Merdeka Berpikir
Jum'at, 28 Agustus 2020 - 06:30 WIB
loading...
A
A
A
Aura akademisi harus tetap terpancar dalam setiap insan di dalamnya. Hasil riset pun tidak sebatas prestise diri yang publish di jurnal bereputasi, namun harus memberikan manfaat dalam kehidupan bersama. Tidak boleh juga gelar akademiknya dijadikan tiket untuk perlombaan akses dalam kekuasaan di negeri ini. Bila perkembangan terakhir terjadi, bisa jadi perguruan tinggi memasuki masa decline-nya Isaac (1972) sehingga perkiraan akan menjadi kuburan massal berpotensi terjadi.
Merdeka berpikir mestinya dianggap upaya menghindari pandemi pragmatisme. Tidak heran bila fondasinya berada pada kemauan untuk bisa berkreasi dalam berpikirnya. Dengan cara tersebut, mahasiswa dirangsang melakukan hal tersebut untuk mengkritisi, menganalisis, dan menskeptiskan sebelum dilahirkan silogismenya. Kehadiran dosen diposisikan untuk menjadi mentor, memfasilitasi dan mengawal agar aura akademik kembali bersinar.
Pelibatan stakeholder pendidikan menjadi penting untuk mencermati aktivitas mentransfer ilmu dari mentor ke gemblengannya. Bisa jadi ada mentor yang memerdekakan implementasi pikirannya secara membabi buta. Untuk itulah pagar agama yang diaktori agamawan harus hadir memberikan kontribusi. Boleh jadi ada budaya yang dicerabut dari akarnya sehingga budayawan turut kontribusi untuk memberikan argumentasi kulturalnya. Mungkin juga ada ungkapan pemikirannya bersifat provokatif, maka media turut memberikan kontrol konstruktifnya. Dengan demikian, merdeka berpikir tidak melanggar etika dan nilai yang berlaku sehingga mampu memberikan solusi cerdas atas sejumlah masalah anak manusia dan bangsa ini.
Merdeka berpikir mestinya dianggap upaya menghindari pandemi pragmatisme. Tidak heran bila fondasinya berada pada kemauan untuk bisa berkreasi dalam berpikirnya. Dengan cara tersebut, mahasiswa dirangsang melakukan hal tersebut untuk mengkritisi, menganalisis, dan menskeptiskan sebelum dilahirkan silogismenya. Kehadiran dosen diposisikan untuk menjadi mentor, memfasilitasi dan mengawal agar aura akademik kembali bersinar.
Pelibatan stakeholder pendidikan menjadi penting untuk mencermati aktivitas mentransfer ilmu dari mentor ke gemblengannya. Bisa jadi ada mentor yang memerdekakan implementasi pikirannya secara membabi buta. Untuk itulah pagar agama yang diaktori agamawan harus hadir memberikan kontribusi. Boleh jadi ada budaya yang dicerabut dari akarnya sehingga budayawan turut kontribusi untuk memberikan argumentasi kulturalnya. Mungkin juga ada ungkapan pemikirannya bersifat provokatif, maka media turut memberikan kontrol konstruktifnya. Dengan demikian, merdeka berpikir tidak melanggar etika dan nilai yang berlaku sehingga mampu memberikan solusi cerdas atas sejumlah masalah anak manusia dan bangsa ini.
(ras)