BPOM Terbitkan Izin Edar Obat Deteksi Dini Kanker yang Dikembangkan Bio Farma
Kamis, 22 Mei 2025 - 01:08 WIB
loading...
A
A
A
Ketiga, ujar Taruna, SDM Indonesia ditantang oleh perkembangan teknologi yang pesat. "Oleh karena itu, peran berbagai stakeholder kesehatan sangat penting dalam menyikapi tantangan ini.” ujar Taruna.
Taruna menuturkan, BPOM mendorong pengembangan produk yang berhubungan dengan produk inovasi, salah satunya radiofarmaka untuk menghadapi penyakit khususnya kanker.
“Radiofarmaka itu penting. Kita tahu banyak penyakit yang bisa dipercepat penyembuhannya lewat penggunaan radiofarma, salah satunya adalah penyakit kanker," tuturnya.
Radiofarmaka, kata Taruna, merupakan produk inovatif untuk menghadapi tantangan cepatnya perkembangan penyakit dewasa ini. Kemarin, menghadapi kanker dengan metode kemoterapi dan radioterapi.
"Namun saat ini, radiofarmaka menjadi salah satu metode terbaru dalam menghadapi kanker. Kami meyakini Bio Farma bisa semakin melayani masyarakat dengan menghasilkan produk-produk inovatif, salah satunya adalah radiofarmaka,” ucap Taruna.
Sementara itu, Yuliana Indriati mengatakan, NIE dari BPOM menandai pencapaian Bio Farma untuk mewujudkan kemandirian nasional di bidang radiofarmasi dan memperluas akses layanan kesehatan onkologi yang lebih cepat, akurat, dan terjangkau di seluruh Indonesia.
"Penerbitan NIE ini menjadi tonggak penting dalam transformasi Bio Farma sebagai pemain utama industri farmasi berteknologi tinggi. Ini membuka jalan bagi kemandirian teknologi radiofarmasi, yang selama ini sangat bergantung pada impor," kata Yuliana.
Menurut Yuliana, melalui penerbitan NIE, Bio Farma akan memproduksi dan mendistribusikan FDG secara nasional dari fasilitas produksi berlisensi dengan standar CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik), untuk mendukung rumah sakit rujukan nasional dan fasilitas onkologi di berbagai daerah.
"Untuk mempermudah proses pemesanan produk secara online, Bio Farma pun melakukan pengembangan sistem digital Ordering Management System (OMS).” ujarnya.
Taruna menuturkan, BPOM mendorong pengembangan produk yang berhubungan dengan produk inovasi, salah satunya radiofarmaka untuk menghadapi penyakit khususnya kanker.
“Radiofarmaka itu penting. Kita tahu banyak penyakit yang bisa dipercepat penyembuhannya lewat penggunaan radiofarma, salah satunya adalah penyakit kanker," tuturnya.
Radiofarmaka, kata Taruna, merupakan produk inovatif untuk menghadapi tantangan cepatnya perkembangan penyakit dewasa ini. Kemarin, menghadapi kanker dengan metode kemoterapi dan radioterapi.
"Namun saat ini, radiofarmaka menjadi salah satu metode terbaru dalam menghadapi kanker. Kami meyakini Bio Farma bisa semakin melayani masyarakat dengan menghasilkan produk-produk inovatif, salah satunya adalah radiofarmaka,” ucap Taruna.
Sementara itu, Yuliana Indriati mengatakan, NIE dari BPOM menandai pencapaian Bio Farma untuk mewujudkan kemandirian nasional di bidang radiofarmasi dan memperluas akses layanan kesehatan onkologi yang lebih cepat, akurat, dan terjangkau di seluruh Indonesia.
"Penerbitan NIE ini menjadi tonggak penting dalam transformasi Bio Farma sebagai pemain utama industri farmasi berteknologi tinggi. Ini membuka jalan bagi kemandirian teknologi radiofarmasi, yang selama ini sangat bergantung pada impor," kata Yuliana.
Menurut Yuliana, melalui penerbitan NIE, Bio Farma akan memproduksi dan mendistribusikan FDG secara nasional dari fasilitas produksi berlisensi dengan standar CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik), untuk mendukung rumah sakit rujukan nasional dan fasilitas onkologi di berbagai daerah.
"Untuk mempermudah proses pemesanan produk secara online, Bio Farma pun melakukan pengembangan sistem digital Ordering Management System (OMS).” ujarnya.
Lihat Juga :