, Ketua KPIPA Nurjanah Hulwani SAg ME mengatakan, KPIPA ingin memastikan aksi nyata untuk perempuan dan anak Palestina dilakukan dengan cepat dan terukur. Apa yang sudah kita bangun di Asia Pasifik, harapannya bisa menggema ke seluruh dunia.
"Konferensi pers ini menjadi satu dari serangkaian kegiatan Konferensi Asia Pasifik untuk Al-Quds dan Palestina di Bandung. Agenda ini jadi bukti bahwa gerakan perempuan dan media tidak pernah diam, mereka akan terus berisik menuntut keadilan dan kemerdekaan Palestina," kata Nurjanah.
(rca)
Lihat Juga :