Dari Malioboro ke New York: Kisah Transformasi Batik Riyanti ke Panggung Dunia

Selasa, 06 Mei 2025 - 22:30 WIB
loading...
Dari Malioboro ke New...
Dari sebuah toko batik di sudut Jalan Malioboro, Yogyakarta yang penuh sejarah, kini Batik Riyanti menapakkan kakinya di runway New York Fashion Week. Foto/Erfan Erlin
A A A
YOGYAKARTA - Dari sebuah toko batik di sudut Jalan Malioboro,Yogyakarta yang penuh sejarah, kini Batik Riyanti menapakkan kakinya di runway New York Fashion Week.

Sebuah lompatan yang tidak hanya membawa warisan budaya ke panggung global, tapi juga kisah inspiratif tentang adaptasi dan inovasi lintas generasi.

Baca juga: Pameran Batik dan Tekstil Indonesia Tampilkan Warisan Budaya di Potsdam Jerman

Batik Riyanti dirintis 18 tahun silam oleh Angelina Riyanti, seorang pengusaha batik yang berasal dari keluarga pebisnis retail di Yogyakarta.

Berbekal kecintaan pada budaya dan pengalaman panjang dalam dunia toko fisik, Angelina membuka gerai di kawasan strategis Malioboro, tempat lalu lintas wisatawan dan pecinta batik bertemu.

Estafet Generasi dan Inovasi Digital


Sang putra, Aditya Suryadinata, mengambil tongkat estafet usaha ini. Berbekal pendidikan teknik sipil di Bandung dan gelar magister dari London, Aditya membawa perspektif baru. Di luar negeri, ia melihat bagaimana belanja online menjadi kebiasaan. Ketika kembali ke Indonesia, ia pun terpikir meng-online-kan bisnis keluarga — ide yang sempat diragukan.

Baca juga: Pelajar dan Mahasiswa! Ini Pengertian Batik Secara Etimologis

Aditya memulai dari nol, yakni satu karyawan, satu komputer, dan promosi lewat Facebook. Saat itu, gaji karyawan Rp1 juta, sementara omzet bulanan hanya Rp700 ribu.

Namun perlahan, dengan hadirnya marketplace seperti Shopee dan perubahan perilaku belanja masyarakat, langkah digital Batik Riyanti mulai mendapat angin.



“Kami salah satu pionir batik yang masuk ke ranah online,” ujar Aditya.

“Dulu batik itu identik dengan RT, Lurah, dan acara formal. Kami ingin batik bisa dipakai meeting, ngopi, bahkan liburan,”lanjut Aditya menceritakan transformasi Batik Riyanti.

Transformasi Desain dan Pasar

Dari batik soga dan motif klasik yang sering diasosiasikan dengan gaya ibu-ibu, Batik Riyanti mulai mendesain koleksi yang lebih kekinian. Mereka menggabungkan batik dengan siluet modern, hingga menciptakan konsep couple dan family wear. Kini, batik dari Riyanti bisa dipakai anywhere, anytime.

Desain dikerjakan oleh tim kreatif bersama istri Aditya. Mereka tidak hanya menjual kain, tetapi produk jadi yang siap pakai. Mayoritas batik yang dijual adalah hasil printing — pilihan strategis untuk pasar online yang sangat visual.

“Batik tulis itu mahal dan sulit dijual ke pembeli pertama. Tapi yang penting mereka suka dulu. Setelah itu baru bisa dikenalkan ke batik tulis,” katanya.

Melewati Badai, Tumbuh di Era Pandemi


Pandemi COVID-19 menjadi titik balik. Toko fisik sempat tutup selama enam bulan, tapi justru di masa inilah penjualan online melonjak tajam.

Batik Riyanti aktif di semua platform, memanfaatkan live shopping dan program paylater.

Hingga kini, 70% penjualan masih berasal dari offline dengan 18 titik penjualan dan dua toko utama di Malioboro dan BSD.

Namun kehadiran online sangat penting untuk menjangkau konsumen baru dan memperkuat citra brand.

Dari Indonesia untuk Dunia


Inovasi dan konsistensi membawa Batik Riyanti tampil di panggung internasional: New York Fashion Week, Puteri Indonesia, hingga Jogja Fashion Week. Namun di balik gemerlap itu, mereka tetap menghadapi tantangan — dari peniruan desain hingga pengembangan bahan baku.

“Kami terus berusaha jaga kualitas dan layanan, karena customer online kami sering datang ke toko untuk merasakan langsung produknya,” ujar Aditya.

Kini, Batik Riyanti bukan sekadar merek batik. Ia adalah simbol adaptasi, keberanian, dan transformasi budaya — dari lorong Malioboro, hingga sorotan cahaya dunia.
(shf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kemendagri Gelar Pameran...
Kemendagri Gelar Pameran Batik Guna Perkuat Nilai Kebinekaan pada Generasi Muda
Cetak Inovator Digital...
Cetak Inovator Digital Muda Indonesia, Timedoor Academy Gelar Young Coders World Cup 2025
Budaya Tempe Ditargetkan...
Budaya Tempe Ditargetkan Masuk Daftar Warisan Budaya Takbenda Dunia pada 2026
Kementerian Kebudayaan...
Kementerian Kebudayaan Tetapkan 514 Warisan Budaya Takbenda Indonesia
Kebaya Resmi Dapat Sertifikat...
Kebaya Resmi Dapat Sertifikat Warisan Budaya Tak Benda Dunia UNESCO
Peringati Hari Wayang...
Peringati Hari Wayang Nasional, Senawangi Dorong Pekerja Seni Bangun Ketahanan Budaya
Digital Innovation Awards...
Digital Innovation Awards 2026 jadi Bukti Kekuatan Transformasi, Ini Daftar Pemenangnya
Batik Fair di Surabaya,...
Batik Fair di Surabaya, PGN Dorong Pemberdayaan UMKM dan Anak Disabilitas
Astranauts 2026, Akselerasi...
Astranauts 2026, Akselerasi Transformasi Digital dan Efisiensi untuk Perkuat Ekonomi
Rekomendasi
Starmer Didesak Mundur...
Starmer Didesak Mundur dari Jabatan Perdana Menteri Inggris
Mengenal Terapi Regeneratif,...
Mengenal Terapi Regeneratif, Pendekatan Medis untuk Peremajaan dan Pemulihan Jaringan
Indo Build Tech 2026,...
Indo Build Tech 2026, AMBPI Bawa Sejumlah Inovasi Baru
Berita Terkini
Din Syamsuddin Sebut...
Din Syamsuddin Sebut Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa Dipaksakan: Kezaliman yang Nyata
Periksa Silmy Karim,...
Periksa Silmy Karim, KPK Telusuri Asal-usul Aset
Ziarah ke Makam Soekarno...
Ziarah ke Makam Soekarno di Blitar, Kapolri: Menyerap Nilai Pemimpin Bangsa
Garda Bangsa Dukung...
Garda Bangsa Dukung Penuh Program Pemerintahan Prabowo
Kantor Imigrasi Denpasar...
Kantor Imigrasi Denpasar dan 2 Lokasi Lainnya Digeledah KPK, Bukti Elektronik hingga Dokumen Disita
Roy Suryo dan Dokter...
Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditahan, Din Syamsuddin Siap Jadi Penjamin
Infografis
5 Negara Produsen Jet...
5 Negara Produsen Jet Tempur Terbesar di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved