DPR Minta Pemerintah dan Industri Bergerak Cepat Tangani Penurunan PMI Manufaktur
Senin, 19 Mei 2025 - 16:59 WIB
loading...
A
A
A
“Jika ini terus berlanjut maka akan berdampak pada masalah-masalah sosial. Kita tidak ingin ini terjadi. Karena itu kami di Komisi VII sebagai mitra Kementerian Perindustrian mengawal dan mendukung pemerintah untuk mencari solusi paling baik untuk menyelesaikan persoalan-persoalan ini,” katanya.
Baca juga: Tsunami PHK Gulung Indonesia, Bagaimana Kondisi Ekonomi?
PMI yang rendah juga mengindikasikan iklim bisnis yang lesu di mana investor cenderung menahan ekspansi bahkan menarik investasi. Bahkan jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat, PMI yang terus turun bisa memicu sentimen negatif di pasar keuangan, bahkan dunia usaha menjadi lebih pesimis, memperlambat keputusan ekspansi, perekrutan, dan inovasi.
Menurut Evita, di antara solusi dalam rangka menghadapi ketidakpastian global yang muncul akibat kebijakan tarif, di antaranya dengan memperluas pasar ekspor melalui optimalisasi perjanjian perdagangan internasional dan peningkatan daya saing produk dalam negeri, kemudian penataan iklim investasi asing agar banyak masuk ke Indonesia, hingga pemberian stimulus fiskal yang tepat sasaran kepada sektor manufaktur, dalam bentuk insentif pajak, subsidi energi, dan keringanan logistik, hingga fasilitasi pembiayaan.
Selain itu perlu juga terus memperluas pasar dalam negeri karena permintaan yang kuat dapat menjadi penyangga saat ekspor melemah atau ketidakpastian global meningkat. Antara lain dengan mendorong substitusi produk impor yang bertujuan mengurangi ketergantungan pada produk luar negeri dengan memaksimalkan konsumsi produk dalam negeri.
Baca juga: Tsunami PHK Gulung Indonesia, Bagaimana Kondisi Ekonomi?
PMI yang rendah juga mengindikasikan iklim bisnis yang lesu di mana investor cenderung menahan ekspansi bahkan menarik investasi. Bahkan jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat, PMI yang terus turun bisa memicu sentimen negatif di pasar keuangan, bahkan dunia usaha menjadi lebih pesimis, memperlambat keputusan ekspansi, perekrutan, dan inovasi.
Menurut Evita, di antara solusi dalam rangka menghadapi ketidakpastian global yang muncul akibat kebijakan tarif, di antaranya dengan memperluas pasar ekspor melalui optimalisasi perjanjian perdagangan internasional dan peningkatan daya saing produk dalam negeri, kemudian penataan iklim investasi asing agar banyak masuk ke Indonesia, hingga pemberian stimulus fiskal yang tepat sasaran kepada sektor manufaktur, dalam bentuk insentif pajak, subsidi energi, dan keringanan logistik, hingga fasilitasi pembiayaan.
Selain itu perlu juga terus memperluas pasar dalam negeri karena permintaan yang kuat dapat menjadi penyangga saat ekspor melemah atau ketidakpastian global meningkat. Antara lain dengan mendorong substitusi produk impor yang bertujuan mengurangi ketergantungan pada produk luar negeri dengan memaksimalkan konsumsi produk dalam negeri.
Lihat Juga :