Dipecat PDIP, Jokowi Berlabuh ke Partai Apa?
Kamis, 19 Desember 2024 - 13:34 WIB
loading...
A
A
A
"Saya pikir Pak Jokowi sekarang dalam tahap merenung untuk langkah beliau selanjutnya di politik. Kita tunggu saja langkah Pak Jokowi selanjutnya," tandas Sarmuji.
Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia juga bersuara soal pemecatan Jokowi oleh PDIP. "Golkar itu sangat inklusif. Golkar itu terbuka bagi semua anak bangsa yang pingin mengabdikan dirinya lewat politik lewat partai. Jadi Golkar sangat inklusif ya," kata Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (16/12/2024).
Bahlil menyebut bahwa Jokowi merupakan sosok tokoh dan negarawan. Meski begitu, dirinya masih menunggu perkembangan terkait bergabungnya Jokowi dan anak mantunya ke partai berlogo pohon beringin itu.
Baca Juga: Jokowi Dipecat dari PDIP, PPP Disarankan Pinang Jadi Ketua Umum
"Saya tahu Pak Jokowi adalah tokoh ya, negarawan. Jadi saya pikir kita lihat perkembangannya, dari apa yang menjadi respons ya," kata Bahlil.
Bahlil juga menyebut bahwa partai politik lain menginginkan tokoh potensial. Menurutnya, Jokowi masih memiliki dukungan dari banyak masyarakat.
"Pak Jokowi kan mantan presiden. Pasti punya apa ya, simpati yang banyak orang, dukungan yang banyak orang. Ya kita lihatlah," ujarnya.
Sementara, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengaku tidak ingin berkomentar terlalu jaug tentang pemecatan Jokowi tersebut. "Kita jaga situasi politik kita mengakhiri 2024 ini dengan baik," kata AHY di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (16/12/2024).
Saat ditanya apakah mengajak Jokowi gabung Partai Demokrat, AHY meresponnya dengan tersenyum. "Lebih baik tanya langsung ke Pak Jokowi," kata putra Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut.
Ketua DPP Partai Nasdem Willy Aditya menyatakan, partainya terbuka kepada Jokowi. "Ya, kita serahkan pada Pak Jokowi lah. Pak Jokowi lebih tahu bagaimana dinamika politik ini, mana yang paling nyaman untuk Pak Jokowi, monggo mawon Pak Jokowi, Nasdem terbuka, anytime," kata Willy kepada wartawan, dikutip Rabu (18/12/2024).
Analis Komunikasi Politik Hendri Satrio (Hensat) menyarankan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) meminang Jokowi untuk menjadi ketua umum.
Menurutnya, empat nama yang disebut masuk bursa calon Ketua Umum PPP kurang baik dibanding Jokowi. Diketahui, keempat nama yang disebut Ketua Majelis Pertimbangan PPP M Romahurmuziy masuk bursa pimpinan partai berlambang Ka'bah yakni Sandiaga Uno, Taj Yasin Maimoen, Saifullah Yusuf, dan Dudung Abdurachman.
"Dibanding empat nama tersebut, PPP sebaiknya mempertimbangkan nama Joko Widodo yang saat ini potensial untuk memimpin partai," kata Hensat dalam pernyataannya, Selasa (17/12/2024).
Hensat menilai, PPP saat ini lebih membutuhkan sosok besar untuk bisa kembali ke Senayan. "Dengan nama besar Pak Jokowi, diharapkan PPP bisa kembali ke Senayan, lebih dari 4 persen (parliamentary threshold)," katanya.
Tak hanya itu, Hensat juta menilai, PPP akan mendapatkan keuntungan lain jika meminang Jokowi sebagai ketua umum. Salah satunya, anak Jokowi yang menjabat Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka dinilai bisa jadi ikut bergabung ke PPP. Menurutnya, ini akan menjadi keuntungan tersendiri untuk PPP karena nantinya memiliki kader yang menjadi wakil presiden.
Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia juga bersuara soal pemecatan Jokowi oleh PDIP. "Golkar itu sangat inklusif. Golkar itu terbuka bagi semua anak bangsa yang pingin mengabdikan dirinya lewat politik lewat partai. Jadi Golkar sangat inklusif ya," kata Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (16/12/2024).
Bahlil menyebut bahwa Jokowi merupakan sosok tokoh dan negarawan. Meski begitu, dirinya masih menunggu perkembangan terkait bergabungnya Jokowi dan anak mantunya ke partai berlogo pohon beringin itu.
Baca Juga: Jokowi Dipecat dari PDIP, PPP Disarankan Pinang Jadi Ketua Umum
"Saya tahu Pak Jokowi adalah tokoh ya, negarawan. Jadi saya pikir kita lihat perkembangannya, dari apa yang menjadi respons ya," kata Bahlil.
Bahlil juga menyebut bahwa partai politik lain menginginkan tokoh potensial. Menurutnya, Jokowi masih memiliki dukungan dari banyak masyarakat.
"Pak Jokowi kan mantan presiden. Pasti punya apa ya, simpati yang banyak orang, dukungan yang banyak orang. Ya kita lihatlah," ujarnya.
Sementara, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengaku tidak ingin berkomentar terlalu jaug tentang pemecatan Jokowi tersebut. "Kita jaga situasi politik kita mengakhiri 2024 ini dengan baik," kata AHY di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (16/12/2024).
Saat ditanya apakah mengajak Jokowi gabung Partai Demokrat, AHY meresponnya dengan tersenyum. "Lebih baik tanya langsung ke Pak Jokowi," kata putra Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut.
Ketua DPP Partai Nasdem Willy Aditya menyatakan, partainya terbuka kepada Jokowi. "Ya, kita serahkan pada Pak Jokowi lah. Pak Jokowi lebih tahu bagaimana dinamika politik ini, mana yang paling nyaman untuk Pak Jokowi, monggo mawon Pak Jokowi, Nasdem terbuka, anytime," kata Willy kepada wartawan, dikutip Rabu (18/12/2024).
Analisis Pengamat
Analis Komunikasi Politik Hendri Satrio (Hensat) menyarankan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) meminang Jokowi untuk menjadi ketua umum.
Menurutnya, empat nama yang disebut masuk bursa calon Ketua Umum PPP kurang baik dibanding Jokowi. Diketahui, keempat nama yang disebut Ketua Majelis Pertimbangan PPP M Romahurmuziy masuk bursa pimpinan partai berlambang Ka'bah yakni Sandiaga Uno, Taj Yasin Maimoen, Saifullah Yusuf, dan Dudung Abdurachman.
"Dibanding empat nama tersebut, PPP sebaiknya mempertimbangkan nama Joko Widodo yang saat ini potensial untuk memimpin partai," kata Hensat dalam pernyataannya, Selasa (17/12/2024).
Hensat menilai, PPP saat ini lebih membutuhkan sosok besar untuk bisa kembali ke Senayan. "Dengan nama besar Pak Jokowi, diharapkan PPP bisa kembali ke Senayan, lebih dari 4 persen (parliamentary threshold)," katanya.
Tak hanya itu, Hensat juta menilai, PPP akan mendapatkan keuntungan lain jika meminang Jokowi sebagai ketua umum. Salah satunya, anak Jokowi yang menjabat Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka dinilai bisa jadi ikut bergabung ke PPP. Menurutnya, ini akan menjadi keuntungan tersendiri untuk PPP karena nantinya memiliki kader yang menjadi wakil presiden.
Lihat Juga :