Tolak PHK Massal dan Gelar Pahlawan bagi Soeharto, Musisi Indie Ramaikan Aksi Hari Buruh di Jakarta
Kamis, 01 Mei 2025 - 22:18 WIB
loading...
Eka Anash dari The Brandals dalam Aksi Hari Buruh Internasional atau May Day di depan Gerbang DPR, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (1/5/2025). Foto/Instagram The Brandals
A
A
A
JAKARTA - Sejumlah kelompok musik indie seperti The Brandals, Usman And The Blackstones, Suden, Methosa, Barumil, Jati Andito, dan The Jansen turun ke jalan meramaikan Aksi Hari Buruh Internasional atau May Day di depan Gerbang DPR, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (1/5/2025). Mereka tampil secara bergantian dari atas truk dilengkapi peralatan musik.
Mereka tampil di antara massa buruh yang diorganisir oleh Aliansi Gerakan Buruh Bersama Rakyat (GEBRAK) dan serikat buruh lainnya berjalan kaki dari sepanjang Jalan Gerbang Pemuda, Senayan, menuju ke Gedung DPR RI di Jalan Gatot Subroto, Jakarta.
Salah satu pemrakarsa acara Eka Anash dari The Brandals menjelaskan bahwa aksi para musisi tersebut adalah bentuk solidaritas kepada para buruh yang turun ke jalan. “Kita nyanyi bareng, menyuarakan keresahan kita bareng-bareng, dan saling ingatkan bahwa bersuara adalah hak kita,” kata Eka yang tampil bersama band The Brandals.
![Tolak PHK Massal dan Gelar Pahlawan bagi Soeharto, Musisi Indie Ramaikan Aksi Hari Buruh di Jakarta]()
Baca juga: May Day Depan DPR, Sing Along Massa Bareng The Jansen Disambut Water Cannon Polisi
Sementara itu, aktivis HAM Usman Hamid juga terlihat berada di tengah kerumunan massa. Tidak berapa lama, ia naik ke atas truk tampil dengan lagu kritik sosial ciptaan mereka, “Bumi dan Aku Kini”, “Munir”, dan juga “Sakongsa.”
“Salah satu yang mendorong kami turun dan bersolidaritas pada buruh adalah gelombang besar PHK saat ini. Negara harus menjamin hak mereka terpenuhi,” kata Usman yang kini aktif bersama band besutannya, Usman And The Blackstones.
Di tengah penampilannya, Usman mendesak negara untuk menghentikan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di sejumlah perusahaan. Ia juga mendesak negara menarik rencana pemberian gelar pahlawan nasional kepada mantan Presiden Soeharto.
![Tolak PHK Massal dan Gelar Pahlawan bagi Soeharto, Musisi Indie Ramaikan Aksi Hari Buruh di Jakarta]()
Baca juga: Polisi Tangkap 13 Orang dari Peringatan May Day di Depan DPR
“Hidup buruh! Indonesia berencana memberi gelar pahlawan nasional untuk Soeharto. Apakah kita setuju Indonesia kembali ke zaman Orde Baru? Kita harus menolak rencana gelar pahlawan tersebut,” kata Usman.
Beberapa peserta Aksi membawa sejumlah bendera bertuliskan “Suharto bukan pahlawan” serta poster bertuliskan antara lain “tolak gelar pahlawan untuk Suharto”, “gelar pahlawan nasional lebih tepat untuk Marsinah.”
Setelah band Usman, band Methosa tampil membawakan lagu mereka berjudul “Logika Mati”, “Nasi Goreng”, dan “Bangun Orang Waras.” Mereka menyuarakan nasib buruh, petani, dan para guru yang tak sejahtera.
Vokalis Methosa Mansen Munthe juga ambil suara menyatakan menolak Soeharto dijadikan pahlawan nasional. Usman belakangan terdengar kian lantang menyuarakan kritik melalui musik bersama band Usman And The Blackstones.
Usman baru saja merilis album musik berisi sembilan lagu piringan hitam dan tiga belas lagu dalam cakram padat. Semuanya soal kritik sosial hak asasi manusia, korupsi, dan krisis iklim.
Aksi massa berlanjut hingga sore hari serta menampilkan band-band lainnya seperti Suden, Baromil, KSPI, The Brandals, dan The Jansen. Massa aksi berangsur-angsur meninggalkan lokasi gerbang DPR RI.
“Di saat berlangsung penampilan musik band the Jansen, polisi tanpa alasan yang jelas justru membubarkan paksa dengan water cannon. Kami mengecam tindakan kepolisian yang eksesif. Cara pembubaran paksa mereka tidak bisa dibenarkan,” kata Usman, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia ini.
“Aksi massa yang berlangsung di areal pintu gerbang utama DPR RI sangat berlangsung damai, apalagi dengan ekspresi pagelaran musik. Detik-detik pembubaran paksa terjadi ketika massa sedang menikmati penampilan musik dari The Jansen,” pungkasnya.
Mereka tampil di antara massa buruh yang diorganisir oleh Aliansi Gerakan Buruh Bersama Rakyat (GEBRAK) dan serikat buruh lainnya berjalan kaki dari sepanjang Jalan Gerbang Pemuda, Senayan, menuju ke Gedung DPR RI di Jalan Gatot Subroto, Jakarta.
Salah satu pemrakarsa acara Eka Anash dari The Brandals menjelaskan bahwa aksi para musisi tersebut adalah bentuk solidaritas kepada para buruh yang turun ke jalan. “Kita nyanyi bareng, menyuarakan keresahan kita bareng-bareng, dan saling ingatkan bahwa bersuara adalah hak kita,” kata Eka yang tampil bersama band The Brandals.

Baca juga: May Day Depan DPR, Sing Along Massa Bareng The Jansen Disambut Water Cannon Polisi
Sementara itu, aktivis HAM Usman Hamid juga terlihat berada di tengah kerumunan massa. Tidak berapa lama, ia naik ke atas truk tampil dengan lagu kritik sosial ciptaan mereka, “Bumi dan Aku Kini”, “Munir”, dan juga “Sakongsa.”
“Salah satu yang mendorong kami turun dan bersolidaritas pada buruh adalah gelombang besar PHK saat ini. Negara harus menjamin hak mereka terpenuhi,” kata Usman yang kini aktif bersama band besutannya, Usman And The Blackstones.
Di tengah penampilannya, Usman mendesak negara untuk menghentikan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di sejumlah perusahaan. Ia juga mendesak negara menarik rencana pemberian gelar pahlawan nasional kepada mantan Presiden Soeharto.

Baca juga: Polisi Tangkap 13 Orang dari Peringatan May Day di Depan DPR
“Hidup buruh! Indonesia berencana memberi gelar pahlawan nasional untuk Soeharto. Apakah kita setuju Indonesia kembali ke zaman Orde Baru? Kita harus menolak rencana gelar pahlawan tersebut,” kata Usman.
Beberapa peserta Aksi membawa sejumlah bendera bertuliskan “Suharto bukan pahlawan” serta poster bertuliskan antara lain “tolak gelar pahlawan untuk Suharto”, “gelar pahlawan nasional lebih tepat untuk Marsinah.”
Setelah band Usman, band Methosa tampil membawakan lagu mereka berjudul “Logika Mati”, “Nasi Goreng”, dan “Bangun Orang Waras.” Mereka menyuarakan nasib buruh, petani, dan para guru yang tak sejahtera.
Vokalis Methosa Mansen Munthe juga ambil suara menyatakan menolak Soeharto dijadikan pahlawan nasional. Usman belakangan terdengar kian lantang menyuarakan kritik melalui musik bersama band Usman And The Blackstones.
Usman baru saja merilis album musik berisi sembilan lagu piringan hitam dan tiga belas lagu dalam cakram padat. Semuanya soal kritik sosial hak asasi manusia, korupsi, dan krisis iklim.
Aksi massa berlanjut hingga sore hari serta menampilkan band-band lainnya seperti Suden, Baromil, KSPI, The Brandals, dan The Jansen. Massa aksi berangsur-angsur meninggalkan lokasi gerbang DPR RI.
“Di saat berlangsung penampilan musik band the Jansen, polisi tanpa alasan yang jelas justru membubarkan paksa dengan water cannon. Kami mengecam tindakan kepolisian yang eksesif. Cara pembubaran paksa mereka tidak bisa dibenarkan,” kata Usman, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia ini.
“Aksi massa yang berlangsung di areal pintu gerbang utama DPR RI sangat berlangsung damai, apalagi dengan ekspresi pagelaran musik. Detik-detik pembubaran paksa terjadi ketika massa sedang menikmati penampilan musik dari The Jansen,” pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :