Ketum GP Ansor Ingatkan Waspada Ancaman Isu SARA: Stabilitas Ekonomi Harus Dijaga!
Senin, 24 Februari 2025 - 15:21 WIB
loading...
Ketua Umum Gerakan Pemuda (GP) Ansor Addin Jauharudin mengingatkan semua elemen bangsa untuk mewaspadai meningkatnya ancaman isu Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) di tengah dinamika geopolitik global. Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Ketua Umum Gerakan Pemuda (GP) Ansor Addin Jauharudin mengingatkan semua elemen bangsa untuk mewaspadai meningkatnya ancaman isu Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) di tengah dinamika geopolitik global, terutama setelah Indonesia bergabung dengan BRICS . Addin menyikapi analisis yang disampaikan oleh Jenderal TNI (Purn) A.M. Hendropriyono .
Dia menegaskan bahwa isu SARA bukan sekadar persoalan internal, tetapi juga bisa menjadi bagian dari strategi geopolitik negara-negara adidaya untuk melemahkan Indonesia, termasuk melalui perang dagang yang dapat merembet ke perpecahan sosial.
“Keanggotaan Indonesia dalam BRICS membawa peluang ekonomi baru, tetapi juga membuka ruang bagi tekanan dan intervensi asing. Sejarah menunjukkan bahwa negara-negara adidaya kerap menggunakan isu identitas, agama, dan etnis sebagai instrumen untuk menciptakan instabilitas di negara berkembang. Kita harus mewaspadai bahwa beberapa instrumen untuk meledakkan konflik berbasis SARA di Indonesia sudah mulai diaktifkan belakangan ini,” ujar Addin, Senin (24/2/2025).
Baca juga: Mengulik di Balik Ancaman Trump Tarif 100%, Mata Uang BRICS, dan Dedolarisasi
GP Ansor melihat bahwa polarisasi berbasis identitas semakin tajam, terutama melalui propaganda di media sosial dan infiltrasi ideologi transnasional. Jika dibiarkan, kondisi ini akan menghambat pertumbuhan ekonomi nasional yang saat ini sedang berupaya bangkit.
“Perang dagang antara kekuatan besar dunia bisa berdampak langsung pada stabilitas ekonomi Indonesia. Situasi ini bisa diperburuk jika isu SARA digunakan sebagai alat untuk melemahkan kepercayaan investor dan merusak persatuan nasional,” ujarnya.
Dia menegaskan bahwa isu SARA bukan sekadar persoalan internal, tetapi juga bisa menjadi bagian dari strategi geopolitik negara-negara adidaya untuk melemahkan Indonesia, termasuk melalui perang dagang yang dapat merembet ke perpecahan sosial.
“Keanggotaan Indonesia dalam BRICS membawa peluang ekonomi baru, tetapi juga membuka ruang bagi tekanan dan intervensi asing. Sejarah menunjukkan bahwa negara-negara adidaya kerap menggunakan isu identitas, agama, dan etnis sebagai instrumen untuk menciptakan instabilitas di negara berkembang. Kita harus mewaspadai bahwa beberapa instrumen untuk meledakkan konflik berbasis SARA di Indonesia sudah mulai diaktifkan belakangan ini,” ujar Addin, Senin (24/2/2025).
Baca juga: Mengulik di Balik Ancaman Trump Tarif 100%, Mata Uang BRICS, dan Dedolarisasi
GP Ansor melihat bahwa polarisasi berbasis identitas semakin tajam, terutama melalui propaganda di media sosial dan infiltrasi ideologi transnasional. Jika dibiarkan, kondisi ini akan menghambat pertumbuhan ekonomi nasional yang saat ini sedang berupaya bangkit.
“Perang dagang antara kekuatan besar dunia bisa berdampak langsung pada stabilitas ekonomi Indonesia. Situasi ini bisa diperburuk jika isu SARA digunakan sebagai alat untuk melemahkan kepercayaan investor dan merusak persatuan nasional,” ujarnya.
Lihat Juga :