Merdeka Berpikir
Jum'at, 28 Agustus 2020 - 06:30 WIB
loading...
Asep Sumaryana
A
A
A
Asep Sumaryana
Kepala Departemen Administrasi Publik FISIP-Unpad
BERPIKIR memang bisa bebas menembus ruang dan waktu. Namun, mewujudkan hasilnya pastilah terikat ruang dan waktu itu sendiri. Di dalamnya ada etika dan nilai yang berlaku di suatu tempat atau kurun waktu tertentu. Untuk mewujudkannya, hasil berpikir perlu diuji dan didiskusikan agar tidak melabrak kaidah yang ada. Tidak heran jika aspek kritis, skeptis, analitis dan objektif menjadi bagian dari diskusi tersebut agar hasil berpikirnya diterima banyak pihak.
Dalam kehidupan kampus, dikenal lama kebebasan mimbarnya. Tentu saja dengan aktivitas seperti itu, kampus menjadi lembaga yang independen dan netral yang sanggup memberikan solusi atas masalah yang ada. Boleh jadi pemikiran akademisi lebih keras ketimbang Jerinx yang berbuntut kasus. Namun, karena ada media dialog, pemikiran yang melangit pun diturunkan ke daratan agar membumi. Dosen dan mahasiswa menjadi aktor penting dalam kemerdekaan seperti itu. Tugas dosennya mendorong kemampuan anak asuhnya dengan cara andragogi. Di situlah letak pengasuhan sambil diasah dan dikasihi agar berbuat pemikiran cerdas.
Mentor
Berpikir seperti di atas memang perlu mentor yang bertugas mengarahkan dari kesesatan berpikir itu sendiri. Jika Mintzberg (1991) menuntut tanggung jawab sosial, maka mentor itulah yang mengarahkan agar hasil pemikirannya tidak kebablasan. Cara berpikir tersebut dilakukan untuk menemukan temuan baru dalam kebuntuan praktik di lapangan. Tidak heran jika dalam penta helix, akademisi menjadi bagian tidak terpisahkan dengan komponen lainnya. Peningkatan karier jabatan kebirokrasian juga sudah menuntut studi lanjutan, bukan untuk memperoleh tambahan gelar, namun untuk me-refresh cara berpikir yang baru dan gemilang.
Pemikiran yang baru berkaitan dengan riset. Suriasumantri (1985) menyebutnya untuk memberikan solusi dari masalah yang ada. Ketika masalah yang dihadapi semakin beragam, maka pemikiran diarahkan untuk mencari solusinya, sedangkan ketika sudah given dan tidak dipertentangkan, maka jangan membangunkan macan tidur. Persoalan, polusi, kekeringan, pangan, pandemi, dan kehidupan ekonomi lainnya menuntut pemikiran jernih ketimbang mengorek ideologi yang telah tegak.
Kepala Departemen Administrasi Publik FISIP-Unpad
BERPIKIR memang bisa bebas menembus ruang dan waktu. Namun, mewujudkan hasilnya pastilah terikat ruang dan waktu itu sendiri. Di dalamnya ada etika dan nilai yang berlaku di suatu tempat atau kurun waktu tertentu. Untuk mewujudkannya, hasil berpikir perlu diuji dan didiskusikan agar tidak melabrak kaidah yang ada. Tidak heran jika aspek kritis, skeptis, analitis dan objektif menjadi bagian dari diskusi tersebut agar hasil berpikirnya diterima banyak pihak.
Dalam kehidupan kampus, dikenal lama kebebasan mimbarnya. Tentu saja dengan aktivitas seperti itu, kampus menjadi lembaga yang independen dan netral yang sanggup memberikan solusi atas masalah yang ada. Boleh jadi pemikiran akademisi lebih keras ketimbang Jerinx yang berbuntut kasus. Namun, karena ada media dialog, pemikiran yang melangit pun diturunkan ke daratan agar membumi. Dosen dan mahasiswa menjadi aktor penting dalam kemerdekaan seperti itu. Tugas dosennya mendorong kemampuan anak asuhnya dengan cara andragogi. Di situlah letak pengasuhan sambil diasah dan dikasihi agar berbuat pemikiran cerdas.
Mentor
Berpikir seperti di atas memang perlu mentor yang bertugas mengarahkan dari kesesatan berpikir itu sendiri. Jika Mintzberg (1991) menuntut tanggung jawab sosial, maka mentor itulah yang mengarahkan agar hasil pemikirannya tidak kebablasan. Cara berpikir tersebut dilakukan untuk menemukan temuan baru dalam kebuntuan praktik di lapangan. Tidak heran jika dalam penta helix, akademisi menjadi bagian tidak terpisahkan dengan komponen lainnya. Peningkatan karier jabatan kebirokrasian juga sudah menuntut studi lanjutan, bukan untuk memperoleh tambahan gelar, namun untuk me-refresh cara berpikir yang baru dan gemilang.
Pemikiran yang baru berkaitan dengan riset. Suriasumantri (1985) menyebutnya untuk memberikan solusi dari masalah yang ada. Ketika masalah yang dihadapi semakin beragam, maka pemikiran diarahkan untuk mencari solusinya, sedangkan ketika sudah given dan tidak dipertentangkan, maka jangan membangunkan macan tidur. Persoalan, polusi, kekeringan, pangan, pandemi, dan kehidupan ekonomi lainnya menuntut pemikiran jernih ketimbang mengorek ideologi yang telah tegak.