Marak Dokter Cabul, Penyalahgunaan Kekuasaaan hingga Krisis Etika Jadi Faktor
Rabu, 16 April 2025 - 11:41 WIB
loading...
Priguna Anugrah Pratama dan M Syafril Firdaus. Foto/iNewsTV dan Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Maraknya kasus kekerasan seksual yang terjadi beberapa waktu terakhir menjadi sorotan publik. Pasalnya, sebagian besar terduga pelaku dilakukan oleh pihak yang memiliki latar belakang profesi dokter atau tenaga pendidik di bidang kesehatan.
Dosen Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Edy Meiyanto misalnya, diduga telah melecehkan mahasiswa S-1, S-2, S-3 saat menjalani bimbingan skripsi, tesis, dan disertasi. Peristiwa itu berlangsung di kampus, rumah Edy.
Kasus kekerasan seksual yang menghebohkan publik juga dilakukan oleh dokter residen anestesi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) FK Unpad, Priguna Anugrah Pratama. Ia diduga telah memperkosa pasien hingga keluarga pasien dengan modus dibius.
Baca juga: Wali Kota Bandung Pastikan Korban Pemerkosaan Dokter Priguna Dapat Perlindungan
Teranyar, kasus kekerasan seksual dilakukan oleh dokter spesialis obgyn di Garut bernama M Syafril Firdaus. Ia diduga telah melecehkan pasien saat tengah melakukan USG kandungan. Bahkan, ia mengiming-imingi pasien untuk USG gratis via kontak pribadi, sehingga tidak perlu melewati proses administrasi sesampai di klinik.
Ketua Bidang Dokter Diaspora PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Iqbal Mochtar menilai maraknya kasus kekerasan seksual diakibatkan sejumlah faktor. Salah satunya, pengawasan dan regulasi yang minim.
Baca juga: Viral! Dokter Kandungan di Garut Lecehkan Pasien Hamil
"Meski banyak sistem pengawasan sudah ada dalam dunia medis, ternyata dalam praktiknya masih ada celah yang memungkinkan penyimpangan perilaku. Misalnya, tidak ada sistem yang cukup memadai untuk mengidentifikasi atau mencegah potensi pelanggaran etik pada awalnya," terang Iqbal saat dihubungi, Selasa (15/4/2025).
Selain itu, Iqbal menilai, dokter kerap melakukan penyalahgunaan kekuasaan. Apalagi, kata dia, masyarakat kerap menghormati dan percaya dengan segala tindakan dokter.
Baca juga: Dokter Cabul Lecehkan Wanita Hamil saat Periksa USG Ditangkap, Polisi: Ada 2 Korban
"Kewenangan yang dimiliki dokter, terutama dalam melakukan pemeriksaan fisik atau penanganan medis, memberi mereka kontrol besar terhadap pasien. Beberapa individu mungkin menyalahgunakan kekuasaan ini untuk tujuan yang tidak etis," ucapnya.
Di sisi lain, pengurus Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) ini menilai dunia medis tengah alami krisis etika. Hal itu didasari lantaran maraknya dokter melakukan praktik lancung seperti kekerasan seksual.
"Selain penyalahgunaan kekuasaan, ada kemungkinan bahwa ada kekurangan dalam pendidikan etika profesi medis. Dokter yang tidak diajarkan atau tidak cukup diberikan pemahaman mengenai batasan dalam hubungan profesional dan personal dengan pasien bisa rentan melakukan pelanggaran," pungkasnya.
Dosen Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Edy Meiyanto misalnya, diduga telah melecehkan mahasiswa S-1, S-2, S-3 saat menjalani bimbingan skripsi, tesis, dan disertasi. Peristiwa itu berlangsung di kampus, rumah Edy.
Kasus kekerasan seksual yang menghebohkan publik juga dilakukan oleh dokter residen anestesi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) FK Unpad, Priguna Anugrah Pratama. Ia diduga telah memperkosa pasien hingga keluarga pasien dengan modus dibius.
Baca juga: Wali Kota Bandung Pastikan Korban Pemerkosaan Dokter Priguna Dapat Perlindungan
Teranyar, kasus kekerasan seksual dilakukan oleh dokter spesialis obgyn di Garut bernama M Syafril Firdaus. Ia diduga telah melecehkan pasien saat tengah melakukan USG kandungan. Bahkan, ia mengiming-imingi pasien untuk USG gratis via kontak pribadi, sehingga tidak perlu melewati proses administrasi sesampai di klinik.
Ketua Bidang Dokter Diaspora PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Iqbal Mochtar menilai maraknya kasus kekerasan seksual diakibatkan sejumlah faktor. Salah satunya, pengawasan dan regulasi yang minim.
Baca juga: Viral! Dokter Kandungan di Garut Lecehkan Pasien Hamil
"Meski banyak sistem pengawasan sudah ada dalam dunia medis, ternyata dalam praktiknya masih ada celah yang memungkinkan penyimpangan perilaku. Misalnya, tidak ada sistem yang cukup memadai untuk mengidentifikasi atau mencegah potensi pelanggaran etik pada awalnya," terang Iqbal saat dihubungi, Selasa (15/4/2025).
Selain itu, Iqbal menilai, dokter kerap melakukan penyalahgunaan kekuasaan. Apalagi, kata dia, masyarakat kerap menghormati dan percaya dengan segala tindakan dokter.
Baca juga: Dokter Cabul Lecehkan Wanita Hamil saat Periksa USG Ditangkap, Polisi: Ada 2 Korban
"Kewenangan yang dimiliki dokter, terutama dalam melakukan pemeriksaan fisik atau penanganan medis, memberi mereka kontrol besar terhadap pasien. Beberapa individu mungkin menyalahgunakan kekuasaan ini untuk tujuan yang tidak etis," ucapnya.
Di sisi lain, pengurus Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) ini menilai dunia medis tengah alami krisis etika. Hal itu didasari lantaran maraknya dokter melakukan praktik lancung seperti kekerasan seksual.
"Selain penyalahgunaan kekuasaan, ada kemungkinan bahwa ada kekurangan dalam pendidikan etika profesi medis. Dokter yang tidak diajarkan atau tidak cukup diberikan pemahaman mengenai batasan dalam hubungan profesional dan personal dengan pasien bisa rentan melakukan pelanggaran," pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :