Daftar Sekretaris Kabinet Berasal dari TNI dan Polri, Nomor 1 Tolak Mobil Dinas untuk Keluarga
Rabu, 12 Maret 2025 - 06:13 WIB
loading...
A
A
A
Karena Dharto juga tidak memiliki garasi, dia melaporkan ke atasannya di Biro I Bagian Organisasi dan Administrasi Sekretariat Negara. Kemudian, atasan Dharto meminjamkan satu garasi untuk menyimpan mobil dinas Hoegeng.
Mobil dinas Hoegeng itu disimpan di garasi umum milik Sekretariat Negara. Suatu saat, Hoegeng pernah meminjam mobil dinasnya karena ada keperluan keluarga.
"Mas Dharto, boleh Hoegeng pinjam mobil Holdennya karena Hoegeng ada keperluan keluarga? Tolong diantar ke rumah ya, Mas Dharto?" katanya.
Dharto pun mengantarnya ke rumah Hoegeng. Keesokannya, mobil itu sudah dikembalikan lagi oleh sopir Hoegeng ke Dharto. Sepupu Hoegeng, Moehirman mengatakan setiap kali Hoegeng mendapat mobil dinas saat masih bertugas di Polri maupun Menteri Iuran Negara, di dalam mobilnya Hoegeng selalu menulis "Mobil Dinas, Tidak Boleh Dipinjam."
Hoegeng meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta pada Rabu 14 Juli 2004 pukul 00.30 WIB. Hoegeng dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Giritama, Desa Tonjo, Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat pada Rabu 14 Juli 2004 siang.
Dia dikenal sebagai polisi yang berintegritas sekaligus penggiat antikorupsi. Bahkan, Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah melontarkan anekdot bahwa di Indonesia hanya ada tiga polisi jujur. Pertama adalah patung polisi, kedua polisi tidur, dan ketiga Hoegeng Iman Santosa.
![Daftar Sekretaris Kabinet Berasal dari TNI dan Polri, Nomor 1 Tolak Mobil Dinas untuk Keluarga]()
Foto/Dok Setkab
Dia beberapa kali menjabat Sekretaris Kabinet. Pertama, ketika masih berpangkat Kolonel sebagai Sekretaris Presiden Kabinet Pembangunan I periode 3 Agustus 1966-25 Maret 1968 berdasarkan Keppres Nomor 175 Tahun 1966 tanggal 3 Agustus 1966.
Kemudian, menjabat Menteri/Sekretaris Negara merangkap Sekretaris Kabinet Pembangunan III ketika berpangkat Mayjen pada periode 28 Maret 1973-29 Maret 1978 berdasarkan Keppres Nomor 9 Tahun 1973 tanggal 28 Maret 1973 dan periode 29 Maret 1978-19 Maret 1983 berdasarkan Keppres Nomor 59/M Tahun 1978, tanggal 29 Maret 1978.
Pria yang akrab dipanggil Pak Dharmono ini lahir di Cerme, Gresik, Jawa Timur, 12 Maret 1927 ini pernah juga memimpin Golkar, salah satu partai era Orde Baru, pada 1983-1988. Dia terpilih melalui Munas III Golkar di Jakarta pada Oktober 1983. Sudharmono menggantikan ketua umum Golkar sebelumnya, Amir Moertono.
Sudharmono merupakan Ketua Umum Golkar yang ke-4. Sudharmono meninggal dunia pada Rabu, 25 Januari 2006 seusai menjalani perawatan selama dua pekan di Rumah Sakit MMC, Jakarta.
Jenazah Sudharmono dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis, 26 Januari 2006. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi pemimpin upacara pemakaman Sudharmono.
![Daftar Sekretaris Kabinet Berasal dari TNI dan Polri, Nomor 1 Tolak Mobil Dinas untuk Keluarga]()
Foto/Dok Setkab
Mobil dinas Hoegeng itu disimpan di garasi umum milik Sekretariat Negara. Suatu saat, Hoegeng pernah meminjam mobil dinasnya karena ada keperluan keluarga.
"Mas Dharto, boleh Hoegeng pinjam mobil Holdennya karena Hoegeng ada keperluan keluarga? Tolong diantar ke rumah ya, Mas Dharto?" katanya.
Dharto pun mengantarnya ke rumah Hoegeng. Keesokannya, mobil itu sudah dikembalikan lagi oleh sopir Hoegeng ke Dharto. Sepupu Hoegeng, Moehirman mengatakan setiap kali Hoegeng mendapat mobil dinas saat masih bertugas di Polri maupun Menteri Iuran Negara, di dalam mobilnya Hoegeng selalu menulis "Mobil Dinas, Tidak Boleh Dipinjam."
Hoegeng meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta pada Rabu 14 Juli 2004 pukul 00.30 WIB. Hoegeng dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Giritama, Desa Tonjo, Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat pada Rabu 14 Juli 2004 siang.
Dia dikenal sebagai polisi yang berintegritas sekaligus penggiat antikorupsi. Bahkan, Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah melontarkan anekdot bahwa di Indonesia hanya ada tiga polisi jujur. Pertama adalah patung polisi, kedua polisi tidur, dan ketiga Hoegeng Iman Santosa.
2. Sudharmono

Foto/Dok Setkab
Dia beberapa kali menjabat Sekretaris Kabinet. Pertama, ketika masih berpangkat Kolonel sebagai Sekretaris Presiden Kabinet Pembangunan I periode 3 Agustus 1966-25 Maret 1968 berdasarkan Keppres Nomor 175 Tahun 1966 tanggal 3 Agustus 1966.
Kemudian, menjabat Menteri/Sekretaris Negara merangkap Sekretaris Kabinet Pembangunan III ketika berpangkat Mayjen pada periode 28 Maret 1973-29 Maret 1978 berdasarkan Keppres Nomor 9 Tahun 1973 tanggal 28 Maret 1973 dan periode 29 Maret 1978-19 Maret 1983 berdasarkan Keppres Nomor 59/M Tahun 1978, tanggal 29 Maret 1978.
Pria yang akrab dipanggil Pak Dharmono ini lahir di Cerme, Gresik, Jawa Timur, 12 Maret 1927 ini pernah juga memimpin Golkar, salah satu partai era Orde Baru, pada 1983-1988. Dia terpilih melalui Munas III Golkar di Jakarta pada Oktober 1983. Sudharmono menggantikan ketua umum Golkar sebelumnya, Amir Moertono.
Sudharmono merupakan Ketua Umum Golkar yang ke-4. Sudharmono meninggal dunia pada Rabu, 25 Januari 2006 seusai menjalani perawatan selama dua pekan di Rumah Sakit MMC, Jakarta.
Jenazah Sudharmono dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis, 26 Januari 2006. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi pemimpin upacara pemakaman Sudharmono.
3. Sudi Silalahi

Foto/Dok Setkab
Lihat Juga :