Sekolah Harus Jadi Tempat Nyaman untuk Siswa, Bebas dari Intoleransi, Kekerasan, dan Bullying
Kamis, 14 November 2024 - 15:21 WIB
loading...
A
A
A
Seiring dengan itu, peran guru sangat penting dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman. Menurutnya, guru tidak hanya berperan sebagai pendidik akademis, tetapi juga sebagai pembimbing moral dan sosial bagi siswa. "Bapak/ibu guru adalah panutan bagi siswa. Kehadiran Anda sangat berarti untuk membimbing mereka, bukan hanya dalam hal akademis, tetapi juga dalam hal nilai-nilai sosial yang positif," tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua Barat, Abdul Fatah, S.Pd., MM., menegaskan pentingnya keterlibatan semua pihak, terutama para guru, dalam memerangi radikalisasi dan terorisme. "Terorisme adalah ancaman bagi negara, dan kita sebagai pemerintah, guru, dan masyarakat harus bersatu dalam memeranginya. Guru harus bisa mengenali tanda-tanda intoleransi dan radikalisasi yang muncul di lingkungan sekolah," ujarnya.
Abdul Fatah juga mengakui adanya tantangan besar dalam dunia pendidikan saat ini, salah satunya adalah adanya kekhawatiran dari orang tua atau keluarga terkait tindakan guru yang dianggap berisiko menimbulkan masalah hukum. Namun, ia menegaskan bahwa selama tindakan yang diambil untuk mendidik siswa tidak merugikan secara fisik atau fatal, guru seharusnya tidak perlu merasa khawatir.
Lebih lanjut, pelatihan bagi guru ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas mereka untuk mengenali, menangani, dan mencegah terjadinya perundungan dan intoleransi di sekolah. "Melalui pelatihan ini, mari kita wujudkan lingkungan sekolah di Papua Barat yang aman, ramah, dan penuh semangat toleransi. Guru harus ada di garda terdepan dalam membimbing generasi penerus bangsa," tambahnya.
Dalam acara tersebut, hadir pula sejumlah narasumber, termasuk Muhammad Abdullah Darraz, MA., M.Ud., Akademisi dari Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA, yang mengingatkan bahwa radikalisasi dan terorisme tidak pernah diajarkan di sekolah. Namun, ia menekankan pentingnya kewaspadaan dan peran aktif semua pihak di sekolah untuk mencegah paham-paham radikal.
"Jika kita berhasil mencegah radikalisasi, kita membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi negara yang lebih harmonis," ujar Darraz.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua Barat, Abdul Fatah, S.Pd., MM., menegaskan pentingnya keterlibatan semua pihak, terutama para guru, dalam memerangi radikalisasi dan terorisme. "Terorisme adalah ancaman bagi negara, dan kita sebagai pemerintah, guru, dan masyarakat harus bersatu dalam memeranginya. Guru harus bisa mengenali tanda-tanda intoleransi dan radikalisasi yang muncul di lingkungan sekolah," ujarnya.
Abdul Fatah juga mengakui adanya tantangan besar dalam dunia pendidikan saat ini, salah satunya adalah adanya kekhawatiran dari orang tua atau keluarga terkait tindakan guru yang dianggap berisiko menimbulkan masalah hukum. Namun, ia menegaskan bahwa selama tindakan yang diambil untuk mendidik siswa tidak merugikan secara fisik atau fatal, guru seharusnya tidak perlu merasa khawatir.
Lebih lanjut, pelatihan bagi guru ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas mereka untuk mengenali, menangani, dan mencegah terjadinya perundungan dan intoleransi di sekolah. "Melalui pelatihan ini, mari kita wujudkan lingkungan sekolah di Papua Barat yang aman, ramah, dan penuh semangat toleransi. Guru harus ada di garda terdepan dalam membimbing generasi penerus bangsa," tambahnya.
Dalam acara tersebut, hadir pula sejumlah narasumber, termasuk Muhammad Abdullah Darraz, MA., M.Ud., Akademisi dari Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA, yang mengingatkan bahwa radikalisasi dan terorisme tidak pernah diajarkan di sekolah. Namun, ia menekankan pentingnya kewaspadaan dan peran aktif semua pihak di sekolah untuk mencegah paham-paham radikal.
"Jika kita berhasil mencegah radikalisasi, kita membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi negara yang lebih harmonis," ujar Darraz.
Lihat Juga :