3 Jenderal Legendaris Sezaman Try Sutrisno, Berkarier di Kopassus hingga Penerima Adhi Makayasa
Jum'at, 02 Mei 2025 - 08:22 WIB
loading...
A
A
A
Setelah munculnya Gerakan 30 September (G30S) PKI pada 1965, Benny bergabung dengan Ali Moertopo untuk mengakhiri konfrontasi yang terjadi. Tak butuh waktu lama, gerakan tersebut berhasil ditumpas oleh Soeharto yang waktu itu masih menjadi Pangkostrad.
Setelah pergantian kekuasaan ke Orde Baru, karier LB Moerdani terbilang semakin moncer. Ia mulai dikenal sebagai salah satu tangan kanan Soeharto dalam bidang keamanan presiden dan negara. Kedekatannya itu bahkan membuat Soeharto merestuinya sebagai Panglima ABRI (TNI).
Benny lalu menggantikan Jenderal M Jusuf dan menjadi Panglima TNI pada periode 1983-1988. Pada 1988, kedekatan Benny dan Soeharto disebut tengah memburuk. Dianggap terlalu banyak melakukan kritik terhadap pemerintahan, ia lalu digantikan oleh Try Sutrisno sebagai Panglima ABRI.
Namun, Soeharto tidak langsung membuang LB Moerdani. Ia digeser menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan. Tak lama, LB Moerdani kembali mendapat tuduhan ingin melakukan kudeta terhadap Orde Baru. Pada 1993, jabatan Menteri Pertahanan dan Keamanan dicopot, lalu diberikan kepada Edi Sudrajat.
Setelah itu, LB Moerdani memilih vakum dari politik. Kegemilangan karier LB Moerdani mulai berubah total seiring waktu. Memasuki usia senja, Benny tinggal di kediamannya kawasan Hang Lekir, Jakarta Selatan dengan ditemani istri, anak tunggalnya, dan juga seorang perawat.
Untuk sekadar komunikasi, ia hanya dibantu lonceng karena memang waktu itu hidupnya sudah berada di atas kursi roda. Pada 29 Agustus 2004, Benny meninggal dunia dalam usia ke-71.
![3 Jenderal Legendaris Sezaman Try Sutrisno, Berkarier di Kopassus hingga Penerima Adhi Makayasa]()
Jenderal Rudini pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada 1983-1986. Selain itu juga pernah menjadi Panglima Kostrad (Pangkostrad). Karier militer Rudini dimulai saat menempuh pendidikan militer di Breda, Belanda.
Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, ia sempat berkuliah di Jakarta karena keinginan orang tuanya agar menjadi dokter. Namun, hatinya tetap tertuju pada dunia militer. Ia pernah mencoba mendaftar sebagai prajurit TNI AU, tetapi gagal karena tidak memenuhi syarat tinggi badan. Hingga akhirnya, pada Agustus 1951, ia mendengar kabar bahwa TNI AD membuka pendaftaran untuk pendidikan di Akademi Militer Kerajaan di Breda, Belanda.
Dalam suatu kesempatan, pria kelahiran Malang itu ditunjuk langsung oleh Presiden Soeharto menjadi KSAD. Kisahnya tercantum dalam buku biografi Jenderal M Jusuf: Panglima Para Prajurit karya Atmadji Sumarkidjo. Kala itu disebutkan bahwa Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima ABRI Jenderal M Jusuf memanggil Rudini ke rumahnya di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat.
Saat dipanggil oleh Panglima, Rudini sendiri tidak mengetahui alasan dirinya dipanggil. Ia pun merasa tegang menunggu perintah Jenderal M Jusuf. Betapa terkejutnya ia saat diberitahu bahwa dirinya telah ditunjuk sebagai KSAD.
“Kamu nanti menggantikan Poniman sebagai KSAD. Pelantikan oleh Presiden akan dilakukan dua hari lagi di Istana Negara,” ujar M Jusuf seperti yang tertulis dalam buku tersebut.
Mendengar hal itu, meski masih terkejut, Rudini hanya memberikan jawaban singkat, “Siap, Pak.”
Dalam buku biografinya Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto, Prabowo mengisahkan bahwa rencana pergantian KSAD ternyata juga sempat terdengar oleh Ibu Negara, Tien Soeharto.
Pada suatu jamuan makan malam di Jalan Cendana, Bu Tien menyampaikan harapannya kepada Presiden Soeharto agar Pangdam Udayana, Mayjen Dading Kalbuadi, yang terpilih sebagai KSAD.
“Itu lho Pak, yang bagus itu Pangdam Bali, Pak Dading. Tinggi, gagah, dan tampan. Cocok, sebaiknya dia yang jadi KSAD,” ujar Bu Tien seperti yang ditirukan oleh Prabowo. Mendengar hal itu, Pak Harto hanya tersenyum. Pada kesempatan makan malam berikutnya, Bu Tien kembali mengungkapkan harapan yang sama. Namun, lagi-lagi, Pak Harto hanya tersenyum dan berkata, “Masih digodok.”
Tak lama setelah itu, media massa memberitakan bahwa KSAD baru telah dipilih. Sosok tersebut adalah Rudini. Saat kembali menghadiri jamuan makan malam bersama Prabowo, Bu Tien terlihat kecewa.
Setelah pergantian kekuasaan ke Orde Baru, karier LB Moerdani terbilang semakin moncer. Ia mulai dikenal sebagai salah satu tangan kanan Soeharto dalam bidang keamanan presiden dan negara. Kedekatannya itu bahkan membuat Soeharto merestuinya sebagai Panglima ABRI (TNI).
Benny lalu menggantikan Jenderal M Jusuf dan menjadi Panglima TNI pada periode 1983-1988. Pada 1988, kedekatan Benny dan Soeharto disebut tengah memburuk. Dianggap terlalu banyak melakukan kritik terhadap pemerintahan, ia lalu digantikan oleh Try Sutrisno sebagai Panglima ABRI.
Namun, Soeharto tidak langsung membuang LB Moerdani. Ia digeser menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan. Tak lama, LB Moerdani kembali mendapat tuduhan ingin melakukan kudeta terhadap Orde Baru. Pada 1993, jabatan Menteri Pertahanan dan Keamanan dicopot, lalu diberikan kepada Edi Sudrajat.
Setelah itu, LB Moerdani memilih vakum dari politik. Kegemilangan karier LB Moerdani mulai berubah total seiring waktu. Memasuki usia senja, Benny tinggal di kediamannya kawasan Hang Lekir, Jakarta Selatan dengan ditemani istri, anak tunggalnya, dan juga seorang perawat.
Untuk sekadar komunikasi, ia hanya dibantu lonceng karena memang waktu itu hidupnya sudah berada di atas kursi roda. Pada 29 Agustus 2004, Benny meninggal dunia dalam usia ke-71.
2. Jenderal TNI (Purn) Rudini

Jenderal Rudini pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada 1983-1986. Selain itu juga pernah menjadi Panglima Kostrad (Pangkostrad). Karier militer Rudini dimulai saat menempuh pendidikan militer di Breda, Belanda.
Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, ia sempat berkuliah di Jakarta karena keinginan orang tuanya agar menjadi dokter. Namun, hatinya tetap tertuju pada dunia militer. Ia pernah mencoba mendaftar sebagai prajurit TNI AU, tetapi gagal karena tidak memenuhi syarat tinggi badan. Hingga akhirnya, pada Agustus 1951, ia mendengar kabar bahwa TNI AD membuka pendaftaran untuk pendidikan di Akademi Militer Kerajaan di Breda, Belanda.
Dalam suatu kesempatan, pria kelahiran Malang itu ditunjuk langsung oleh Presiden Soeharto menjadi KSAD. Kisahnya tercantum dalam buku biografi Jenderal M Jusuf: Panglima Para Prajurit karya Atmadji Sumarkidjo. Kala itu disebutkan bahwa Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima ABRI Jenderal M Jusuf memanggil Rudini ke rumahnya di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat.
Saat dipanggil oleh Panglima, Rudini sendiri tidak mengetahui alasan dirinya dipanggil. Ia pun merasa tegang menunggu perintah Jenderal M Jusuf. Betapa terkejutnya ia saat diberitahu bahwa dirinya telah ditunjuk sebagai KSAD.
“Kamu nanti menggantikan Poniman sebagai KSAD. Pelantikan oleh Presiden akan dilakukan dua hari lagi di Istana Negara,” ujar M Jusuf seperti yang tertulis dalam buku tersebut.
Mendengar hal itu, meski masih terkejut, Rudini hanya memberikan jawaban singkat, “Siap, Pak.”
Dalam buku biografinya Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto, Prabowo mengisahkan bahwa rencana pergantian KSAD ternyata juga sempat terdengar oleh Ibu Negara, Tien Soeharto.
Pada suatu jamuan makan malam di Jalan Cendana, Bu Tien menyampaikan harapannya kepada Presiden Soeharto agar Pangdam Udayana, Mayjen Dading Kalbuadi, yang terpilih sebagai KSAD.
“Itu lho Pak, yang bagus itu Pangdam Bali, Pak Dading. Tinggi, gagah, dan tampan. Cocok, sebaiknya dia yang jadi KSAD,” ujar Bu Tien seperti yang ditirukan oleh Prabowo. Mendengar hal itu, Pak Harto hanya tersenyum. Pada kesempatan makan malam berikutnya, Bu Tien kembali mengungkapkan harapan yang sama. Namun, lagi-lagi, Pak Harto hanya tersenyum dan berkata, “Masih digodok.”
Tak lama setelah itu, media massa memberitakan bahwa KSAD baru telah dipilih. Sosok tersebut adalah Rudini. Saat kembali menghadiri jamuan makan malam bersama Prabowo, Bu Tien terlihat kecewa.
Lihat Juga :