PKS Minta Pengembangan Vaksin COVID-19 Dilakukan Secara Jujur

Jum'at, 04 September 2020 - 14:15 WIB
loading...
PKS Minta Pengembangan...
Politikus PKS Netty Prasetiyani Aher meminta proses pengembangan calon vaksin Covid-19 di Indonesia dilakukan secara jujur dan terbuka. FOTO/DOK.SINDOnews
A A A
JAKARTA - Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Netty Prasetiyani Aher meminta proses pengembangan calon vaksin Covid-19 di Indonesia dilakukan secara jujur dan terbuka. Menurut Anggota Komisi IX DPR RI ini, prinsip jujur dan terbuka itu penting.

"Jika bicara mengenai obat atau vaksin Covid-19, maka yang perlu diperhatikan adalah prinsip jujur dan terbuka. Apakah itu mengenai efektivitasnya, mutasi virusnya atau yang lainnya. Ini harus jujur dan terbuka disampaikan, karena sangat ditunggu-tunggu masyarakat," kata Netty dalam keterangan tertulisnya kepada SINDOnews, Jumat (4/9/2020).

Diketahui, pada Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi IX DPR RI, PT Bio Farma menyampaikan kebutuhan 340 juta dosis vaksin untuk mencapai tingkat kekebalan dari pandemi COVID-19 di Indonesia. Bio Farma juga menjelaskan skema jangka pendek yang disiapkan saat ini adalah melakukan uji klinis fase tiga yang dijadwalkan mulai pada 20 Agustus hingga akhir Januari 2021. (Baca juga: BPOM Klaim Banyak Aspek Positif dalam Vaksin COVID-19 asal UEA )

Netty berpendapat, walaupun uji klinis sudah dilakukan, permasalahan vaksin tidak secara otomatis langsung selesai. "Apakah vaksin ini efektif untuk melawan virus, bagaimana aksesibilitas dan keterjangkauan bagi semua pihak? Perlu juga diperhatikan proses distribusinya di lapangan; Apakah bisa memenuhi kebutuhan 267 juta rakyat Indonesia? Lalu siapa yang lebih dahulu harus diberikan? Apakah orang yang potensial menyebarkan virus, pemangku kekuasaan atau siapa? Ini harus dipikirkan," katanya.

Selain itu, dia juga meminta agar calon vaksin buatan dalam negeri 'merah putih' yang sedang dikembangkan harus terus didukung. "Jangan sampai hadirnya vaksin asal China membuat pengembangan vaksin merah putih terhenti," kata istri mantan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan ini.

Kemudian, Netty meminta agar prosedur standar pengembangan obat harus dipatuhi. "Obat apapun yang dikembangkan harus mengikuti prosedur yang berlaku. BPOM harus mengikuti aturan main agar tidak ada subjektivitas, konflik kepentingan, permainan proyek apalagi bekerja di bawah tekanan karena ada intervensi dari pihak lain," katanya. (Baca juga: Rp356,5 Triliun Disiapkan Sri Mulyani Tahun Depan, Termasuk untuk Vaksin Covid-19 )

Dia juga mengingatkan agar kemandirian industri kesehatan dalam negeri segera dilakukan. Menurut dia, Pandemi COVID-19 menjadi pertanda rapuhnya kemandirian industri kesehatan nasional.

"Pandemi Ini adalah ujian nasionalisme bagi kita semua. Pertanyaannya sekarang adalah sampai kapan kita terus bergantung pada negara lain dalam hal pengadaan obat, alkes dan vaksin," katanya.
(abd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
PKS Sebut Sinergi Pemerintah,...
PKS Sebut Sinergi Pemerintah, Dunia Usaha, hingga Masyarakat Kunci Jaga Stabilitas
PKS Tekankan Peran Perempuan...
PKS Tekankan Peran Perempuan dalam Penguatan Ekonomi Keluarga dan Nasional
PKS Perkuat Fundamental...
PKS Perkuat Fundamental Bangsa di Tengah Dinamika Global dan Nasional
Dorong Pendidikan Bermutu,...
Dorong Pendidikan Bermutu, PKS Salurkan Bantuan dan Apresiasi Guru Inspiratif
Almuzzammil: Milad ke-24...
Almuzzammil: Milad ke-24 PKS Momentum Gerakan Ketahanan Pangan, Energi, dan Ekonomi
Respons Usulan KPK,...
Respons Usulan KPK, PKS Akui Sudah Batasi Masa Jabatan Ketum Maksimal 2 Periode
Peduli Keselamatan Pemudik,...
Peduli Keselamatan Pemudik, PKS Dirikan Posko Pelayanan Mudik Gratis
Pimpin PKS Jabar, Abah...
Pimpin PKS Jabar, Abah Iwan: Pelayanan, Advokasi, dan Keberpihakan Adalah Napas Perjuangan Kita
Satu Lagi Varian Baru...
Satu Lagi Varian Baru Virus Corona Bikin Was-was Ahli Kesehatan
Rekomendasi
Kasus Bocah 6 Tahun...
Kasus Bocah 6 Tahun Dibully dan Disetrum ke Tiang Listrik hingga Koma, Cuma 1 Pelaku Ditahan Polisi
Piala Dunia 2026: Saat...
Piala Dunia 2026: Saat Sepak Bola Jadi Mesin Uang FIFA
UBM Luncurkan AI Tutor...
UBM Luncurkan AI Tutor Terintegrasi dengan Kurikulum OBE Pertama di Indonesia
Berita Terkini
Pemilik Blueray Cargo...
Pemilik Blueray Cargo Ngaku Setor Rp30 Miliar ke Dedi Congor
Akvindo: Tembakau Alternatif...
Akvindo: Tembakau Alternatif Kurangi Paparan Asap Rokok
Terima Audiensi DPRD...
Terima Audiensi DPRD Malaka, BNPP Bahas Peluang Pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas
KPK Jadwal Ulang Pemeriksaan...
KPK Jadwal Ulang Pemeriksaan Bos Maktour Fuad Hasan Pekan Depan
Mantan Ketua Ombudsman...
Mantan Ketua Ombudsman Terima Rumah hingga Uang Miliaran di Kasus Korupsi Tambang Nikel
World Giving Report...
World Giving Report 2026: Donasi Global Turun, Indonesia Bertahan di Atas Rata-rata Dunia
Infografis
19 Menteri Bergelar...
19 Menteri Bergelar S3, Prabowo Tagih Kepintarannya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved