Batik, Identitas dan Warisan Budaya Indonesia yang Diakui Dunia
Minggu, 06 Oktober 2024 - 19:10 WIB
loading...
Pengrajin Batik Gentong, Bangkalan mengikuti pameran Inacraft 2024. Sebagai identitas dan warisan budaya bangsa, batik terus didorong eksis dan ekspansif. Foto SINDOnews/Anton Chrisbiyanto
A
A
A
JAKARTA - Upaya melestarikan batik sebagai identitas dan warisan budaya Indonesia terus dilakukan berbagai kalangan terutama para pengrajin batik. Beragam inovasi dilakukan agar ciri khas batik di beberapa daerah tidak punah.
baca juga: Dukung UMKM Batik, LPS Resmikan Rumah Batik Fractal di Sukabumi
Batik Gedog Tuban dan Batik Muria Kudus misalnya, yang terancam punah, kini dipopulerkan kembali oleh pengrajin-pengrajin lokal dengan melibatkan generasi muda. Para pengrajin batik khas Madura pun melakukan hal yang sama.
"Kami terus berupaya melakukan inovasi batik Gentong khas Bangkalan melalui sinergi dengan pengrajin dari daerah lain seperti Yogyakarta dan Tasikmalaya," ujar Wirabumi, Ketua Kelompok Pengrajin Batik Joko Tole saat ditemui di pameran Inacraft 2024 yang dihelat di JCC Senayan, Jakarta, Sabtu (5/10/2024).
Saat ini, kelompok atau paguyuban Pengrajin Batik Joko Tole asal Pulau Garam itu memiliki 125 anggota yang berasal dari kalangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Beragam tantangan khususnya terkait pemasaran harus dilalui.
Selama ini para pengrajin terkenal mahir di sisi hulu atau produksi. Namun, mengalami kendala di hilir yakni masalah manajemen pemasaran. "Beruntung kami mendapatkan pendampingan dan pembinaan sehingga bisa naik kelas dan ekspansi ke pasar global," imbuh Wirabumi.
Pelatihan dan pendampingan diberikan oleh Pertamina kepada para pengrajin di Kecamatan Tanjung Bumi, Bangkalan. "Kami mendapatkan coaching dari Pertamina sehingga berkembang. Kami juga meraih hibah berupa alat yang bisa dimanfaatkan sehingga bisa menciptakan lapangan pekerjaan baru," tuturnya.
baca juga: Dukung UMKM Batik, LPS Resmikan Rumah Batik Fractal di Sukabumi
Batik Gedog Tuban dan Batik Muria Kudus misalnya, yang terancam punah, kini dipopulerkan kembali oleh pengrajin-pengrajin lokal dengan melibatkan generasi muda. Para pengrajin batik khas Madura pun melakukan hal yang sama.
"Kami terus berupaya melakukan inovasi batik Gentong khas Bangkalan melalui sinergi dengan pengrajin dari daerah lain seperti Yogyakarta dan Tasikmalaya," ujar Wirabumi, Ketua Kelompok Pengrajin Batik Joko Tole saat ditemui di pameran Inacraft 2024 yang dihelat di JCC Senayan, Jakarta, Sabtu (5/10/2024).
Saat ini, kelompok atau paguyuban Pengrajin Batik Joko Tole asal Pulau Garam itu memiliki 125 anggota yang berasal dari kalangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Beragam tantangan khususnya terkait pemasaran harus dilalui.
Selama ini para pengrajin terkenal mahir di sisi hulu atau produksi. Namun, mengalami kendala di hilir yakni masalah manajemen pemasaran. "Beruntung kami mendapatkan pendampingan dan pembinaan sehingga bisa naik kelas dan ekspansi ke pasar global," imbuh Wirabumi.
Pelatihan dan pendampingan diberikan oleh Pertamina kepada para pengrajin di Kecamatan Tanjung Bumi, Bangkalan. "Kami mendapatkan coaching dari Pertamina sehingga berkembang. Kami juga meraih hibah berupa alat yang bisa dimanfaatkan sehingga bisa menciptakan lapangan pekerjaan baru," tuturnya.
Lihat Juga :