Soal Polemik Radikalisme, PWNU Jatim Minta Menag Hati-Hati
Minggu, 06 September 2020 - 15:49 WIB
loading...
Wakil Rois Surya PWNU Jawa Timur KH Anwar Iskandar menilai Menag Fachrur Razi terlalu menggeneralisir orang dengan tanda tertentu sebagai penyebar paham radikal. FOTO/DOK.SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Pernyataan Menteri Agama Fachrur Razi dalam acara webinar bertajuk Strategi Menangkal Radikalisme Pada Aparatur Sipil Negara beberapa waktu lalu menuai polemik. Ia menegaskan bila terdapat dua jalur pintu masuk bagi radikalisme. Pertama, menurutnya lewat lembaga pendidikan. Dan kedua, melalui lembaga agama yang salah satunya adalah penceramah atau kelompok good looking .
Menurut Razi, pada mulanya mereka akan mengirim seseorang yang good looking (penampilan baik), menguasai bahasa Arab, penghafal Alquran, terlibat menjadi imam masjid hingga dia mendapat simpati. Dari situlah kemudian, jelas Razi, aksi menanamkan ide-ide radikal baru di mulai.
Menanggapi polemik ini, wakil Rois Surya PWNU Jawa Timur KH Anwar Iskandar menilai Kemenag Fachrur Razi terlalu menggeneralisir. "Terlalu menggeneralisasi itu, kan tidak semua orang yang good looking, memiliki kemampuan bahwa Arab dan kemampuan agama mesti radikal. Ya tidak mesti dong. Itu terlalu menggeneralisasi," kata KH Anwar Iskandar, Sabtu (05/09/2020). (Baca juga: Sebut Good Looking-Hafiz Sebar Radikalisme, Menag Dinilai Sesat Nalar )
Lebih lanjut Anwar Iskandar menilai pernyataan Fachrur Razi merupakan blunder. Menurutnya di Indonesia terlampau banyak orang yang menguasai bahasa Arab, good looking, pengetahuan agama baik, serta mempunyai toleransi dan nasionalisme yang besar. Bila dilihat dari segi jumlah, jelas Anwar, jauh lebih banyak ketimbang kelompok radikalis. Ia lantas meminta agar Kemenag harus bisa membedakan dengan jeli.
"Kalau radikal dalam artian bersungguh-sungguh dalam belajar, itu kan gak ada masalah. Tapi kalau kemudian radikal diartikan ingin mengubah sistem negara, itu yang gak, gak, kita setujui. Jadi radikal itu dilihat dari apa, perspektif agama, perspektif bahasa," ujarnya.
Menurut Razi, pada mulanya mereka akan mengirim seseorang yang good looking (penampilan baik), menguasai bahasa Arab, penghafal Alquran, terlibat menjadi imam masjid hingga dia mendapat simpati. Dari situlah kemudian, jelas Razi, aksi menanamkan ide-ide radikal baru di mulai.
Menanggapi polemik ini, wakil Rois Surya PWNU Jawa Timur KH Anwar Iskandar menilai Kemenag Fachrur Razi terlalu menggeneralisir. "Terlalu menggeneralisasi itu, kan tidak semua orang yang good looking, memiliki kemampuan bahwa Arab dan kemampuan agama mesti radikal. Ya tidak mesti dong. Itu terlalu menggeneralisasi," kata KH Anwar Iskandar, Sabtu (05/09/2020). (Baca juga: Sebut Good Looking-Hafiz Sebar Radikalisme, Menag Dinilai Sesat Nalar )
Lebih lanjut Anwar Iskandar menilai pernyataan Fachrur Razi merupakan blunder. Menurutnya di Indonesia terlampau banyak orang yang menguasai bahasa Arab, good looking, pengetahuan agama baik, serta mempunyai toleransi dan nasionalisme yang besar. Bila dilihat dari segi jumlah, jelas Anwar, jauh lebih banyak ketimbang kelompok radikalis. Ia lantas meminta agar Kemenag harus bisa membedakan dengan jeli.
"Kalau radikal dalam artian bersungguh-sungguh dalam belajar, itu kan gak ada masalah. Tapi kalau kemudian radikal diartikan ingin mengubah sistem negara, itu yang gak, gak, kita setujui. Jadi radikal itu dilihat dari apa, perspektif agama, perspektif bahasa," ujarnya.
Lihat Juga :