Prokontra Pembukaan Sekolah saat Pandemi Masih Melanda
Jum'at, 28 Agustus 2020 - 13:04 WIB
loading...
A
A
A
Pandangan berbeda diungkapkan oleh 50% responden lainnya. Mereka tidak setuju atas pembukaan sekolah di tengah pandemi meskipun sudah berstatus hijau dan kuning. Hal ini didasarkan dengan melihat risiko penularan yang masih sangat tinggi.(Baca juga: Sindiran Megawati ke KAMI Cuma 'Balas Pantun' Politik )
Bagi Ahadiyanto, seorang karyawan di Jakarta, jumlah kasus Covid-19 terus meningkat, sementara anak-anak menjadi kelompok yang rentan terhadap Covid-19.
“Anak-anak rentan sekali terhadap penularan penyakit ini karena mereka sering abai terhadap proteksi diri khususnya penggunaan alat pelindung seperti masker. Sering lupa cuci tangan juga kalau sudah main,” ujarnya.
Meski demikian, kalaupun sekolah terpaksa dibuka, maka 93% responden setuju untuk menerapkan sistem masuk sekolah secara bergilir. Wisnu, salah satu responden asal Bekasi menyebut sistem gilir bisa dilakukan dengan cara membatasi jumlah siswa yang masuk dengan membagi jadwal dalam beberapa sesi. Dengan demikian jarak fisik tetap terjaga.
![Prokontra Pembukaan Sekolah saat Pandemi Masih Melanda]()
Selain itu sekolah juga tidak perlu memaksakan untuk tetap menerapkan jam belajar ideal seperti pada waku kondisi normal. Sebanyak 90% responden setuju untuk menerapkan kebijakan mengurangi jam sekolah.
Terpenting adalah pihak sekolah harus bisa memastikan agar protokol kesehatan bisa berjalan secara ketat. Terlebih mengatur serta memberi pengertian kepada anak-anak untuk mematuhi protokol kesehatan pastinya akan lebih sulit dibandingkan jika aktivitas itu diterapkan pada orang dewasa.
Pola komunikasi yang tepat serta pengawasan yang ketat menjadi kunci utama mengatasi persoalan ini.
Bagi Ahadiyanto, seorang karyawan di Jakarta, jumlah kasus Covid-19 terus meningkat, sementara anak-anak menjadi kelompok yang rentan terhadap Covid-19.
“Anak-anak rentan sekali terhadap penularan penyakit ini karena mereka sering abai terhadap proteksi diri khususnya penggunaan alat pelindung seperti masker. Sering lupa cuci tangan juga kalau sudah main,” ujarnya.
Meski demikian, kalaupun sekolah terpaksa dibuka, maka 93% responden setuju untuk menerapkan sistem masuk sekolah secara bergilir. Wisnu, salah satu responden asal Bekasi menyebut sistem gilir bisa dilakukan dengan cara membatasi jumlah siswa yang masuk dengan membagi jadwal dalam beberapa sesi. Dengan demikian jarak fisik tetap terjaga.

Selain itu sekolah juga tidak perlu memaksakan untuk tetap menerapkan jam belajar ideal seperti pada waku kondisi normal. Sebanyak 90% responden setuju untuk menerapkan kebijakan mengurangi jam sekolah.
Terpenting adalah pihak sekolah harus bisa memastikan agar protokol kesehatan bisa berjalan secara ketat. Terlebih mengatur serta memberi pengertian kepada anak-anak untuk mematuhi protokol kesehatan pastinya akan lebih sulit dibandingkan jika aktivitas itu diterapkan pada orang dewasa.
Pola komunikasi yang tepat serta pengawasan yang ketat menjadi kunci utama mengatasi persoalan ini.
(dam)
Lihat Juga :