Koordinator Staf Khusus Presiden: Bali Perlu Seimbangkan antara Gas dan Rem
Senin, 07 September 2020 - 19:39 WIB
loading...
A
A
A
Pada kuartal I tahun 2020, saat ekonomi Indonesia tumbuh 2.97%, pertumbuhan ekonomi Bali mengalami kontraksi (minus 1.14%); dan pada kuartal II saat perekonomian nasional terkontraksi (minus 5.32%), perekonomian Bali mengalami kontraksi paling dalam dibandingkan seluruh provinsi di Indonesia yaitu (minus 10.98%). ”Selain Bali, tercatat lima provinsi lain yang juga mengalami kontraksi cukup dalam yaitu secara berturut-turut Provinsi DKI Jakarta (minus 8,22); Provinsi Banten (minus 7,40); Provinsi DI Yogyakarta (minus 6,74) dan Provinsi Kepulauan Riau (minus 6,66) serta Provinsi Jawa Barat (minus 5.98),” katanya. (Baca juga: Pemprov Bali Bersama Majelis Adat Bentuk Satgas Lawan Covid-19)
Ari Dwipayana menegaskan posisi Bali sebagai destinasi pariwisata unggulan Indonesia serta destinasi utama pariwisata Indonesia membuat penanganan Covid-19 di Provinsi Bali semakin penting dan mendesak. Anjoknya ekonomi Bali berdampak pada daerah daerah lain. Banyak aktivitas perekonomian di daerah lain yang terkait pariwisata Bali terkena dampak atas penurunan aktivitas pariwisata di Bali.
Secara keseluruhan, kata Ari Dwipayana, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia pada Juli 2020 jika dibandingkan dengan Juli 2019 mengalami penurunan minus 89,12% atau 159,8 ribu pada Juli 2020, sedangkan pada Juli 2019 mencapai 1.468,2 ribu.
Jumlah kunjungan wisman Januari-Juli 2020 menurun 64,64% dibanding Januari-Juli 2019. Perkembangan tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel Klasifikasi Bintang pada Juli 2020 mencapai rata-rata 28,07% atau turun 28,66 poin dibandingkan TPK Juli 2019 sebesar 56,73%. Begitu juga penerbangan domestik Juli 2020 dibandingkan Juli 2019 mengalami penurunan 79,58%.
”Karena itu kesiapan Bali untuk menggerakkan kembali sektor pariwisata sangat penting dan strategis maknanya bagi mengeliatnya kembali sektor pariwisata di daerah lain di Indonesia. Untuk itu berbagai persiapan untuk memulihkan kepercayaaan dan membuat wisatawan merasa aman untuk datang ke Bali kembali sangat diperlukan,” katanya.
Ari Dwipayana mengingatkan, berdasarkan hasil survei terlihat jelas masih adanya kekhawatiran di kalangan kelas menengah untuk bepergian, berbelanja dan berwisata. Mereka enggan berwisata karena merasa tidak aman dan khawatir tertukar Covid-19. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah, Pemerintah Provinsi Bali dan juga pelaku industri pariwisata untuk membangun safe travel.
Ari Dwipayana menegaskan posisi Bali sebagai destinasi pariwisata unggulan Indonesia serta destinasi utama pariwisata Indonesia membuat penanganan Covid-19 di Provinsi Bali semakin penting dan mendesak. Anjoknya ekonomi Bali berdampak pada daerah daerah lain. Banyak aktivitas perekonomian di daerah lain yang terkait pariwisata Bali terkena dampak atas penurunan aktivitas pariwisata di Bali.
Secara keseluruhan, kata Ari Dwipayana, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia pada Juli 2020 jika dibandingkan dengan Juli 2019 mengalami penurunan minus 89,12% atau 159,8 ribu pada Juli 2020, sedangkan pada Juli 2019 mencapai 1.468,2 ribu.
Jumlah kunjungan wisman Januari-Juli 2020 menurun 64,64% dibanding Januari-Juli 2019. Perkembangan tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel Klasifikasi Bintang pada Juli 2020 mencapai rata-rata 28,07% atau turun 28,66 poin dibandingkan TPK Juli 2019 sebesar 56,73%. Begitu juga penerbangan domestik Juli 2020 dibandingkan Juli 2019 mengalami penurunan 79,58%.
”Karena itu kesiapan Bali untuk menggerakkan kembali sektor pariwisata sangat penting dan strategis maknanya bagi mengeliatnya kembali sektor pariwisata di daerah lain di Indonesia. Untuk itu berbagai persiapan untuk memulihkan kepercayaaan dan membuat wisatawan merasa aman untuk datang ke Bali kembali sangat diperlukan,” katanya.
Ari Dwipayana mengingatkan, berdasarkan hasil survei terlihat jelas masih adanya kekhawatiran di kalangan kelas menengah untuk bepergian, berbelanja dan berwisata. Mereka enggan berwisata karena merasa tidak aman dan khawatir tertukar Covid-19. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah, Pemerintah Provinsi Bali dan juga pelaku industri pariwisata untuk membangun safe travel.
Lihat Juga :