Politik Disinformasi dan Gangguan Perhatian Kolektif

Selasa, 08 April 2025 - 13:29 WIB
loading...
A A A
Padahal semuanya bekerja dalam satu ekosistem, menjauhkan publik dari berpikir kritis. Kenapa strategi ini bisa begitu efektif? Karena otak manusia, secara evolusioner, tidak dirancang untuk menangani ledakan informasi modern.

Dalam satu hari, kita bisa menerima ratusan hingga ribuan notifikasi, sementara sistem atensi di otak -khususnya Reticular Activating System (RAS)- hanya mampu menyaring informasi yang dianggap paling relevan untuk kelangsungan hidup. RAS bertindak sebagai "gerbang perhatian" yang memfilter jutaan stimulus dan secara otomatis mengarahkan fokus pada hal-hal yang memicu emosi atau dianggap mendesak (Pfaff, 2006).

Secara biologis, otak manusia memprioritaskan emosi seperti takut, marah, dan jijik, karena emosi-emosi ini terbukti membantu manusia bertahan hidup sejak zaman purba (LeDoux, 1996). Penelitian juga menunjukkan bahwa otak bisa merespons emosional lebih cepat dibanding proses berpikir logis; kita merasa dulu, baru berpikir (Zajonc, 1980).

Itulah sebabnya dalam dunia digital, konten emosional lebih cepat menyita perhatian dan lebih sering tersebar luas dibandingkan data atau argumen logis. Ketika sistem saraf kita terus dipapar oleh gelombang emosi, kemampuan untuk berpikir kritis jadi tumpul, dan publik lebih mudah diarahkan.

Jangan heran, disinformasi yang paling viral selalu mengandung muatan emosi tinggi. Algoritma media sosial tahu betul bahwa manusia lebih mudah bereaksi daripada berpikir. Amigdala, bagian otak yang mengatur emosi dasar, bekerja jauh lebih cepat daripada prefrontal cortex yang mengatur logika.

Dalam banyak kasus, kita sudah membagikan konten sebelum sempat mengecek isinya. Karena emosi kita sudah lebih dulu dipegang. Di dunia digital, ini sangat dimanfaatkan. Ditambah dengan efek echo chamber -di mana kita hanya melihat informasi yang memperkuat keyakinan sendiri- kita makin sulit membedakan mana realitas, mana rekayasa.

Kelelahan informasi menciptakan kelelahan berpikir. Publik menjadi cepat reaktif, mudah tersinggung, dan makin malas mengecek sumber. Otak, yang terus dipapar stimulus emosional, akhirnya menutup pintu terhadap refleksi. Otak alami kelelahan kritis. Dan saat itu terjadi, kita jadi mudah diarahkan. Digerakkan bukan oleh akal sehat, tapi oleh rasa takut, rasa jijik, atau bahkan sekadar kebosanan.

Seperti yang dikatakan Gramsci (1971), kekuasaan modern tak lagi mengandalkan represi fisik. Ia bekerja lewat kendali budaya, kebiasaan, dan cara berpikir. Di era digital, kekuasaan cukup memproduksi kebisingan. Dan saat publik sibuk menanggapi hal remeh, kebijakan penting disahkan tanpa pengawasan (anda ingat sejumlah UU yang disahkan di tengah kebisingan publik?)

Media sosial telah berubah dari alat komunikasi menjadi mesin produksi realitas. Ketika sesuatu viral, kita mengira itu penting. Padahal belum tentu. Banyak konten didesain untuk viral, bukan untuk bernilai. Otak kita, jika terus-menerus dipapar konten cepat, pendek, dan emosional, akan kehilangan daya refleksi.

Kita merasa aktif secara politik hanya karena ikut komentar atau share, padahal kita sedang terjebak dalam ilusi partisipasi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pemerintah Perlu Menetralisir...
Pemerintah Perlu Menetralisir Narasi Negatif di Media Sosial
Hadapi Dominasi China...
Hadapi Dominasi China Dalam Ranah Digital, Indonesia Diimbau Waspadai Risiko Ketergantungan
Isu Mark Up Harga Sepatu...
Isu Mark Up Harga Sepatu Siswa Sekolah Rakyat, Gus Ipul: Itu Fitnah, Hoaks
Soroti Pernyataan Amien...
Soroti Pernyataan Amien Rais, Pengamat Ingatkan Bahaya Politik Fitnah
Tanggapi Amien Rais,...
Tanggapi Amien Rais, Gerakan Pemuda Marhaen: Penurunan Kualitas Demokrasi
Komdigi Tegaskan Video...
Komdigi Tegaskan Video Amien Rais soal Prabowo Hoaks dan Bermuatan Ujaran Kebencian
Kedaulatan Digital Jadi...
Kedaulatan Digital Jadi Sorotan, Solusi AI Terintegrasi Siap Percepat Transformasi Industri
Ungkap Kekerasan Obstetri...
Ungkap Kekerasan Obstetri di RS, Dokter Wanita Ini Ditangkap atas Tuduhan Sebar Hoaks
Rizky Billar Laporkan...
Rizky Billar Laporkan Akun Penyebar Fitnah Selingkuh dengan Anak Ramzi
Rekomendasi
Liburan Sekolah Makin...
Liburan Sekolah Makin Seru dengan Petualangan dan Aktivitas Keluarga
Creavibe Fest 2026:...
Creavibe Fest 2026: Mahasiswa Desain Produk UMB Tampilkan Karya Fesyen Berkelanjutan
5 Fakta Iran Mampu Memecah...
5 Fakta Iran Mampu Memecah Aliansi Abadi AS dan Israel, Lebanon Jadi Alat Utamanya
Berita Terkini
Dokter Tifa Masih Diinfus...
Dokter Tifa Masih Diinfus dan Roy Suryo Tidak Mau Makan Obat
Refly Harun Sudah Siapkan...
Refly Harun Sudah Siapkan Surat Permohonan Penangguhan Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa
Refly Harun Ungkap Kondisi...
Refly Harun Ungkap Kondisi Terkini Roy Suryo dan Dokter Tifa
Prabowo Panggil Rosan...
Prabowo Panggil Rosan Roeslani ke Kertanegara Minggu Malam, Ada Apa?
MUI Tegaskan LGBT adalah...
MUI Tegaskan LGBT adalah Penyimpangan: Wajib Disembuhkan
Deretan Pasal Menjerat...
Deretan Pasal Menjerat Roy Suryo dan Dokter Tifa di Kasus Ijazah Jokowi
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved