Pengamat Nilai Positif Upaya PIS Dongkrak Kompetensi Pelaut Indonesia
Rabu, 05 Februari 2025 - 19:46 WIB
loading...
Capt Marcellus Hakeng Jayawibawa, pengamat maritim dari Ikatan Alumni Lemhannas Strategic Centre. Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Indonesia merupakan salah satu negara pengirim pelaut terbesar di dunia dengan lebih dari 200.000 pelaut yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Keunggulan utama pelaut Indonesia terletak pada pengalaman serta kemampuan yang mereka miliki.
Hal ini disampaikan Capt Marcellus Hakeng Jayawibawa, pengamat maritim dari Ikatan Alumni Lemhannas Strategic Centre.
Capt Marcellus Hakeng menjelaskan pelaut Indonesia dikenal punya etos kerja yang tinggi, kemampuan beradaptasi dalam lingkungan yang penuh tantangan, serta keterampilan diperoleh dari pengalaman bekerja di berbagai jenis kapal.
Baca juga: Akademi Maritim Nasional Bersama TNI-Polri Cetak Pelaut Profesional
Keunggulan ini menjadi daya tarik tersendiri yang membuat pelaut Indonesia diminati perusahaan pelayaran internasional. “Meskipun begitu, pelaut Indonesia seringkali belum memiliki kualifikasi yang sesuai dengan kebutuhan industri pelayaran internasional. Kondisi ini kerap menjadi batu sandungan bagi para pelaut Indonesia dalam bersaing di panggung global,” ujar Hakeng di Jakarta, Rabu (5/2/2025).
Tantangan utama yang dihadapi pelaut Indonesia bersaing di dunia internasional mencakup pengoperasian teknologi kapal modern serta penerapan prosedur keselamatan internasional yang ketat. Kemampuan nonteknis juga kerap jadi batu sandungan seperi bahasa, kepemimpinan, dan manajemen tim.
Untuk mengatasi hal tersebut, Hakeng menekankan pentingnya peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan di sektor maritim. Menurut dia, pelatihan yang lebih terstruktur dan berbasis teknologi dapat membantu pelaut Indonesia mengatasi kesenjangan.
Dia menilai upaya PT Pertamina International Shipping (PIS) lewat kolaborasinya dengan International Maritime Employers Council (IMEC) dan International Labor Organization (ILO) sebagai langkah efektif meningkatkan daya saing pelaut Indonesia.
Ke depannya kolaborasi ini akan menghadirkan program pelatihan manajerial berstandar internasional. Melalui program ini, diharapkan pelaut Indonesia dapat memiliki bekal cukup untuk untuk bersaing di panggung global.
"PIS memainkan peran kunci dalam memperluas jaringan internasional pelaut Indonesia untuk dapat bersaing di panggung internasional. Melalui kolaborasi ini, pelaut Indonesia bisa mendapatkan pelatihan komprehensif yang sesuai dengan tuntutan pasar internasional sekaligus memperoleh pengalaman langsung di lingkungan kerja global," ungkap Hakeng.
PIS juga turut berkontribusi dalam peningkatan kapasitas pelaut Indonesia melalui ekspansi bisnis ke pasar internasional dengan mengoptimalkan armada kapal modern dan ramah lingkungan. Langkah ini tidak hanya memperluas jaringan bisnis perusahaan, tetapi juga memberikan kesempatan bagi pelaut Indonesia untuk mengasah kompetensi mereka di tingkat global.
Dengan lebih dari 65 rute internasional yang dilayani armada PIS, pelaut Indonesia berkesempatan bekerja di berbagai wilayah dengan tantangan operasional beragam. Pengalaman ini sangat berharga dalam meningkatkan pemahaman mereka terhadap dinamika pasar pelayaran global serta memperkuat daya saing.
Hakeng menekankan untuk memperkuat kapasitas pelaut Indonesia diperlukan sinergi yang lebih baik antara pemerintah, industri pelayaran, dan lembaga pendidikan maritim.
Menurut dia, pemerintah sebagai pemangku kebijakan harus mendukung kebijakan pelatihan dengan memastikan bahwa infrastruktur pendidikan maritim di Indonesia dapat memenuhi kebutuhan industri.
“Pengembangan talenta masa depan pelaut Indonesia merupakan tugas bersama pemangku kepentingan di industri maritim nasional. Ke depannya, kolaborasi antara pemerintah, perusahaan pelayaran, dan lembaga pendidikan maritim akan menjadi kunci dalam memastikan pelaut Indonesia siap bersaing dan memberikan kontribusi signifikan bagi industri pelayaran global,” ujar Hakeng.
Hal ini disampaikan Capt Marcellus Hakeng Jayawibawa, pengamat maritim dari Ikatan Alumni Lemhannas Strategic Centre.
Capt Marcellus Hakeng menjelaskan pelaut Indonesia dikenal punya etos kerja yang tinggi, kemampuan beradaptasi dalam lingkungan yang penuh tantangan, serta keterampilan diperoleh dari pengalaman bekerja di berbagai jenis kapal.
Baca juga: Akademi Maritim Nasional Bersama TNI-Polri Cetak Pelaut Profesional
Keunggulan ini menjadi daya tarik tersendiri yang membuat pelaut Indonesia diminati perusahaan pelayaran internasional. “Meskipun begitu, pelaut Indonesia seringkali belum memiliki kualifikasi yang sesuai dengan kebutuhan industri pelayaran internasional. Kondisi ini kerap menjadi batu sandungan bagi para pelaut Indonesia dalam bersaing di panggung global,” ujar Hakeng di Jakarta, Rabu (5/2/2025).
Tantangan utama yang dihadapi pelaut Indonesia bersaing di dunia internasional mencakup pengoperasian teknologi kapal modern serta penerapan prosedur keselamatan internasional yang ketat. Kemampuan nonteknis juga kerap jadi batu sandungan seperi bahasa, kepemimpinan, dan manajemen tim.
Untuk mengatasi hal tersebut, Hakeng menekankan pentingnya peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan di sektor maritim. Menurut dia, pelatihan yang lebih terstruktur dan berbasis teknologi dapat membantu pelaut Indonesia mengatasi kesenjangan.
Dia menilai upaya PT Pertamina International Shipping (PIS) lewat kolaborasinya dengan International Maritime Employers Council (IMEC) dan International Labor Organization (ILO) sebagai langkah efektif meningkatkan daya saing pelaut Indonesia.
Ke depannya kolaborasi ini akan menghadirkan program pelatihan manajerial berstandar internasional. Melalui program ini, diharapkan pelaut Indonesia dapat memiliki bekal cukup untuk untuk bersaing di panggung global.
"PIS memainkan peran kunci dalam memperluas jaringan internasional pelaut Indonesia untuk dapat bersaing di panggung internasional. Melalui kolaborasi ini, pelaut Indonesia bisa mendapatkan pelatihan komprehensif yang sesuai dengan tuntutan pasar internasional sekaligus memperoleh pengalaman langsung di lingkungan kerja global," ungkap Hakeng.
PIS juga turut berkontribusi dalam peningkatan kapasitas pelaut Indonesia melalui ekspansi bisnis ke pasar internasional dengan mengoptimalkan armada kapal modern dan ramah lingkungan. Langkah ini tidak hanya memperluas jaringan bisnis perusahaan, tetapi juga memberikan kesempatan bagi pelaut Indonesia untuk mengasah kompetensi mereka di tingkat global.
Dengan lebih dari 65 rute internasional yang dilayani armada PIS, pelaut Indonesia berkesempatan bekerja di berbagai wilayah dengan tantangan operasional beragam. Pengalaman ini sangat berharga dalam meningkatkan pemahaman mereka terhadap dinamika pasar pelayaran global serta memperkuat daya saing.
Hakeng menekankan untuk memperkuat kapasitas pelaut Indonesia diperlukan sinergi yang lebih baik antara pemerintah, industri pelayaran, dan lembaga pendidikan maritim.
Menurut dia, pemerintah sebagai pemangku kebijakan harus mendukung kebijakan pelatihan dengan memastikan bahwa infrastruktur pendidikan maritim di Indonesia dapat memenuhi kebutuhan industri.
“Pengembangan talenta masa depan pelaut Indonesia merupakan tugas bersama pemangku kepentingan di industri maritim nasional. Ke depannya, kolaborasi antara pemerintah, perusahaan pelayaran, dan lembaga pendidikan maritim akan menjadi kunci dalam memastikan pelaut Indonesia siap bersaing dan memberikan kontribusi signifikan bagi industri pelayaran global,” ujar Hakeng.
(jon)
Lihat Juga :