Kesetaraan Gender dalam Ber-KB
Senin, 10 Maret 2025 - 15:26 WIB
loading...
A
A
A
Berdasarkan data Kemendukbangga/BKKBN dari 61,7 persen pasangan usia subur sudah mengikuti program KB, tapi hanya 3,73 persen pria yang ber-KB menggunakan kondom dan vasektomi. Kendala kontrasepsi pada pria salah satunya karena ketersediaan pilihannya yang terbatas, baru ada kondom dan vasektomi. Mitos mengenai keperkasaan pria yang mengikuti program KB. Selain itu, pria takut ikut KB karena masih banyak yang percaya penggunaan KB membuat pria menjadi lemah syahwat atau tidak perkasa bahkan tak subur. Atau kalau pakai kondom katanya tidak enak. Padahal mitos tersebut adalah hal yang salah.
Stigma ini menjadi tantangan program KB pada pria di Indonesia. Padahal, peran ayah dalam program KB juga penting dalam membangun keluarga yang berkualitas. Ini sebagai salah satu upaya penurunan angka kelahiran, namun juga berkaitan dengan tujuan pemenuhan hak-hak reproduksi, maupun promosi, pencegahan dan penanganan masalah kesehatan reproduksi dan seksualitas, serta kesehatan dan kesejahteraan ibu dan bayi. Beberapa alasan klasik mengapa suami tidak mau ber-KB: larangan dari keluarga, kurang pengetahuan, kurang kesadaran, kurang informasi, metode kontrasepsi pria terbatas, kurang dukungan istri, kurang saran dan biaya serta adanya rumors yang membuat takut.
Padahal jika suami ber-KB maka dia sudah membantu untuk merencakan keluarga dengan mengendalikan kelahiran. Suami menyadari jumlah anak dianggap cukup, istri tidak cocok menggunakan jenis alat kontrasepsi apapun. Empati suami terhadap istri dan tidak ingin menambah beban istri (over burdent) dengan bertambahnya jumlah anak. Ini sebagai bukti suami sayang kepada istri dan ingin membebaskan istri dari ketergantungan pemakaian alat kontrasepsi.
Selayaknya pasangan suami dan istri secara bersama merencanakan jumlah dan jarak kelahiran anak dengan mempertimbangkan faktor usia, kesehatan, kesiapan mental dan ekonomi keluarga. Pembahasan dan upaya bersama ini, memposisikan istri tidak diabaikan dalam menentukan kesehatan reproduksinya. Ini merupakan wujud kesetaraan gender dalam keluarga dapat terwujud. Salah satu dari wujud kesetaraan gender dalam partisipasi keluarga adalah dalam pengambilan keputusan pemilihan metode kontrasepsi yang akan digunakan.
Stigma ini menjadi tantangan program KB pada pria di Indonesia. Padahal, peran ayah dalam program KB juga penting dalam membangun keluarga yang berkualitas. Ini sebagai salah satu upaya penurunan angka kelahiran, namun juga berkaitan dengan tujuan pemenuhan hak-hak reproduksi, maupun promosi, pencegahan dan penanganan masalah kesehatan reproduksi dan seksualitas, serta kesehatan dan kesejahteraan ibu dan bayi. Beberapa alasan klasik mengapa suami tidak mau ber-KB: larangan dari keluarga, kurang pengetahuan, kurang kesadaran, kurang informasi, metode kontrasepsi pria terbatas, kurang dukungan istri, kurang saran dan biaya serta adanya rumors yang membuat takut.
Padahal jika suami ber-KB maka dia sudah membantu untuk merencakan keluarga dengan mengendalikan kelahiran. Suami menyadari jumlah anak dianggap cukup, istri tidak cocok menggunakan jenis alat kontrasepsi apapun. Empati suami terhadap istri dan tidak ingin menambah beban istri (over burdent) dengan bertambahnya jumlah anak. Ini sebagai bukti suami sayang kepada istri dan ingin membebaskan istri dari ketergantungan pemakaian alat kontrasepsi.
Selayaknya pasangan suami dan istri secara bersama merencanakan jumlah dan jarak kelahiran anak dengan mempertimbangkan faktor usia, kesehatan, kesiapan mental dan ekonomi keluarga. Pembahasan dan upaya bersama ini, memposisikan istri tidak diabaikan dalam menentukan kesehatan reproduksinya. Ini merupakan wujud kesetaraan gender dalam keluarga dapat terwujud. Salah satu dari wujud kesetaraan gender dalam partisipasi keluarga adalah dalam pengambilan keputusan pemilihan metode kontrasepsi yang akan digunakan.
(zik)
Lihat Juga :