2 Tokoh Dokumenter Tragedi Mei 1998 Terima Penghargaan dari Yayasan 98 Peduli
Rabu, 21 Mei 2025 - 12:08 WIB
loading...
A
A
A
Sebagai informasi, almarhum Tino Saroengallo melalui karya film dokumenternya telah mengabadikan suara-suara korban dan jejak kekerasan dengan jujur dan mendalam. Sedangkan Firman Hidayatullah berhasil menangkap momen-momen penting dalam krisis 1998 melalui foto-foto yang kini menjadi referensi sejarah dan media pendidikan di berbagai ruang belajar.
Yayasan 98 Peduli percaya bahwa tanpa ingatan yang terawat, perjuangan masa lalu akan kehilangan maknanya, dan generasi muda kehilangan pijakan untuk melanjutkan perjuangan.
Karena itu, penghargaan ini bukan hanya bentuk apresiasi, tetapi juga ajakan kepada publik untuk terus menjaga semangat reformasi tetap hidup dengan pendidikan, dokumentasi, dan aksi sosial yang berkelanjutan.
Yayasan 98 Peduli juga menyadari bahwa di luar sana masih banyak kawan-kawan lain yang telah, sedang, dan terus melakukan kerja-kerja pendokumentasian serupa.
Untuk itu, Yayasan menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada mereka semua para jurnalis, pembuat film, fotografer, aktivis, dan pengarsip yang dengan penuh dedikasi telah membantu menjaga nyala ingatan sejarah bangsa.
Sebagai bentuk komitmen, Yayasan 98 Peduli berharap dapat berperan dalam menyebarluaskan dokumentasi-dokumentasi tersebut kepada publik, sebagai bagian dari pendidikan sejarah dan advokasi sosial, agar generasi muda tidak tercerabut dari akar sejarahnya dan mampu melanjutkan perjuangan menuju keadilan sosial.
“Ingatan adalah fondasi perjuangan. Tanpa ingatan yang terawat, masa lalu akan mudah dilupakan, dan perjuangan menjadi kehilangan arah. Kami berharap dokumentasi yang ada tidak hanya berhenti sebagai arsip, tetapi menjadi bagian dari pendidikan publik yang membebaskan.”
Yayasan 98 Peduli adalah organisasi sosial dan kemanusiaan yang didirikan oleh para aktivis 1998. Salah satu fokus program kerja Yayasan adalah terkait dokumentasi sejarah, pendidikan publik, dan penguatan nilai-nilai reformasi untuk mewujudkan keadilan sosial di Indonesia.
Yayasan 98 Peduli percaya bahwa tanpa ingatan yang terawat, perjuangan masa lalu akan kehilangan maknanya, dan generasi muda kehilangan pijakan untuk melanjutkan perjuangan.
Karena itu, penghargaan ini bukan hanya bentuk apresiasi, tetapi juga ajakan kepada publik untuk terus menjaga semangat reformasi tetap hidup dengan pendidikan, dokumentasi, dan aksi sosial yang berkelanjutan.
Yayasan 98 Peduli juga menyadari bahwa di luar sana masih banyak kawan-kawan lain yang telah, sedang, dan terus melakukan kerja-kerja pendokumentasian serupa.
Untuk itu, Yayasan menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada mereka semua para jurnalis, pembuat film, fotografer, aktivis, dan pengarsip yang dengan penuh dedikasi telah membantu menjaga nyala ingatan sejarah bangsa.
Sebagai bentuk komitmen, Yayasan 98 Peduli berharap dapat berperan dalam menyebarluaskan dokumentasi-dokumentasi tersebut kepada publik, sebagai bagian dari pendidikan sejarah dan advokasi sosial, agar generasi muda tidak tercerabut dari akar sejarahnya dan mampu melanjutkan perjuangan menuju keadilan sosial.
“Ingatan adalah fondasi perjuangan. Tanpa ingatan yang terawat, masa lalu akan mudah dilupakan, dan perjuangan menjadi kehilangan arah. Kami berharap dokumentasi yang ada tidak hanya berhenti sebagai arsip, tetapi menjadi bagian dari pendidikan publik yang membebaskan.”
Yayasan 98 Peduli adalah organisasi sosial dan kemanusiaan yang didirikan oleh para aktivis 1998. Salah satu fokus program kerja Yayasan adalah terkait dokumentasi sejarah, pendidikan publik, dan penguatan nilai-nilai reformasi untuk mewujudkan keadilan sosial di Indonesia.
(rca)
Lihat Juga :