3 Jenderal Legendaris Sezaman Try Sutrisno, Berkarier di Kopassus hingga Penerima Adhi Makayasa
Jum'at, 02 Mei 2025 - 08:22 WIB
loading...
A
A
A
“Bapak itu enggak mau dengar saran Ibu,” ucapnya kepada Prabowo.
Karier militer Rudini lebih banyak dihabiskan di satuan elite Kostrad. Ia pernah terlibat dalam operasi penumpasan DI/TII di Sulawesi Selatan. Setelah menyelesaikan Kursus Lanjutan Perwira di Bandung, Rudini mendapat kepercayaan sebagai Komandan Batalyon 401/Banteng Raiders, yang pada 1968 menjadi bagian dari Kostrad.
Berbagai jabatan strategis pernah diembannya, termasuk sebagai Kepala Staf dan Komandan Brigade Infanteri Linud 18/Kostrad, Kepala Staf dan Panglima Komando Tempur Lintas Udara, Kas Kostrad, hingga Pangdam XIII/Merdeka.
Kariernya semakin bersinar ketika dipercaya menjadi Pangkostrad, posisi yang sebelumnya pernah dipegang oleh Soeharto. Dari sinilah jalan menuju kursi KSAD terbuka lebar. Setelah pensiun dari dunia militer, Rudini melanjutkan kiprahnya di pemerintahan.
Ia pernah menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri, lalu menjadi Ketua Lembaga Pemilihan Umum (LPU), yang kini dikenal sebagai Komisi Pemilihan Umum (KPU). Jenderal Rudini menghembuskan napas terakhir di Jakarta pada 21 Januari 2006.
![3 Jenderal Legendaris Sezaman Try Sutrisno, Berkarier di Kopassus hingga Penerima Adhi Makayasa]()
Jenderal Edi Sudrajat merupakan abituren terbaik Akademi milite (Akmil) 1960 peraih penghargaan Adhi Makayasa. Edi Sudrajat lahir di Jambi pada 22 April 1938.
Karier militer Edi Sudrajat dimulai usai lulus dari Akmil. Dia kemudian ditugaskan sebagai Komandan Peleton di Batalyon Infanteri 515/Tanggul, Jember selama 2 tahun, yakni pada 1961-1962. Selanjutnya sempat ikut dalam Operasi Trikora.
Kemudian Edi ditugaskan dalam operasi keamanan terhadap Republik Maluku Selatan, Organisasi Papua Merdeka, dan penumpasan Gerakan 30 September (G30S) PKI.
Pada 1980, ketika Edi Sudrajat berpangkat Brigadir Jenderal, dia menjabat sebagai Panglima Komando Tempur Lintas Udara Kostrad. Setahun kemudian Panglima Kodam II/Bukit Barisan di Medan dijabatnya setelah pangkatnya naik menjadi Jenderal Bintang Dua atau Mayor Jenderal.
Selanjutnya dia dipercaya untuk memegang jabatan sebagai Pangdam Kodam III/Siliwangi di Bandung pada tahun 1983-1985.
Pada tahun 1985 sampai 1986, Edi diangkat menjadi Asisten Operasi Kasum ABRI. Setelah pangkatnya menjadi Letnan Jenderal, dia dipercaya untuk jabatan Wakil Kepala Staf TNI-AD dari tahun 1986 hingga 1988.
Hingga akhirnya diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) hingga 1993. Tahun tersebut sekaligus menjadi pencapaian tertinggi Edi Sudrajat setelah diangkat menjadi Panglima ABRI (TNI) menggantikan Jenderal Try Soetrisno.
Selain itu dia juga pernah menjabat Menteri Pertahanan dan Keamanan dalam Kabinet Pembangunan VI era kepemimpinan Presiden Soeharto.
Setelah pensiun, Jenderal (Purn) Edi Sudradjat meninggal dunia pada Jumat 1 Desember 2006 di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Dia sudah lama menderita sakit dan terakhir dirawat di RSPAD sejak 19 November 2006. Sudrajat dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Karier militer Rudini lebih banyak dihabiskan di satuan elite Kostrad. Ia pernah terlibat dalam operasi penumpasan DI/TII di Sulawesi Selatan. Setelah menyelesaikan Kursus Lanjutan Perwira di Bandung, Rudini mendapat kepercayaan sebagai Komandan Batalyon 401/Banteng Raiders, yang pada 1968 menjadi bagian dari Kostrad.
Berbagai jabatan strategis pernah diembannya, termasuk sebagai Kepala Staf dan Komandan Brigade Infanteri Linud 18/Kostrad, Kepala Staf dan Panglima Komando Tempur Lintas Udara, Kas Kostrad, hingga Pangdam XIII/Merdeka.
Kariernya semakin bersinar ketika dipercaya menjadi Pangkostrad, posisi yang sebelumnya pernah dipegang oleh Soeharto. Dari sinilah jalan menuju kursi KSAD terbuka lebar. Setelah pensiun dari dunia militer, Rudini melanjutkan kiprahnya di pemerintahan.
Ia pernah menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri, lalu menjadi Ketua Lembaga Pemilihan Umum (LPU), yang kini dikenal sebagai Komisi Pemilihan Umum (KPU). Jenderal Rudini menghembuskan napas terakhir di Jakarta pada 21 Januari 2006.
3. Jenderal TNI (Purn) Edi Sudrajat

Jenderal Edi Sudrajat merupakan abituren terbaik Akademi milite (Akmil) 1960 peraih penghargaan Adhi Makayasa. Edi Sudrajat lahir di Jambi pada 22 April 1938.
Karier militer Edi Sudrajat dimulai usai lulus dari Akmil. Dia kemudian ditugaskan sebagai Komandan Peleton di Batalyon Infanteri 515/Tanggul, Jember selama 2 tahun, yakni pada 1961-1962. Selanjutnya sempat ikut dalam Operasi Trikora.
Kemudian Edi ditugaskan dalam operasi keamanan terhadap Republik Maluku Selatan, Organisasi Papua Merdeka, dan penumpasan Gerakan 30 September (G30S) PKI.
Pada 1980, ketika Edi Sudrajat berpangkat Brigadir Jenderal, dia menjabat sebagai Panglima Komando Tempur Lintas Udara Kostrad. Setahun kemudian Panglima Kodam II/Bukit Barisan di Medan dijabatnya setelah pangkatnya naik menjadi Jenderal Bintang Dua atau Mayor Jenderal.
Selanjutnya dia dipercaya untuk memegang jabatan sebagai Pangdam Kodam III/Siliwangi di Bandung pada tahun 1983-1985.
Pada tahun 1985 sampai 1986, Edi diangkat menjadi Asisten Operasi Kasum ABRI. Setelah pangkatnya menjadi Letnan Jenderal, dia dipercaya untuk jabatan Wakil Kepala Staf TNI-AD dari tahun 1986 hingga 1988.
Hingga akhirnya diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) hingga 1993. Tahun tersebut sekaligus menjadi pencapaian tertinggi Edi Sudrajat setelah diangkat menjadi Panglima ABRI (TNI) menggantikan Jenderal Try Soetrisno.
Selain itu dia juga pernah menjabat Menteri Pertahanan dan Keamanan dalam Kabinet Pembangunan VI era kepemimpinan Presiden Soeharto.
Setelah pensiun, Jenderal (Purn) Edi Sudradjat meninggal dunia pada Jumat 1 Desember 2006 di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Dia sudah lama menderita sakit dan terakhir dirawat di RSPAD sejak 19 November 2006. Sudrajat dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
(shf)
Lihat Juga :