BMKG: Waspada Cuaca Ekstrem di Indonesia pada 4-11 Maret
Sabtu, 08 Maret 2025 - 15:17 WIB
loading...
A
A
A
"Peringatan dini bukan hanya sekadar informasi, tetapi juga seruan untuk tindakan nyata. Pemerintah daerah harus segera menindaklanjuti setiap peringatan dengan langkah mitigasi yang konkret agar dapat mengurangi korban jiwa dan kerugian materiil," ujarnya sebagaimana disampaikan pula oleh akun resmi BMKG @infobmkg.
Baca juga: BMKG Prediksi Puncak Hujan Ekstrem di Jabodetabek Terjadi pada 11-20 Maret 2025
Menurut Dwikorta, dalam beberapa hari terakhir, hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrem telah terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Kota Cirebon, Riau, Kabupaten Bogor, Kabupaten Mimika, Kabupaten Padang Pariaman, dan Kabupaten Manggarai. Dinamika atmosfer dan prospek cuaca selama tanggal 4-11 Maret 2025, yakni Gelombang atmosfer seperti Rossby Ekuatorial, Low Frequency, dan Kelvin diprediksi tetap aktif.
Lalu, terbentuknya sirkulasi siklonik di Samudra Hindia, tepatnya di barat Aceh, serta di selatan Papua yang menyebabkan perlambatan kecepatan angin atau konvergensi di berbagai perairan. Lalu, fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) yang masih aktif di Kepulauan Papua turut memperkuat dinamika atmosfer di kawasan timur Indonesia.
"BMKG telah menyebarkan informasi melalui berbagai kanal komunikasi, seperti website, aplikasi mobile, SMS, hingga media sosial," tutur Dwikorita lagi.
Baca juga: BMKG Prediksi Puncak Hujan Ekstrem di Jabodetabek Terjadi pada 11-20 Maret 2025
Menurut Dwikorta, dalam beberapa hari terakhir, hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrem telah terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Kota Cirebon, Riau, Kabupaten Bogor, Kabupaten Mimika, Kabupaten Padang Pariaman, dan Kabupaten Manggarai. Dinamika atmosfer dan prospek cuaca selama tanggal 4-11 Maret 2025, yakni Gelombang atmosfer seperti Rossby Ekuatorial, Low Frequency, dan Kelvin diprediksi tetap aktif.
Lalu, terbentuknya sirkulasi siklonik di Samudra Hindia, tepatnya di barat Aceh, serta di selatan Papua yang menyebabkan perlambatan kecepatan angin atau konvergensi di berbagai perairan. Lalu, fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) yang masih aktif di Kepulauan Papua turut memperkuat dinamika atmosfer di kawasan timur Indonesia.
"BMKG telah menyebarkan informasi melalui berbagai kanal komunikasi, seperti website, aplikasi mobile, SMS, hingga media sosial," tutur Dwikorita lagi.
Lihat Juga :