Gibran Curhat saat Jadi Wali Kota: Solo Dianggap Antek-antek China
Rabu, 13 November 2024 - 16:34 WIB
loading...
A
A
A
“Ini mungkin bapak ibu tahulah sebelumnya saya adalah Wali Kota solo. Mungkin yang belum pernah ke Solo mungkin pernah dengar juga kalau Solo itu kota yang agak kurang toleran, banyak sekali kejadian-kejadian seperti ini,” kata Gibran sambil menunjukkan layar.
Gibran kemudian menceritakan bahwa Pemerintah Kota Solo setiap tahun pada perayaan Imlek memasang ornamen seperti patung hingga shio, namun ketika dia menjabat banyak yang memprotesnya.
“Jadi kalau di Solo tiap tahun ada perayaan imlek, dan tiap tahun dari pemerintah memasang ornamen-ornamen imlek, patung-patung dari semua shio, tapi nggak tau ya kenapa pada saat saya menjabat itu banyak sekali yang protes,” ujar Gibran.
Padahal, lanjut Gibran, Wali Kota Solo sebelumya tidak pernah protes dengan kebijakan Pemerintah Kota untuk memasang ornamen saat Imlek. Bahkan, kata Gibran, setiap hari masyarakat protes hingga menyebut Solo merupakan cabang Tiongkok, juga disebut antek-antek atau pendukung China.
“Padahal wali kota sebelumnya ndak ada yang protes. Jadi ini tiap hari isinya protes terus. Ini Solo disebut sebagai cabang Tiongkok, antek-antek China,” pungkasnya.
Dalam kesempatan itu, Gibran menitipkan pesan kepada Persatuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) untuk menjaga toleransi tetap terjaga. Sehingga, tidak ada lagi benturan yang berujung konflik antar umat beragama dan kelompok. “Saya titip agar toleransi di Indonesia ini bisa tetap terjaga,” kata Gibran.
Gibran kemudian menceritakan bahwa Pemerintah Kota Solo setiap tahun pada perayaan Imlek memasang ornamen seperti patung hingga shio, namun ketika dia menjabat banyak yang memprotesnya.
“Jadi kalau di Solo tiap tahun ada perayaan imlek, dan tiap tahun dari pemerintah memasang ornamen-ornamen imlek, patung-patung dari semua shio, tapi nggak tau ya kenapa pada saat saya menjabat itu banyak sekali yang protes,” ujar Gibran.
Padahal, lanjut Gibran, Wali Kota Solo sebelumya tidak pernah protes dengan kebijakan Pemerintah Kota untuk memasang ornamen saat Imlek. Bahkan, kata Gibran, setiap hari masyarakat protes hingga menyebut Solo merupakan cabang Tiongkok, juga disebut antek-antek atau pendukung China.
“Padahal wali kota sebelumnya ndak ada yang protes. Jadi ini tiap hari isinya protes terus. Ini Solo disebut sebagai cabang Tiongkok, antek-antek China,” pungkasnya.
Gibran Titip Pesan agar Toleransi di Indonesia Tetap Terjaga
Dalam kesempatan itu, Gibran menitipkan pesan kepada Persatuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) untuk menjaga toleransi tetap terjaga. Sehingga, tidak ada lagi benturan yang berujung konflik antar umat beragama dan kelompok. “Saya titip agar toleransi di Indonesia ini bisa tetap terjaga,” kata Gibran.
Lihat Juga :