Pengamat Duga Ada Kepentingan Terselubung dalam Program Kartu Prakerja

Sabtu, 02 Mei 2020 - 16:47 WIB
loading...
Pengamat Duga Ada Kepentingan...
Program Kartu Prakerja yang diluncurkan pemerintah hingga kini masih menimbulkan pro kontra di masyarakat. Foto/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Pelaksanaan program Kartu Prakerja terus menuai kritik dari masyarakat. Banyak pihak yang menilai program tersebut sarat masalah, sehingga pemerintah didesak untuk menghentikan program itu dan mengalihkan anggarannya untuk bantuan langsung tunai kepada masyarakat terdampak virus Corona. (Baca juga: Kartu Prakerja Didesain Tidak untuk Kondisi Pandemi Covid-19)

Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi menyatakan, sebenarnya pihak yang diuntungkan dalam program itu adalah penyedia modul pelatihan, bukan masyarakat yang terdampak Corona. (Baca juga: Penunjukan Tanpa Tender, DPR Desak KPK Usut Proyek Kartu Prakerja)

"Masyarakat tidak mendapat keuntungan dari program pelatihan Prakerja karena saat ini lebih perlu bantuan sosial langsung. Bukan pembelian modul pelatihan karena di Google banyak modul pelatihan gratis," kata Uchok, melalui pernyataan tertulis, Sabtu (2/4/2020).

Uchok menduga, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto tak mau mendengarkan kritik publik. Dia melihat, Kartu Prakerja menjadi tidak beres arahnya karena harga yang terlampau mahal dan pengawasan yang tidak jelas.

"Kalau enggak mau dibilang sumber masalah, batalkan dong program itu. Jika Menko Perekonomian ngotot melaksanakan, maka wajar kami menilai mungkin ada kepentingan terselubung. Pemerintah harus tahu kebutuhan rakyatnya, bukan mengakomodasi kepentingan pihak tertentu," imbuhnya.

Dugaan adanya konflik kepentingan dalam program Kartu Prakerja itu karena Airlangga ngotot melanjutkan program tersebut. Sementara, suara publik dan mayoritas fraksi di DPR yang menentang sudah terdengar jelas. "BPK bisa mengaudit pelaksanaan Kartu Prakerja yang berjalan tanpa melalui tender, dan bisa diketahui siapa paling diuntungkan dalam program itu," ungkapnya.

Maka itu, Uchok menyarankan sebaiknya pemerintah menghentikan pelaksanaan program pelatihan Kartu Prakerja senilai Rp5,6 triliun tersebut. Karena saat ekonomi masyarakat terdampak pandemi Corona yang dibutuhkan adalah bantuan langsung atau tunai, bukan pelatihan online dengan modul yang harganya mahal dan ukuran kualitasnya tidak jelas.

"Batalkan saja program Prakerja. Harusnya pemberian bantuan langsung dari Presiden bisa dicontoh daerah atau kementerian lainnya, bukan malah jualan modul pelatihan," tandasnya.
(cip)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Rekomendasi
Selalu Jadi Target Iran,...
Selalu Jadi Target Iran, Kuwait Beli Senjata Anti-Drone Senilai Rp36 Triliun dari AS
Gaung NBA Finals 2026...
Gaung NBA Finals 2026 Menghidupkan Atmosfer Basket Jakarta
Anneth Delliecia Antusias...
Anneth Delliecia Antusias Meriahkan Konser Tehillim - The Heart of Worship
Berita Terkini
DKPP Pecat Ketua Bawaslu...
DKPP Pecat Ketua Bawaslu Kabupaten Tambrauw karena Terbukti Masih Berstatus ASN
KPK Ungkap Tahapan yang...
KPK Ungkap Tahapan yang Harus Dilalui untuk Ekstradisi Tersangka E-KTP Paulus Tannos
Terima Kunjungan Sekjen...
Terima Kunjungan Sekjen ICAPP, PKB Perkuat Jembatan Diplomasi Politik dengan Korsel
Desak DPR Segera Bahas...
Desak DPR Segera Bahas Revisi UU Pemilu, Perindo: Libatkan Partai Nonparlemen
Prediksi Ada Reshuffle,...
Prediksi Ada Reshuffle, Pengamat: Prabowo Butuh Menteri Eksekutor dan Komunikator Ulung
Revisi UU Pemilu Belum...
Revisi UU Pemilu Belum Dibahas, Golkar Usul Prabowo Kumpulkan Ketum Parpol
Infografis
Skuad Timnas Inggris...
Skuad Timnas Inggris di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Liverpool
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved